Tablet di kisaran Rp2 jutaan kini tidak lagi identik dengan perangkat seadanya. Di kelas ini, konsumen mulai menemukan layar besar, memori lega, dan performa yang lebih siap untuk kebutuhan harian.
Perubahan itu membuat tablet murah kembali relevan bagi pelajar, mahasiswa, pekerja hybrid, dan pengguna rumahan yang butuh perangkat kedua selain smartphone. Di tengah kebutuhan belajar daring, rapat virtual, dan konsumsi konten, nilai pakainya terasa semakin masuk akal.
Infinix XPAD WiFi menawarkan kombinasi yang sulit diabaikan
Salah satu model yang menonjol adalah Infinix XPAD WiFi 4GB/256GB. Tablet ini membawa layar IPS LCD 11 inci dengan resolusi Full HD+ dan refresh rate 90Hz, sehingga navigasi terasa lebih mulus dibanding panel 60Hz standar.
Di sektor performa, perangkat ini mengandalkan MediaTek Helio G99 berbasis fabrikasi 6 nanometer. Kombinasi tersebut diarahkan untuk memberi keseimbangan antara efisiensi daya dan kemampuan menjalankan kebutuhan belajar, mengedit dokumen, hingga hiburan ringan.
Daya tarik terbesarnya ada pada penyimpanan 256GB. Kapasitas itu memberi ruang lebih lega untuk foto, video, dan file kerja tanpa cepat kehabisan memori.
| Model | Layar | Chipset | Penyimpanan |
|---|---|---|---|
| Infinix XPAD WiFi 4GB/256GB | IPS LCD 11 inci, Full HD+, 90Hz | MediaTek Helio G99, 6 nm | 256GB |
Konektivitas jadi pembeda penting di kelas ini
Selain spesifikasi inti, konektivitas menjadi pertimbangan besar untuk tablet harga terjangkau. Sejumlah model di kelas Rp2 jutaan sudah mendukung 4G LTE, sehingga pengguna tidak selalu bergantung pada WiFi.
Fitur itu relevan bagi mahasiswa yang sering berpindah tempat, pekerja lapangan, dan pengguna yang butuh akses internet kapan saja. Dengan kartu SIM, tablet bisa dipakai untuk kelas online, konferensi video, dan akses dokumen berbasis cloud dengan lebih praktis.
Dalam beberapa tahun terakhir, jaringan seluler di tablet semakin dicari karena pola kerja makin fleksibel. Bagi banyak pengguna, 4G LTE kini bukan lagi bonus, melainkan kebutuhan.
Tablet murah makin dekat ke perangkat produktivitas
Tablet murah juga mulai dipakai sebagai perangkat produktivitas, bukan sekadar alat hiburan. Dengan keyboard Bluetooth atau stylus yang dijual terpisah, pengguna bisa mengetik dokumen, membuat presentasi, dan mengikuti rapat daring.
Arah ini menunjukkan perubahan strategi produsen yang tidak lagi hanya mengejar konsumsi konten. Persaingan dengan laptop entry-level yang makin ketat ikut mendorong tablet murah tampil lebih serbaguna dan lebih ringan dibawa.
Pilihan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan
Meski banyak model terlihat menarik, keputusan membeli tetap harus menyesuaikan kebutuhan utama. Jika fokusnya ada pada penyimpanan file yang besar, kapasitas memori layak diprioritaskan.
Sebaliknya, bagi pengguna yang sering bekerja di luar rumah, model dengan 4G LTE memberi fleksibilitas lebih tinggi. Di segmen ini, kombinasi layar besar, memori lega, dan konektivitas seluler menjadi faktor yang paling menentukan nilai pakai.
Persaingan di kelas tablet terjangkau juga semakin ketat karena merek seperti Infinix, Samsung, Xiaomi, Huawei, hingga HONOR mulai menghadirkan spesifikasi yang sebelumnya lebih sering muncul di kelas menengah. Akibatnya, batas antara tablet entry-level dan kelas menengah kini semakin tipis.
Ke depan, produsen diperkirakan akan terus mendorong kapasitas RAM dan penyimpanan yang lebih besar, sambil menambah efisiensi daya dan pengalaman multitasking yang lebih baik. Kondisi ini membuat tablet budget Rp2 jutaan semakin menarik bagi konsumen yang mencari perangkat terjangkau namun tetap fungsional.







