Serpihan pesawat kargo Boeing 737 milik K2 Airways dengan registrasi AP-BOI akhirnya ditemukan di Laut Arab setelah operasi pencarian dan penyelamatan sekitar 12 jam. Temuan ini membuka jalan bagi penyidik untuk menelusuri apa yang terjadi pada penerbangan KTA1732 dari Sharjah menuju Karachi.
Meski bangkai pesawat sudah ditemukan, penyebab jatuhnya pesawat belum diketahui. Fokus investigasi kini tertuju pada evakuasi puing dan analisis kotak hitam yang menyimpan data penerbangan serta rekaman percakapan di kokpit.
Gangguan navigasi sebelum pesawat hilang dari radar
Informasi awal yang paling menonjol datang dari awak pesawat, yang sempat melaporkan kepada pengatur lalu lintas udara bahwa sistem navigasi mengalami gangguan. Tidak lama setelah itu, pesawat menunjukkan perubahan ketinggian yang tidak normal selama sekitar tiga menit sebelum menghilang dari radar.
Data pelacakan Flightradar24 menunjukkan pesawat sempat turun, naik kembali, lalu menukik tajam. Laju turun pesawat tercatat sekitar 22.400 kaki per menit, jauh di atas profil penurunan normal saat berada pada fase jelajah.
Lokasi jatuh dan petunjuk dari pola terbang
Bangkai pesawat ditemukan di lepas pantai Pakistan, dekat Kota Omara, sekitar 360 kilometer di barat Karachi. Bagi penyidik, lokasi serpihan dan pola perubahan ketinggian menjadi petunjuk awal yang penting untuk memetakan menit-menit terakhir penerbangan.
Analis keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse menilai aspek perubahan ketinggian itu akan menjadi fokus pemeriksaan bersama bukti fisik dari lokasi jatuhnya pesawat. Kondisi struktur pesawat, posisi serpihan, dan kerusakan komponen utama dapat membantu menjelaskan rangkaian kejadian sebelum pesawat hilang.
5 dugaan yang disorot para pakar
Mark Stephens, mantan pilot Delta Air Lines yang pernah menerbangkan Boeing 737, menyebut ada 5 kemungkinan yang layak diperhatikan dalam investigasi. Kelimanya bukan kesimpulan akhir, melainkan area yang perlu diuji dengan data teknis dan temuan lapangan.
| Dugaan | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Kerusakan sistem kendali penerbangan | Respons pesawat terhadap perintah pilot bisa terganggu dan memicu perubahan ketinggian yang tidak wajar. |
| Kesalahan penataan muatan | Distribusi beban pada pesawat kargo dapat memengaruhi pusat gravitasi dan kestabilan terbang. |
| Gangguan mesin | Masalah pada satu atau lebih mesin dapat menurunkan performa dan menambah beban kerja awak. |
| Kesalahan manusia | Bisa terjadi saat pesawat di udara maupun di darat, termasuk keputusan operasional dan prosedur pemuatan. |
| Sabotase | Masih belum bisa dikesampingkan, tetapi memerlukan pembuktian kuat dari investigasi forensik dan kotak hitam. |
Kelima dugaan itu masih harus dipadukan dengan hasil pemeriksaan teknis. Penyidik juga perlu memastikan apakah gangguan navigasi berdiri sendiri atau berkaitan dengan kerusakan sistem lain yang lebih luas.
Bukan kasus Boeing 737 Max
Kecelakaan ini dipastikan tidak terkait dengan persoalan Boeing 737 Max. Pesawat yang jatuh adalah Boeing 737 seri 400, generasi lama yang mulai beroperasi pada 1999 sebagai pesawat penumpang sebelum dikonversi menjadi pesawat kargo pada 2011.
Perbedaan varian ini penting karena masalah sistem MCAS yang pernah menjadi pusat perhatian pada dua kecelakaan fatal 737 Max pada 2018 dan 2019 tidak berkaitan dengan AP-BOI. K2 Airways mulai mengoperasikan pesawat itu pada 2024 melalui skema sewa, dan menurut situs resmi maskapai, Boeing 737 tersebut menjadi satu-satunya pesawat dalam armadanya.
Insiden ini kembali menyoroti catatan keselamatan penerbangan Pakistan yang dalam dua dekade terakhir mengalami sejumlah kecelakaan besar. Hingga kini, otoritas Pakistan masih melanjutkan investigasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada AP-BOI di Laut Arab.
Source: tekno.kompas.com




