
SpaceX akhirnya membawa Starship V3 terbang ke angkasa untuk pertama kalinya lewat Flight 12, sebuah uji yang langsung menegaskan satu hal: program roket terbesar perusahaan itu masih terus bergerak maju. Meski penerbangan ini belum sempurna, debut Starship V3 memberi gambaran yang jauh lebih jelas tentang arah pengembangan kendaraan yang disiapkan untuk misi Bulan dan Mars.
Peluncuran dilakukan dari pad kedua baru di Starbase, Texas Selatan, dengan liftoff pada pukul 6.30 malam EDT. Roket setinggi 408 kaki atau 124 meter itu menjalani misi suborbital ke-12, sekaligus menjadi penerbangan Starship pertama sejak Oktober 2025.
Debut generasi baru yang lebih dekat ke misi operasional
Starship V3 hadir sebagai generasi baru dengan desain yang dirombak total. SpaceX menyiapkan versi ini untuk mendekatkan Starship ke misi operasional, termasuk kebutuhan terbang ke Bulan dan Mars.
Perubahan pada V3 juga terlihat di area sambungan antartahap. Tidak seperti V2, V3 memakai perangkat keras serupa di bagian atas booster agar tahap atas punya ruang lebih aman saat mesin mulai menyala dan menghasilkan dorongan awal.
Tahap pemisahan terjadi sekitar 2 menit 20 detik setelah lepas landas saat Super Heavy melakukan hot staging. Dalam skema ini, Ship menyalakan mesin sebelum benar-benar terpisah dari booster.
Tidak mulus, tapi tetap berhasil menembus ruang angkasa
Flight 12 memperlihatkan sisi paling ekstrem dari roket raksasa SpaceX. Salah satu dari 33 mesin Raptor di tahap pertama Super Heavy mati saat lepas landas, lalu satu dari enam mesin utama di tahap atas Ship 39 juga hilang saat menanjak.
Meski begitu, kendaraan tetap mencapai ruang angkasa dengan lima mesin yang tersisa, menurut komentar langsung SpaceX. Di momen itu, Dan Huot dari SpaceX menegaskan lewat siaran langsung, “That is a Starship in space.”
Setelah pemisahan, Super Heavy sempat mencoba boostback burn selama satu menit untuk kembali mengarah ke Starbase. Namun, manuver itu tidak selesai sesuai rencana dan booster tidak kembali seperti yang diharapkan.
SpaceX sebelumnya pernah menangkap booster dengan lengan mekanis “chopstick” di menara peluncuran Starbase. Pada Flight 12, perusahaan memilih splashdown lunak di Teluk Meksiko untuk mengurangi risiko kerusakan pad pada penerbangan perdana perangkat keras baru.
Muatan Starlink ikut diuji di jalur suborbital
Selama penerbangan, SpaceX membawa 22 muatan untuk dilepaskan dari Ship. Komposisinya terdiri dari 20 versi dummy satelit internet Starlink dan dua satelit Starlink sungguhan yang dilengkapi sensor pencitraan.
Muatan-muatan itu dilepaskan sesuai rencana dalam rentang sekitar 10 menit, dimulai sekitar 17 menit setelah peluncuran melalui pintu payload yang digambarkan mirip dispenser “PEZ”. Dua satelit modifikasi itu bertugas memeriksa ubin pelindung panas Starship untuk menilai potensi kerusakan sebelum reentry.
Tak lama setelah dua simulator Starlink terakhir dilepas, SpaceX menayangkan video dramatis yang direkam saat melayang menjauh dari Starship. Rekaman itu menjadi salah satu visual paling mencolok dari penerbangan ini.
Uji penting yang tertunda di ruang angkasa
SpaceX sebenarnya menyiapkan satu demonstrasi penting lain, yaitu penyalaan ulang salah satu mesin Raptor Ship di ruang angkasa. Uji itu dirancang untuk membuktikan bahwa Starship bisa melakukan manuver andal dalam kondisi tanpa gravitasi, termasuk untuk kebutuhan misi Bulan, Mars, dan kemungkinan pemulangan kembali ke Bumi.
Namun, karena satu mesin hilang saat peluncuran, tes penyalaan ulang di orbit dibatalkan untuk Flight 12. Meski begitu, Ship tetap melanjutkan fase berikutnya dan mulai turun kembali ke atmosfer Bumi sekitar 50 menit setelah penerbangan dimulai.
Saat reentry, bagian bawah kapal tertutup plasma terang saat kendaraan menanggung serangkaian manuver untuk menguji batas struktural. Ship 39 juga melakukan manuver banking baru yang meniru orientasi yang dibutuhkan untuk penangkapan oleh menara saat kembali ke Starbase.
Pendaratan akhir berlangsung dramatis. Ship menyalakan dua mesin untuk landing burn terakhir, lalu terbalik dan meledak di perairan laut dalam, yang sejak awal memang direncanakan sebagai akhir penerbangan.
Langkah maju yang masih menyisakan pekerjaan besar
Flight 12 tidak menghasilkan lompatan yang sepenuhnya revolusioner, tetapi tetap penting karena menunjukkan bahwa V3 mampu menjalankan sebagian besar profil penerbangan yang direncanakan. SpaceX juga sempat mengalami masalah saat pengujian build V3 pada November tahun lalu, yang berujung pada hilangnya booster Super Heavy yang awalnya disiapkan untuk misi ini.
Kehadiran NASA di Starbase menambah bobot teknis dan politik dari peluncuran tersebut. Kepala NASA Jared Isaacman datang langsung untuk menyaksikan penerbangan dan kemudian menulis bahwa Starship V3 adalah “one step closer to the Moon … one step closer to Mars.”
NASA menjadikan Starship sebagai salah satu pendarat bulan berawak untuk program Artemis. Badan antariksa itu juga bekerja sama dengan Blue Origin lewat Blue Moon, dengan target Artemis 3 pada pertengahan hingga akhir 2027 untuk misi ke orbit Bulan, sebelum pendaratan bulan pertama Artemis 4 pada akhir 2028.
Masih ada beberapa syarat besar yang harus dibuktikan Starship V3 sebelum siap membawa astronaut. Di antaranya adalah in-space refueling, penerbangan yang benar-benar mencapai orbit Bumi penuh, dan pendaratan bulan tanpa awak.
Elon Musk pernah menulis bahwa ia berharap V3 bisa terbang dengan frekuensi “once a week” dalam kira-kira 12 bulan. Setelah jeda lebih dari tujuh bulan dari penerbangan sebelumnya, Flight 12 menunjukkan SpaceX kembali bergerak, tetapi jalan menuju ritme peluncuran yang sangat tinggi masih panjang.





