Shopee Dan TikTok Shop Makin Mengunci Pasar, Bukalapak Tersingkir Dari Peta E-Commerce

Author: Cung Media

Peta e-commerce Indonesia makin terkonsentrasi pada 2025. Shopee dan TikTok Shop menjadi dua penggerak terbesar, sementara Bukalapak tidak lagi muncul dalam daftar pangsa pasar utama.

Laporan Momentum Works dalam Ecommerce in Southeast Asia 2026 menunjukkan dominasi dua pemain besar itu kian kuat. Di saat yang sama, Lazada dan Blibli menyusut, sehingga persaingan pasar semakin mengerucut pada segelintir platform besar.

Shopee makin jauh meninggalkan pesaing

Shopee menguasai 54% pangsa pasar e-commerce Indonesia pada 2025. Angka itu naik dari 46% pada 2024, ketika estimasi GMV Shopee masih berada di kisaran US$26 miliar atau sekitar Rp450,2 triliun.

Pada 2025, estimasi GMV Shopee mencapai US$31,2 miliar atau setara Rp539,7 triliun dengan asumsi kurs Rp17.320 per dolar AS. Kenaikan ini menegaskan posisi Shopee sebagai pemain terbesar di pasar e-commerce Indonesia.

TikTok Shop dan Tokopedia menguat sebagai penantang utama

Gabungan TikTok Shop dan Tokopedia menempati posisi berikutnya dengan pangsa 38% pada 2025. Dengan total GMV e-commerce Indonesia sebesar US$57,7 miliar, estimasi nilai transaksi kotor gabungan keduanya mencapai sekitar US$21,9 miliar atau Rp380 triliun.

Komposisi ini berubah cukup besar dibanding 2024. Saat itu, Tokopedia tercatat memiliki pangsa 23% dan TikTok Shop 11%, lalu keduanya dibaca sebagai gabungan dalam data 2025.

Pasar tetap tumbuh, tetapi semakin sempit bagi pemain lain

Total GMV e-commerce Indonesia pada 2025 mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun. Nilai itu naik dari 2024 yang sebesar US$56,5 miliar atau sekitar Rp978,6 triliun.

Meski pertumbuhannya tidak terlalu besar, Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara sepanjang 2025. Skala pasar masih besar, tetapi distribusi kekuatannya makin terkonsentrasi pada pemain teratas.

Lazada dan Blibli tertekan, Bukalapak hilang dari daftar utama

Lazada menguasai 6% pasar e-commerce Indonesia pada 2025 dengan estimasi GMV sekitar US$3,5 miliar atau Rp60 triliun. Pangsa itu turun tipis dari 7% pada 2024, sehingga menunjukkan tekanan kompetisi yang masih berat.

Blibli juga mengalami penurunan dengan pangsa 3% pada 2025 dan estimasi GMV sekitar US$1,7 miliar atau sekitar Rp30 triliun. Pada 2024, kontribusi Blibli masih berada di level 4% dari total GMV nasional.

Perubahan paling tajam terjadi pada Bukalapak. Pada 2024, platform itu masih menyumbang 10% GMV e-commerce Indonesia, tetapi pada data 2025 namanya tidak lagi muncul dalam daftar pangsa pasar utama.

Dominasi regional ikut memperkuat tekanan di Indonesia

Di level Asia Tenggara, total GMV e-commerce mencapai US$157,6 miliar atau sekitar Rp2.729,6 triliun pada 2025. Angka itu naik dari 2024 yang sebesar US$128,4 miliar atau sekitar Rp2.223,9 triliun.

Shopee tetap memimpin kawasan dengan GMV US$83,2 miliar atau setara Rp1.441 triliun. TikTok Shop bersama Tokopedia berada di posisi kedua secara regional dengan GMV gabungan US$45,6 miliar atau sekitar Rp789,8 triliun.

Lazada mencatat GMV US$18 miliar atau sekitar Rp311,8 triliun pada 2025 dan dinilai relatif stagnan. Bukalapak justru turun ke GMV US$9 miliar atau sekitar Rp155,9 triliun dari US$12,8 miliar atau sekitar Rp221,7 triliun pada 2024.

Momentum Works juga mencatat tiga platform regional terbesar, yakni Shopee, TikTok Shop termasuk Tokopedia, dan Lazada, yang secara kolektif menguasai lebih dari 98,8% pasar e-commerce Asia Tenggara pada 2025. Dominasi itu menunjukkan ruang persaingan di kawasan ini semakin sempit bagi pemain di luar kelompok besar tersebut.

Di Indonesia, perubahan pangsa pasar pada 2025 memperlihatkan bahwa Shopee dan TikTok Shop menjadi poros utama perdagangan daring. Sementara itu, Lazada dan Blibli bertahan di tengah tekanan kompetisi yang makin ketat, dan Bukalapak tak lagi tercatat di jajaran teratas.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru