Sherina Munaf menegaskan bahwa amor fati, atau mencintai takdir, bukan sikap yang datang seketika. Baginya, menerima kenyataan hidup adalah proses panjang yang menuntut latihan hati dan disiplin emosional.
Pandangan itu muncul saat ia terlibat dalam film Filosofi Teras, adaptasi buku karya Henry Manampiring yang mengangkat pemikiran stoisisme. Sherina menyebut pengalaman hidup baru benar-benar dipahami setelah melewati ujian yang tidak ringan.
Amor Fati, Bukan Sekadar Kalimat Indah
Dalam keterangannya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026), Sherina mengatakan bahwa dirinya tidak langsung menerima takdir begitu saja. Ia menilai proses itu harus dijalani pelan-pelan dan tidak bisa dipaksa selesai dalam sekejap.
“Oke amor fati ya, mencintai takdir. Jadi apakah aku langsung menerima takdir? Nggak langsung saya terima ya teman-teman,” kata Sherina Munaf.
Ia juga menyebut penerimaan atas takdir sebagai sebuah ordeal atau ujian yang perlu dilalui. Menurut Sherina, sikap seperti itu hanya bisa terbentuk lewat latihan mental dan emosional yang konsisten.
Obrolan Panjang dengan Henry Manampiring
Sherina menilai proses tersebut membutuhkan waktu dan kedisiplinan, termasuk lewat diskusi dengan orang-orang yang pernah menghadapi kesulitan hidup. Salah satu sosok yang dekat dengannya adalah Henry Manampiring, yang sudah lama berteman dengannya bahkan sebelum menulis Filosofi Teras.
Keduanya kerap berbagi obrolan soal hardships, terutama saat masa COVID. Percakapan seperti itu, menurut Sherina, ikut memperkuat pemahamannya terhadap stoisisme yang kemudian dituangkan Henry dalam buku tersebut.
Hot.detik.com mencatat bahwa hidup sering kali baru mengajarkan banyak hal setelah seseorang melewati fase-fase sulit. Pemahaman itu lalu terasa makin kuat ketika disambungkan dengan filosofi yang diangkat dalam Filosofi Teras.
| Tokoh | Peran | Detail |
|---|---|---|
| Sherina Munaf | Pemeran film Filosofi Teras | Menegaskan amor fati adalah proses menerima takdir, bukan sikap instan |
| Henry Manampiring | Penulis buku Filosofi Teras | Sudah lama berteman dengan Sherina dan kerap berdiskusi soal hardships |
| Affandi Abdul | Sutradara film Filosofi Teras | Menjelaskan bahwa film ini bisa dirasakan lintas kalangan, bukan hanya masyarakat kota |
Film yang Menekankan Emosi, Bukan Sekadar Latar Jakarta
Sherina tidak membuka detail lebih jauh soal pengalaman pribadi yang berkaitan dengan perannya di film itu. Namun, ia memberi isyarat bahwa tema amor fati di film memiliki kedekatan dengan sesuatu yang pernah ia lalui.
“Ketika ada di film ini, aku nggak bisa spill soal itu ya, belum boleh. Tapi tentu saja itu sesuatu yang pernah aku lalui. Aku nggak akan masuk ke detailnya. Buat aku itu memang sebuah proses, dan it’s okay,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Affandi Abdul menjelaskan bahwa latar Jakarta dan sekitarnya bukan inti utama representasi film ini. Fokusnya ada pada pengalaman emosional keluarga Nea, Siska, Guni, dan teman-temannya yang bisa dirasakan oleh berbagai kalangan.
Peluncuran tersebut juga bertepatan dengan perayaan cetakan ke-100 buku Filosofi Teras. Henry Manampiring mengaku tak menyangka buku yang terbit pertama kali pada 2018 itu bisa mencapai pencapaian tersebut.
Dalam acara yang sama, teaser poster dan teaser trailer adaptasi film Filosofi Teras juga diperkenalkan kepada publik. Film ini dibintangi Sherina Munaf, Zee Asadel, Dinda Kanyadewi, Kiki Narendra, Putri Ayudya, hingga Lydia Kandou.
