Silo Nuklir Perang Dingin Jadi Pusat Data AI, Perebutan Masa Depan Ada di Energi

Bekas silo rudal nuklir era Perang Dingin di Colorado kini memasuki fase baru yang sangat berbeda dari fungsi awalnya. Seorang entrepreneur Australia, Nik Halik, mengubah fasilitas bawah tanah itu menjadi pusat data untuk kebutuhan komputasi AI, dengan visi memanfaatkan struktur tua yang dulu dirancang untuk perang menjadi infrastruktur digital bernilai tinggi.

Halik membeli situs nonaktif itu dari pemerintah Amerika Serikat pada 2021 dengan harga lebih dari $10 juta. Renovasi besar-besaran yang dijalankan kemudian diperkirakan menelan biaya hingga $30 juta, sebuah angka yang menunjukkan skala ambisi proyek ini di tengah lonjakan kebutuhan pusat data untuk kecerdasan buatan.

Dari rudal nuklir ke mesin komputasi

Silo itu dibangun pada 1959 dengan biaya $47 juta, atau setara sekitar $350 juta dalam nilai saat ini. Fasilitas tersebut dulu dipakai untuk menampung, memberi daya, dan berpotensi meluncurkan rudal nuklir Titan I yang mampu membawa hulu ledak sejauh lebih dari 6.000 mil, menurut National Park Service.

Kompleks ini memiliki luas sekitar 200.000 kaki persegi dan berada 165 kaki di bawah permukaan tanah. Jaringan terowongannya membentang sepanjang 4.500 kaki, sehingga memberi ruang besar untuk mengakomodasi sistem server, pendingin, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Halik menyebut dirinya sebagai “value-facturer” dan melihat bangunan bawah tanah sebagai aset yang bisa meningkatkan nilai jika dikembangkan ulang. Pandangan itu sejalan dengan tren baru yang mulai memandang bunker, tambang, dan silo lama sebagai lahan potensial untuk industri teknologi.

Mengapa AI melirik lokasi bawah tanah

Kebutuhan pusat data AI terus meningkat karena beban komputasi yang besar dan tuntutan keamanan yang tinggi. Lokasi bawah tanah menawarkan keuntungan alami, terutama suhu yang stabil dan lingkungan yang lebih terlindungi dari gangguan eksternal.

Silo di Colorado disebut memiliki suhu sekitar 52 derajat Fahrenheit bahkan saat musim panas. Kondisi seperti ini penting karena pendinginan server bisa menghabiskan porsi besar listrik operasional, dan Pew Research Center pernah melaporkan bahwa di beberapa pusat data, lebih dari 30% listrik digunakan hanya untuk menjaga server tetap dingin.

Berikut alasan situs semacam ini menarik bagi operator pusat data:

  1. Struktur bawah tanah lebih aman dari gangguan luar.
  2. Suhu alami lebih rendah sehingga membantu efisiensi pendinginan.
  3. Ruang besar memudahkan penempatan server dan sistem pendukung.
  4. Infrastruktur lama bisa diadaptasi untuk kebutuhan energi dan keamanan modern.

Halik juga menegaskan bahwa AI memerlukan daya besar dan lingkungan yang aman. Ia menyebut fasilitas itu dapat beroperasi sepenuhnya dari dalam kompleks, tanpa bergantung pada jaringan listrik umum.

Jejak perang masih tertinggal

Meski disesuaikan untuk teknologi modern, banyak elemen asli silo masih dipertahankan. Ruang kontrol, kubah daya, ruang peluncur, dan dinding beton bertulang baja masih terlihat di beberapa bagian fasilitas.

Salah satu bagian terkuat dikabarkan mampu menahan ledakan nuklir, dengan dinding berlapis beton bertulang yang pada setiap inci perseginya dapat menahan tekanan sekitar 15.000 pound. Di ruang kontrol, para operator dulu menunggu perintah dari Pentagon untuk meluncurkan rudal yang nilainya 300 kali lebih kuat dari bom Hiroshima.

Halik dan timnya juga menemukan artefak sejarah di dalam bunker, termasuk kertas berisi kode peluncuran, waktu, dan prosedur operasi rudal. Temuan itu memperlihatkan betapa kuatnya lapisan sejarah yang masih melekat pada proyek ini.

Biaya, risiko, dan masa depan industri

Renovasi fasilitas ini tidak berjalan mulus karena ada banyak risiko keselamatan. Halik mengungkap bahaya di basement, mulai dari pecahan logam berkarat, kabel longgar, hingga paparan sianida, cat timbal, merkuri, dan asbes.

Proyek tersebut juga menjadi perhatian karena menunjukkan arah baru industri pusat data. Iron Mountain, misalnya, sudah lama memakai bekas tambang batu kapur di Pennsylvania untuk pemrosesan dan penyimpanan data di fasilitas sedalam 220 kaki dan seluas 40 acre.

Halik belum mengungkap perusahaan mana yang tertarik memakai fasilitasnya. Namun, proyek ini menegaskan bahwa bekas situs perang kini bisa berubah menjadi aset strategis baru, ketika kebutuhan energi, keamanan, dan kapasitas komputasi AI semakin menentukan arah investasi teknologi.

Terkait