Sony membuka babak baru di kamera ponsel lewat LYTIA L910, sensor pertama yang membawa teknologi LOFIC. Langkah ini langsung menarik perhatian karena fokus utamanya ada pada dua area yang paling sering jadi masalah di ponsel, yaitu foto malam dan rentang dinamis.
Sensor ini tidak hanya mengandalkan resolusi 50MP. Sony menempatkan LOFIC bersama sistem pemrosesan yang dirancang untuk menekan noise, menjaga detail, dan mencegah sorotan mudah meledak saat cahaya sulit dikendalikan.
LOFIC dan dampaknya di sensor ponsel
LOFIC adalah singkatan dari Lateral Overflow Integration Capacitor. Teknologi ini bekerja dengan menampung kelebihan muatan listrik dari piksel ketika cahaya yang masuk terlalu tinggi.
Secara sederhana, mekanisme itu membantu mengurangi risiko detail hilang di area terang. Pada kamera ponsel, sorotan yang terlalu kuat sering membuat foto tampak overexposed, sehingga kehadiran LOFIC diarahkan untuk mengatasi titik lemah tersebut.
LYTIA L910 menggunakan sensor berukuran 1/1,28 inci dengan ukuran piksel 1,22 μm. Ukuran ini memang tidak sebesar sensor 1 inci seperti IMX989, tetapi Sony menempatkan LOFIC sebagai nilai utama untuk mengejar hasil yang lebih kuat di kondisi pemotretan yang sulit.
HDR lebih stabil dan video tetap ringan
Sony juga memasangkan LOFIC dengan Triple Conversion Gain HDR. Sistem ini membaca informasi dari tiga titik konversi gain secara terpisah dalam satu eksposur.
Tujuannya jelas, yaitu menekan noise, mengurangi pemotongan sorotan, serta meminimalkan flicker dan artefak lain saat merekam video di cahaya rendah. Sony menyebut noise sensor ini 30% lebih rendah dibandingkan LYTIA 828.
Di sisi video, LYTIA L910 disebut mampu merekam 4K HDR pada 60 FPS. Sony juga mengklaim performanya tetap baik tanpa membebani baterai ponsel secara berlebihan.
Vivo dan OPPO disebut sebagai kandidat awal
Meski Sony memasok sensor ke banyak produsen ponsel, perangkat pertama yang disebut bakal memakai LYTIA L910 justru bukan iPhone atau Galaxy. Rumor yang beredar mengarah ke Vivo X500 series dan OPPO Find X10 series sebagai calon awal.
Kedua lini itu diperkirakan meluncur tahun ini dan bisa menjadi panggung pembuktian pertama untuk sensor baru tersebut. Jika benar hadir lebih dulu di ponsel China, hasilnya akan menjadi acuan awal untuk melihat seberapa jauh klaim Sony terasa dalam pemakaian harian.
Pola ini juga sejalan dengan arah pasar kamera flagship yang selama ini banyak bertumpu pada sensor Sony. Xiaomi, OPPO, Vivo, dan sejumlah merek lain sudah lama mengandalkan sensor Sony untuk lini kelas atas mereka.
Dynamic range 100 dB jadi kartu utama
Sony menyebut LYTIA L910 memiliki rentang dinamis hingga 100 dB dari satu eksposur. Angka ini penting karena kamera ponsel sering kesulitan saat menghadapi adegan dengan kontras tinggi, seperti langit senja, lampu kota, atau pemandangan malam yang penuh sumber cahaya.
Dengan LOFIC, overexposure di area terang dan underexposure di area gelap diharapkan bisa berkurang. Detail di bayangan juga berpeluang tampil lebih baik, sementara peralihan cahaya terlihat lebih natural.
Bagi pengguna yang sering memotret malam hari, kombinasi ini berpotensi memberi perubahan nyata. Selama ini, tantangan terbesar kamera ponsel memang ada pada keterbatasan dynamic range ketika sensor kecil harus mengelola banyak tingkat cahaya sekaligus.
iPhone kemungkinan menyusul, tetapi belum pasti kapan
Sensor ini pada akhirnya diperkirakan juga akan hadir di iPhone karena Apple memakai silikon Sony untuk kamera flagship-nya. Namun, waktu kemunculannya belum bisa dipastikan dan belum ada kepastian soal jadwalnya.
Karena itu, gelombang awal teknologi LOFIC kemungkinan besar lebih dulu dirasakan pengguna Android. Jika implementasinya berhasil, LYTIA L910 berpeluang membuka standar baru untuk kamera ponsel premium dan mendorong adopsi yang lebih luas di masa depan.
