Di Tebet, Jakarta Selatan, sebuah warung sederhana yang sempat terhenti kini kembali bergerak lebih kuat. Siti Zulfah membuktikan bahwa usaha kecil bisa bangkit ketika mendapat dukungan yang tepat.
Usaha yang dulu hanya bertumpu pada nasi uduk dan ayam geprek itu kini berkembang menjadi sumber penghidupan keluarga. Selain makanan, Siti juga menjual kopi kekinian yang membantu menarik lebih banyak pelanggan di sekitar Jalan Asem Baris Gang X Nomor 11.
Tekanan berat sebelum usaha pulih
Perjalanan Siti tidak mulus. Pandemi Covid-19 membuat pendapatan menurun, suaminya kehilangan pekerjaan, lalu kondisi keluarga makin sulit saat sang suami sakit paru-paru dan harus menjalani dua kali operasi.
Di tengah tekanan ekonomi itu, Siti harus mengambil keputusan berat. Ia menggadaikan cincin pernikahan untuk membayar sekolah anak dan mencari pinjaman dari keluarga agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Situasi tersebut membuat usahanya sempat berhenti cukup lama. Selama masa pengobatan suami, Siti lebih banyak mendampingi keluarga sambil menahan roda ekonomi agar tidak semakin jatuh.
UMiMAX Pertamina membuka jalan baru
Harapan baru datang ketika Siti mendapat informasi tentang Program UMiMAX Pertamina pada 2025. Program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) ini ditujukan untuk membantu masyarakat rentan membangun kembali sumber penghidupan melalui usaha ultra mikro.
Bantuan yang diterima tidak berhenti pada modal. Siti juga memperoleh pelatihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas bisnis agar usahanya bisa berjalan lebih stabil.
Saat lolos seleksi, ia mendapatkan gerobak usaha, peralatan penyajian, perlengkapan operasional, hingga bahan baku kopi. Siti mengaku sempat kaget karena bantuan yang diterimanya jauh lebih lengkap dari yang ia bayangkan.
Belajar kopi modern dari nol
Karena belum punya pengalaman mengelola usaha kopi modern, Siti sempat ragu untuk ikut. Namun, penjelasan bahwa program itu juga memberi bimbingan praktik membuatnya berani melangkah.
Melalui pelatihan, ia belajar membuat kopi kekinian dengan takaran yang tepat dan rasa yang konsisten. Pembina program disebut memberi arahan dengan telaten, termasuk saat menjelaskan pembuatan hot americano dan ukuran air yang harus digunakan.
Bekal itu membuat menu dagangannya berkembang. Kini, ia tidak hanya menjual nasi uduk dan ayam geprek, tetapi juga kopi kekinian, mi instan, seblak, mi nyemek, dan pilihan lain yang lebih sesuai dengan selera pelanggan sekitar.
Promosi dilakukan dengan cara sederhana melalui WhatsApp, lingkungan sekitar, dan bantuan keluarga yang ikut mengenalkan produknya kepada rekan kerja.
Omzet naik dan beban keluarga mulai terangkat
Dampak paling terasa muncul pada pendapatan usaha. Sebelumnya, omzet mingguan Siti kerap berada di bawah Rp 2 juta, bahkan kadang hanya sekitar Rp 1 juta dalam sepekan.
Setelah usaha berkembang, omzet kotor rata-rata naik menjadi sekitar Rp 6 juta per minggu. Pada periode tertentu, pendapatannya bahkan sempat menembus Rp 10 juta dalam sepekan.
Kenaikan itu membantu keluarga Siti melunasi utang yang sempat dipakai untuk biaya sekolah dan pengobatan. Salah satu momen yang paling berarti baginya adalah saat ia akhirnya bisa menebus cincin pernikahan yang dulu digadaikan.
Dampak program bagi pelaku usaha ultra mikro
Secara keseluruhan, Program UMiMAX Pertamina telah mendukung 168 pelaku usaha ultra mikro dengan total dana hibah mencapai Rp 1,17 miliar. Dari program itu, para mitra disebut berhasil membukukan total omzet Rp 2,75 miliar dan laba usaha sebesar Rp 858 juta.
Bagi Siti, manfaat terbesar program ini bukan hanya tambahan modal, melainkan kesempatan untuk bangkit dari masa terpuruk. Pendampingan yang diterima memberi dorongan teknis sekaligus psikologis agar usaha bisa berjalan lebih stabil.
Siti berharap kesempatan seperti ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Dari warung kecil yang sempat terhenti, ia kini melihat usahanya sebagai sumber semangat baru untuk bertahan dan membangun kembali kehidupan keluarga.
