
SpaceX kembali mengundang sorotan setelah mengumumkan rencana misi private Starship pertama ke Mars dengan Chun Wang sebagai kapten ekspedisi. Namun, rencana itu masih berada di wilayah ambisi besar, karena waktu keberangkatannya belum jelas dan teknologi yang dibutuhkan belum terbukti.
Pengumuman tersebut muncul di tengah pembatalan peluncuran Starship V3. Alih-alih menghadirkan penerbangan uji yang dinantikan, momen itu justru diikuti kabar tentang misi sipil yang lebih jauh dan lebih berisiko: flyby ke Mars tanpa pendaratan.
Misi Mars tanpa jadwal pasti
SpaceX dan Chun Wang belum mengumumkan kapan misi itu akan dimulai. Yang sejauh ini disebutkan hanya perkiraan durasi perjalanan sekitar dua tahun dan bahwa misi tersebut tidak dirancang untuk mendarat di Mars.
Status ini membuat misi tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan Starship. SpaceX belum memiliki Starship yang terbukti mampu menjalankan skenario seperti itu, apalagi untuk membawa awak dan kembali ke Bumi dengan aman.
Chun Wang, dari kripto ke antariksa
Nama Chun Wang mungkin lebih dikenal dari dunia kripto ketimbang dari industri antariksa. Ia mulai menanjak setelah menemukan Bitcoin pada 2011, saat masih menjadi lulusan putus kuliah dan sempat bekerja di berbagai pekerjaan pemrograman perangkat lunak.
Wang kemudian meminjam 40.000 dolar AS dari ayahnya untuk berinvestasi di Bitcoin. Setelah beberapa langkah awal yang belum berhasil, ia ikut mendirikan F2Pool pada 2013, salah satu operasi penambangan Bitcoin pertama di Tiongkok, yang kemudian tumbuh menjadi penambang Bitcoin terbesar di dunia.
Pada 2018, Wang meluncurkan platform penambangan kripto lain bernama Stakefish. Ketika Tiongkok melarang Bitcoin pada 2021 dan pasar kripto ikut terguncang, Wang disebut sudah lebih dulu mengumpulkan kekayaan besar.
Jejak Wang di penerbangan swasta
Wang juga bukan sosok asing di penerbangan antariksa privat. Sebelumnya, ia ikut dalam misi Fram2 yang menggunakan kapsul SpaceX Dragon dan roket Falcon 9 untuk terbang melewati kedua kutub Bumi.
Pengalaman itu membuat penunjukannya sebagai kapten ekspedisi Mars terasa lebih konkret. Namun, latar belakang tersebut belum mengubah fakta bahwa misi ke Mars masih jauh lebih kompleks dibanding penerbangan privat sebelumnya.
Masih jauh dari pembuktian teknis
SpaceX belum menjalankan penerbangan berawak dengan Starship. Artinya, rencana menuju Mars masih berada jauh di depan kemampuan yang sudah teruji secara operasional.
Riwayat ambisi antariksa sipil SpaceX juga menunjukkan bahwa target besar sering meleset dari jadwal awal. Pada 2018, miliarder Jepang Yusaku Maezawa memesan tempat untuk dirinya dan delapan warga sipil lain terbang ke Bulan dengan Starship, tetapi ia membatalkan rencananya pada 2025 setelah menandatangani kontrak dengan asumsi penerbangan berlangsung pada 2023.
Hingga 2026, SpaceX belum meluncurkan Starship yang mampu mencapai Bulan. Satu bagian roket SpaceX memang akan menghantam Bulan pada akhir tahun ini, tetapi itu adalah segmen yang dibuang dari Falcon 9, bukan wahana antariksa utuh.
Visi lebih dulu, bukti menyusul
Penunjukan Chun Wang membuat SpaceX tampak semakin serius membuka jalan bagi penerbangan sipil ke planet merah. Tetapi rencana itu tetap bertumpu pada Starship yang belum terbukti, baik untuk misi berawak maupun untuk perjalanan pulang.
Karena itu, misi private ke Mars saat ini lebih tepat dibaca sebagai visi jangka panjang ketimbang jadwal yang sudah matang. Selama Starship belum menuntaskan tonggak yang lebih dekat, seperti perjalanan berawak ke Bulan, misi seperti ini masih harus dipandang sebagai target jauh.





