Spektrum Jadi Penghambat Utama, Indonesia Belum Punya Ruang Cukup untuk 6G

Author: Cung Media

Indonesia masih harus menyiapkan satu fondasi besar sebelum masuk ke era 6G, dan masalah utamanya ada pada spektrum. Komdigi menilai kebutuhan jaringan generasi baru itu jauh lebih besar, sementara pita frekuensi yang tersedia belum mampu menampungnya.

Kondisi itu membuat langkah menuju 6G tidak sesederhana peningkatan jaringan dari generasi sebelumnya. Tanpa ruang spektrum yang memadai, kapasitas layanan digital di masa depan berisiko tertahan sebelum benar-benar berkembang.

Spektrum yang tersedia masih di bawah kebutuhan 6G

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Adis Alifiawan, menyebut 6G membutuhkan spektrum berkapasitas 200 MHz. Hingga sekarang, belum ada satu pita frekuensi pun yang bisa memenuhi kebutuhan sebesar itu.

Dalam lelang frekuensi terbaru, pemerintah melepas pita 700 MHz dengan kapasitas 70 MHz dan 2,6 GHz dengan kapasitas 190 MHz. Kapasitas terbesar dari lelang itu pun masih belum mencapai 200 MHz, sehingga belum cukup untuk menopang satu operator 6G secara penuh.

Frekuensi Kapasitas Keterangan
700 MHz 70 MHz Baru dilelang pemerintah
2,6 GHz 190 MHz Menjadi kapasitas terbesar dalam lelang terbaru
Kebutuhan 6G 200 MHz Masih belum terpenuhi oleh pita yang ada

Adis menggambarkan kebutuhan itu seperti “garasi” yang jauh lebih besar untuk menampung trafik 6G. Analogi tersebut menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal ruang frekuensi yang tersedia.

Mid-band dinilai paling ideal untuk 6G

Komdigi menilai peluncuran frekuensi baru yang paling ideal untuk 6G berada di mid-band. Low-band disebut bukan pilihan yang tepat karena bandwidth-nya kecil dan jangkauannya pendek.

Penjelasan itu disampaikan Adis dalam Seminar dan Workshop Mastel di Jakarta, Kamis (9/7/2026). Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa kapasitas jaringan harus ikut tumbuh agar trafik 6G bisa ditampung dengan baik.

AI dan trafik data ikut mendorong kebutuhan

Komdigi juga melihat 6G berkaitan erat dengan perkembangan AI. Menurut Adis, jika penggunaan AI terus meningkat, kebutuhan jaringan 6G akan ikut menguat untuk menopangnya.

Namun dorongan itu tidak datang dari AI saja. Bahkan tanpa use case baru, pertumbuhan kebutuhan dari layanan yang sudah ada tetap akan meningkatkan permintaan mobile connectivity, sampai akhirnya kapasitas jaringan yang tersedia terasa terbatas.

Karena itu, tambahan spektrum menjadi syarat penting agar layanan digital di masa depan tidak tersendat. Tanpa kapasitas yang cukup, jaringan akan kesulitan mengimbangi pertumbuhan trafik yang terus naik dari waktu ke waktu.

Masalah spektrum kini menjadi salah satu pekerjaan rumah utama bagi Indonesia jika ingin mengejar 6G. Selama ruang frekuensi belum disiapkan lebih besar, jalan menuju generasi jaringan berikutnya masih akan bergantung pada ketersediaan kapasitas yang memadai.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru