Spanyol menutup Piala Dunia 2026 dengan sebuah pesan kuat tentang masa depan mereka. Saat La Roja mengangkat trofi setelah menang 1-0 atas Argentina, dua pemain berusia 19 tahun, Lamine Yamal dan Pau Cubarsi, berdiri sebagai bagian penting dari keberhasilan tersebut.
Kemenangan di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Amerika Serikat, itu memberi Spanyol gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah. Pencapaian tersebut terasa semakin mencolok karena Yamal dan Cubarsi sudah memiliki pengalaman menjadi juara dunia di usia yang sangat muda.
Ferdinand Soroti Pencapaian Dua Pemain Muda
Rio Ferdinand menaruh perhatian khusus pada perjalanan kedua pemain Barcelona itu bersama tim nasional Spanyol. Mantan pemain tim nasional Inggris tersebut menilai koleksi gelar Yamal dan Cubarsi pada usia 19 tahun sebagai sesuatu yang luar biasa.
Dalam komentar yang dikutip Barca Universal, Ferdinand menekankan pencapaian Yamal di level klub maupun internasional. “Lamine Yamal kini telah memenangkan Piala Dunia, Kejuaraan Eropa untuk Spanyol & 2 Gelar Liga untuk Barcelona,” kata Ferdinand.
Ferdinand juga memberi pujian serupa kepada Cubarsi, yang ikut mengantar Spanyol menjadi juara dunia. “Pau Cubarsí kini telah memenangkan Piala Dunia & 2 gelar Liga untuk Barcelona,” tambah legenda Manchester United itu.
Pujian tersebut tidak berhenti pada jumlah trofi yang telah diraih keduanya. Ferdinand melihat kematangan Yamal dan Cubarsi sebagai alasan kuat untuk menilai masa depan sepak bola Spanyol berada dalam kondisi menjanjikan.
“Keduanya berusia 19 tahun, masa depan sepak bola Spanyol sangat cerah. Wow! Selamat,” tegas Ferdinand. Pernyataan itu muncul setelah keduanya mengambil peran berbeda, tetapi sama-sama penting, dalam perjalanan La Roja sepanjang turnamen.
Peran Berbeda dalam Skuad Juara
Yamal menjadi salah satu sumber ancaman Spanyol dari sektor serang melalui pergerakan dan mobilitasnya. Ia memang tidak disebut sebagai pencetak gol atau pemberi assist terbanyak dalam beberapa pekan terakhir, tetapi kerja kerasnya membantu membuka alur serangan tim.
Perannya juga terasa ketika Spanyol menghadapi Argentina pada partai puncak. Pergerakan Yamal dinilai mampu menarik perhatian pertahanan lawan, sehingga memberi ruang bagi permainan menyerang Spanyol.
Di sisi lain, Cubarsi menjalankan tugas yang sangat berbeda di jantung pertahanan. Bek muda itu menjadi bagian dari lini belakang Spanyol yang sulit ditembus sepanjang kompetisi.
Menurut bola.kompas.com, pertahanan Spanyol hanya kemasukan satu gol selama Piala Dunia 2026. Ketangguhan tersebut ikut mengantarkan Cubarsi meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik.
| Pemain | Usia | Peran yang Disorot | Pencapaian |
|---|---|---|---|
| Lamine Yamal | 19 tahun | Ancaman di lini serang dan pembuka ruang | Piala Dunia, Kejuaraan Eropa, 2 gelar liga bersama Barcelona |
| Pau Cubarsi | 19 tahun | Pilar di jantung pertahanan | Piala Dunia, 2 gelar liga bersama Barcelona, Pemain Muda Terbaik |
Final 1-0 yang Menegaskan Ketahanan Spanyol
Final Piala Dunia 2026 berlangsung ketat dan berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Spanyol. Laga tersebut dimainkan pada Senin, 20 Juli 2026 dini hari WIB, dengan Argentina gagal mencetak gol hingga pertandingan selesai.
Ketahanan sektor belakang menjadi salah satu elemen utama dalam kemenangan itu. Spanyol mampu menjaga keunggulan hingga peluit akhir, sementara Cubarsi menjadi bagian dari fondasi pertahanan yang membawa mereka ke puncak.
Keberhasilan La Roja tidak hanya bertumpu pada satu lini permainan. Kombinasi ancaman Yamal di depan, ketenangan Cubarsi di belakang, serta penerapan taktik yang matang membentuk fondasi perjalanan Spanyol menuju gelar.
Bagi Yamal dan Cubarsi, gelar ini menjadi pencapaian awal yang sangat menonjol dalam karier internasional mereka. Pada usia 19 tahun, keduanya sudah memiliki pengalaman di panggung terbesar sepak bola dunia sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Spanyol memiliki generasi penerus yang menjanjikan.
Source: bola.kompas.com






