
SIG memanfaatkan forum INTERCEM Asia 2026 untuk membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan pelaku global di sektor bahan bangunan. Di ajang ini, perusahaan menekankan penguatan inovasi produk, rantai pasok berkelanjutan, dan transformasi bisnis yang lebih dekat dengan kebutuhan pelanggan.
Langkah itu muncul di tengah pandangan bahwa peluang industri bahan bangunan masih sangat besar. Wakil Direktur Utama SIG, Andriano Hosny Panangian, menegaskan pasar di Indonesia masih terbuka lebar dan butuh dukungan kapabilitas yang lebih kuat, baik dari sisi produk maupun jaringan operasional agar kebutuhan konstruksi di berbagai wilayah dapat terlayani lebih baik.
Semen Baru Menyentuh 11 Persen Ekosistem Konstruksi
Andriano menyampaikan bahwa industri semen baru menyumbang sekitar 11 persen dari total biaya material konstruksi bangunan. Angka ini menunjukkan bahwa bagian terbesar ekosistem konstruksi, yakni sekitar 89 persen, masih menyisakan ruang pengembangan yang luas bagi material lain.
Bagi SIG, kondisi tersebut tidak dibaca semata sebagai persaingan di pasar semen. Perusahaan melihatnya sebagai peluang untuk memperluas peran melalui produk derivatif dan solusi material lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pendekatan itu juga mendorong SIG untuk mengedepankan strategi yang berorientasi pada pelanggan dan nilai tambah. Fokusnya bukan hanya menjual semen, melainkan juga membangun portofolio bahan bangunan yang relevan dengan dinamika industri konstruksi.
Keberlanjutan Jadi Fondasi Operasional
Di sisi operasional, SIG menempatkan efisiensi energi dan keberlanjutan sebagai bagian penting dari strategi bisnis. Perusahaan mendorong digitalisasi dan kolaborasi yang lebih luas untuk membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Sejumlah upaya dilakukan melalui peningkatan pemakaian bahan bakar alternatif seperti biomassa, refuse-derived fuel atau RDF, serta limbah industri. SIG juga memperluas penggunaan panel surya dan teknologi Waste Heat Recovery Power Generation atau WHRPG untuk mengubah gas panas buang menjadi listrik.
Perusahaan mencatat hasil pada 2025 dengan kenaikan thermal substitution rate menjadi 9,77 persen dari 7,56 persen pada 2024. Pada periode yang sama, intensitas emisi Gas Rumah Kaca cakupan 1 turun menjadi 561 kg CO2/ton cement equivalent, atau 21 persen lebih rendah dibanding baseline 2010.
SIG juga menekan emisi GRK cakupan 2 menjadi 57 kg CO2/ton cement equivalent. Angka itu disebut 15 persen di bawah baseline 2019 dan menjadi bagian dari dorongan perusahaan menghadirkan semen serta bahan bangunan yang lebih rendah karbon.
Empat Pilar Transformasi SIG
Transformasi SIG disusun melalui empat pilar yang saling terhubung. Pilar tersebut mencakup inovasi produk berbasis keberlanjutan, kemitraan strategis dan diversifikasi ekosistem, keunggulan rantai pasok dan komersial, serta optimalisasi digital dan teknologi.
Melalui kerangka itu, SIG ingin menekan risiko sekaligus menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. INTERCEM Asia dipandang sebagai pintu untuk memperkuat jejaring dengan produsen, pemasok, dan penyedia teknologi yang dapat mendukung arah transformasi tersebut.
Industri Semen Masih Punya Peran Strategis
Dari sisi industri, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emmy Suryandari menilai sektor semen dan mineral nonlogam tetap memegang peran penting dalam pembangunan nasional. Ia menyampaikan bahwa pada 2025 sektor ini tumbuh 6,16 persen, dengan nilai investasi mencapai Rp25 triliun dan nilai ekspor sebesar USD1,79 miliar.
Emmy juga menyebut sektor ini menyerap lebih dari 900 ribu tenaga kerja. Menurutnya, Indonesia terbuka untuk memperkuat kolaborasi dengan mitra global agar industri semen menjadi lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa forum seperti INTERCEM Asia bukan hanya ajang temu bisnis, tetapi juga ruang untuk mempercepat pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik. Dalam konteks pasar yang masih luas dan tantangan keberlanjutan yang makin besar, kolaborasi global menjadi salah satu jalan untuk memperkuat daya saing industri bahan bangunan di masa depan.
Source: www.viva.co.id




