Survei Jakpat 2026 menunjukkan e-wallet bukan lagi sekadar alat bayar bagi generasi Z. Satu dari dua responden di kelompok ini kini menyimpan uang di dompet digital yang dipakai sehari-hari, menjadikannya bagian dari kebiasaan keuangan harian.
Pergeseran itu menandakan dompet digital makin menyatu dengan aktivitas rutin anak muda. Dana di e-wallet dipakai untuk transfer uang, belanja daring, bayar tagihan, transaksi di gerai fisik, pesan makanan, sampai transportasi.
E-wallet mulai diperlakukan seperti tempat simpan dana
Fungsi e-wallet di Indonesia terus meluas seiring meningkatnya adopsi layanan keuangan digital. Jika sebelumnya dompet digital lebih identik dengan pembayaran cepat, kini sebagian pengguna melihatnya sebagai sarana menyimpan saldo yang tetap bisa diakses kapan saja.
Temuan itu sejalan dengan penggunaan OVO Nabung by Superbank yang mengusung konsep rek-wallet atau rekening e-wallet. Hingga awal Mei 2026, jumlah penggunanya telah melampaui 2,3 juta orang.
Transaksi harian ikut terdorong naik
Pertumbuhan pengguna layanan tersebut terlihat dari lonjakan aktivitas transaksi di berbagai kanal. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, transaksi di gerai offline seperti restoran, minimarket, dan kebutuhan harian lainnya meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Sementara itu, transaksi belanja online dan digital goods, termasuk pembelian pulsa, paket data, serta layanan digital lainnya, tumbuh lebih dari dua kali lipat. Aktivitas transfer antar pengguna OVO juga tercatat hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO, Asep Haekal, mengatakan perubahan ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan digital semakin terkait langsung dengan rutinitas harian. Ia menegaskan bahwa e-wallet kini tidak hanya dipakai untuk transaksi sesaat, tetapi juga untuk menyimpan saldo yang tetap bisa dipakai kapan saja.
Saldo e-wallet diposisikan seperti tabungan digital
Melalui konsep rek-wallet, pengguna bisa memakai saldo untuk berbagai transaksi sekaligus memperoleh manfaat tambahan yang biasa ditemukan pada layanan tabungan digital. Manfaat itu mencakup potensi bunga hingga 5% per tahun, bebas biaya top up, serta promo dan cashback.
Di dalam ekosistem Grab, penggunaan OVO Nabung by Superbank paling banyak terjadi di layanan GrabBike, GrabCar, dan GrabFood. Volume transaksi pada tiga layanan tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Mei 2025.
Pola penggunaan mengikuti jam sibuk mobilitas
Aktivitas transaksi paling ramai terjadi pada pukul 17.00 hingga 19.00 WIB, saat banyak pengguna berangkat pulang kerja atau memesan layanan harian. Pola ini memperlihatkan bahwa saldo di e-wallet kini dipakai mengikuti ritme mobilitas dan konsumsi harian.
Dari sisi demografi, kelompok usia 26–35 tahun menjadi pengguna paling aktif. Di bawahnya ada kelompok usia 18–25 tahun dan 36–45 tahun, yang menunjukkan layanan keuangan digital makin diterima lintas kelompok usia produktif.
Di luar ekosistem Grab, aktivitas pengguna lebih banyak didominasi top up dan belanja, baik online maupun offline. Pada transaksi offline, penggunaan sering muncul untuk pembelian makanan dan minuman, pembayaran tagihan, serta kebutuhan pokok.
Untuk transaksi online, aktivitas paling sering berupa pembelian paket data, transaksi e-commerce, dan pengisian saldo gim. Pola ini menunjukkan satu platform kini dipakai untuk banyak kebutuhan, dari transaksi kecil hingga pengelolaan dana harian.
Direktur Bisnis Superbank, Sukiwan, menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan masyarakat semakin nyaman mengelola transaksi dan tabungan dalam satu pengalaman yang terintegrasi. Ia menyebut perkembangan itu sebagai validasi bahwa inovasi rek-wallet punya relevansi kuat bagi masyarakat Indonesia.
OVO Nabung by Superbank juga meluncurkan kampanye Tau-Tau Untung yang berlangsung hingga akhir tahun. Program ini menawarkan promo transaksi harian dan penawaran khusus bagi pengguna layanan Grab, seiring makin tipisnya batas antara fungsi transaksi dan tabungan di layanan keuangan digital.
