Belanja Gen Z Jakarta Nyaris Rp12 Juta, Iuran Kesehatan Justru Sering Ditunda

Author: Cung Media

Rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta yang mendekati Rp12 juta per bulan menunjukkan daya beli yang relatif besar. Namun, iuran perlindungan kesehatan masih kerap ditempatkan sebagai pengeluaran yang bisa ditunda.

Kontras ini penting bagi keberlanjutan pembiayaan kesehatan karena kepesertaan yang luas belum selalu diikuti pembayaran iuran secara rutin. Risiko sakit yang terasa jauh bagi kelompok usia muda dapat membuat perlindungan kesehatan kalah prioritas dibanding kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup.

Daya Beli Tinggi Belum Menjadi Prioritas Perlindungan

Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan lebih dari separuh pengeluaran Gen Z Jakarta dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan. Pos seperti kopi, hiburan, langganan digital, layanan pesan-antar makanan, dan pengeluaran gaya hidup lebih mudah diterima sebagai kebutuhan rutin.

Di sisi lain, iuran kesehatan dengan nilai yang lebih kecil dapat dipandang sebagai biaya yang belum mendesak. Pola tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan finansial tidak selalu sejalan dengan keputusan untuk menjaga kepesertaan kesehatan tetap aktif.

Indikator Data
Rata-rata pengeluaran Gen Z Jakarta Mendekati Rp12 juta per bulan
Cakupan kepesertaan JKN Sekitar 98,45 persen penduduk Indonesia
Total peserta JKN nonaktif Sekitar 53,7 juta peserta

Cakupan Jaminan Kesehatan Nasional telah mencapai sekitar 98,45 persen penduduk Indonesia. Meski demikian, data BPJS Kesehatan mencatat sekitar 53,7 juta peserta berada dalam status nonaktif.

Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 38,5 juta peserta nonaktif tanpa tunggakan dan 15,2 juta peserta yang menunggak iuran. Angka itu menunjukkan persoalan kepesertaan tidak hanya berkaitan dengan akses awal untuk terdaftar, tetapi juga konsistensi mempertahankan status aktif.

Kemampuan Membayar Berbeda dengan Kemauan Membayar

Dalam ekonomi kesehatan, ability to pay merujuk pada kapasitas finansial seseorang untuk membayar iuran. Sementara itu, willingness to pay menggambarkan kesediaan seseorang mengalokasikan uang karena menilai perlindungan kesehatan sebagai kebutuhan penting.

Pendapatan atau daya beli yang meningkat tidak otomatis membuat seseorang lebih patuh membayar iuran. Keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh persepsi manfaat, literasi kesehatan, pengalaman layanan, persepsi terhadap risiko sakit, serta kepercayaan pada sistem.

Penelitian Syamsu Hidayat dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta melibatkan lebih dari 4.000 pekerja sektor informal usia produktif di 15 kabupaten dan kota. Studi itu menemukan sekitar 18 persen peserta JKN tidak aktif dan tidak membayar secara rutin.

Temuan tersebut menempatkan kemauan membayar sebagai faktor yang lebih menentukan daripada sekadar besarnya pendapatan. Bagi kelompok yang merasa masih sehat, risiko penyakit dapat dipersepsikan sebagai masalah yang belum perlu dipikirkan sekarang.

Pengalaman Layanan Menentukan Kepercayaan

Kajian sistematis global oleh Ewunetje Bayked yang dipublikasikan di Frontiers Public Health pada 2024 menyoroti sejumlah faktor yang berkaitan dengan kemauan membayar. Literasi kesehatan, pengalaman positif saat memakai layanan, kepercayaan kepada institusi, dan kesadaran bahwa sakit bisa dialami siapa saja menjadi faktor penting.

Kelompok usia lebih muda disebut cenderung memiliki willingness to pay yang lebih rendah. Salah satu penyebabnya ialah anggapan bahwa kondisi tubuh yang masih sehat membuat perlindungan kesehatan terasa kurang mendesak.

Status Peserta Nonaktif JKN Jumlah
Nonaktif tanpa tunggakan 38,5 juta peserta
Nonaktif karena menunggak iuran 15,2 juta peserta
Total peserta nonaktif 53,7 juta peserta

Ulasan health.kompas.com menekankan bahwa komunikasi mengenai tingginya angka kepesertaan saja belum cukup untuk mengubah perilaku pembayaran kelompok muda. Generasi muda urban cenderung lebih responsif terhadap pengalaman personal ketika membutuhkan layanan kesehatan.

Kepercayaan kepada BPJS Kesehatan dapat tumbuh bila peserta merasakan akses yang mudah, pelayanan yang adil, serta kepastian manfaat. Sebaliknya, pengalaman layanan yang tidak meyakinkan dapat membuat iuran dipandang sebagai beban ketimbang perlindungan.

Tantangan pembiayaan kesehatan bukan semata menjawab apakah Gen Z mampu membayar iuran. Perlindungan kesehatan perlu dipahami sebagai aset untuk menjaga produktivitas, karier, dan kualitas hidup sebelum risiko penyakit benar-benar datang.

Terbaru