Sony A7 V Tergeser Kamera 3 Tahun, A7C II Lama Justru Kembali Tak Terkalahkan

Sony A7 V sempat terlihat seperti raja baru di pasar kamera Jepang, tetapi posisinya kini digeser oleh Sony A7C II yang usianya sudah tiga tahun. Data penjualan terbaru Yodobashi menunjukkan kamera full-frame mirrorless yang lebih lama itu kembali merebut posisi pertama di daftar best-seller paruh kedua April.

Perubahan ini menegaskan satu hal penting di pasar ritel: model yang lebih baru tidak selalu menang. A7 V memang sempat mendominasi chart penjualan Jepang selama enam pekan berturut-turut, tetapi A7C II kembali naik ke puncak setelah sebelumnya juga kuat di posisi No.1 sejak awal 2026.

A7C II kembali unggul di pasar Jepang

Kembalinya A7C II ke posisi teratas bukan kejutan besar bagi pasar Jepang. Kamera ini memang sering muncul di jajaran kamera terlaris sepanjang 2025 di berbagai retailer, dan posisinya kerap bergantian di puncak daftar.

Kondisi itu juga terlihat saat A7C II kembali mengungguli kamera yang lebih baru, termasuk Hasselblad X2D II 100C. Bagi pembeli di ritel, riwayat penjualan seperti ini menunjukkan bahwa produk yang sudah mapan masih punya daya tarik kuat.

Deretan 10 besar menunjukkan persaingan ketat

Daftar terbaru Yodobashi memperlihatkan persaingan yang rapat di segmen mirrorless. Sony, Canon, Fujifilm, Nikon, dan Hasselblad sama-sama masuk ke jajaran 10 kamera terlaris.

Urutan yang tercatat adalah Sony A7C II + FE 28+60mm f/4-5.6, Sony A7 V, Hasselblad X2D II 100C, Canon EOS R10 + RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM, Fujifilm X-T30 III + XC13-13mm, Canon EOS R50 + RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM + RF-S 55-210mm f/5-7.1 IS STM, Fujifilm X-M5 + XC15-45mmF3.5-5.6 OIS PZ, Canon EOS R6 Mark III, Nikon Z8, dan Canon EOS R5 Mark II.

Komposisi ini menunjukkan bahwa pasar kamera Jepang masih sangat terbuka. Pembeli tidak hanya mengejar spesifikasi tinggi, tetapi juga paket yang dianggap paling bernilai di etalase toko.

Mengapa A7C II tetap diminati

Daya tarik utama A7C II terletak pada kombinasi performa dan bentuk bodi yang ringkas. Kamera ini membawa sensor full-frame Exmor R 33MP, autofocus deteksi subjek berbasis AI, stabilisasi in-body 7-stop, perekaman video 4K 60p 10-bit 4:2:2, dan performa low-light yang kuat.

Seluruh kemampuan itu dibungkus dalam bodi yang ramah dibawa bepergian. Bobotnya hanya 514 gram, sehingga kamera ini tetap menarik bagi pengguna yang ingin perangkat serba bisa tanpa harus membawa bodi yang lebih besar.

Harga ikut menentukan pilihan pembeli

Di Jepang, harga masih menjadi faktor besar dalam peringkat penjualan. A7C II dibanderol $2,498 / £1,999, sementara Sony A7 V berada di $2,898 / £2,799.

Selisih harga itu membuat A7C II terlihat lebih atraktif di mata pembeli yang mencari nilai lebih baik. Kamera ini juga sudah menawarkan AF canggih, kualitas gambar tinggi, dan kemampuan video yang solid, sehingga sebagian pengguna belum merasa perlu naik ke model yang lebih baru.

Bundel dan stok turut mengubah peringkat

Peringkat penjualan di Yodobashi juga sangat dipengaruhi oleh paket lensa, penawaran bundel, dan cashback. Faktor-faktor itu sering memberi keuntungan pada model yang sudah mapan seperti A7C II.

Selain promosi, perubahan stok dan permintaan bisa menggeser urutan penjualan dalam waktu singkat. BCN mencatat bahwa meningkatnya permintaan internasional terhadap model Sony yang lebih baru dapat memengaruhi ketersediaan stok A7 V.

Situasi itu membuat posisi puncak di chart Jepang bisa berubah cepat. Untuk saat ini, A7C II kembali memimpin, sementara A7 V harus menunggu peluang berikutnya untuk merebut kembali posisi No.1.

Terkait