Serangan di Selat Hormuz Langsung Uji Kesepakatan Baru AS-Iran

Author: Cung Media

Serangan terhadap kapal komersial berbendera Singapura di Selat Hormuz langsung mengguncang kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Insiden ini memunculkan kembali pertanyaan besar: seberapa aman jalur pelayaran paling strategis di kawasan itu saat ketegangan belum benar-benar reda.

Kapal tersebut terkena proyektil tak dikenal di sisi kanan lambung saat berada di lepas pantai Dahit, Oman. Pemberitahuan Maritime Trade Operations Centre milik Inggris menyebut jembatan kapal rusak, tetapi tidak ada korban jiwa dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan.

Jalur yang baru dibuka langsung tertekan

Insiden ini datang ketika arus kapal mulai pulih setelah pembicaraan antara Washington dan Tehran membuka kembali lalu lintas di jalur sempit yang selama berbulan-bulan terganggu perang. Selat Hormuz biasanya menjadi lintasan bagi seperlima minyak dunia, sehingga setiap gangguan di titik ini cepat terasa di pasar dan pengiriman global.

Badan Maritim Internasional PBB kemudian menghentikan sementara rencana evakuasi besar-besaran yang baru berjalan beberapa hari untuk memindahkan banyak kapal yang terdampar di Teluk Persia. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan penghentian itu perlu dilakukan agar jaminan keselamatan yang dibutuhkan tetap bisa dipastikan.

IMO menjelaskan kapal yang diserang itu sebenarnya sudah melewati Selat Hormuz sebelum dihantam dan tidak melintas di bawah kerangka evakuasi organisasi tersebut. Dominguez menegaskan keselamatan para pelaut tetap menjadi prioritas utama, sehingga rencana evakuasi ditunda sampai ada kejelasan lebih lanjut.

Kesepakatan yang diuji lebih cepat dari perkiraan

Serangan ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menaikkan harapan terhadap kembalinya lalu lintas kapal ke Selat Hormuz. Dalam kesepakatan itu, Iran diharapkan mengatur jalur aman bebas biaya selama 60 hari dengan memakai “upaya terbaiknya”.

Setelah kesepakatan diumumkan, arus kapal memang melonjak. Data Kpler menunjukkan 70 kapal melintas pada Selasa, jauh di atas hanya enam kapal seminggu sebelumnya.

Kpler juga menyebut sebagian lonjakan itu mungkin berasal dari pelepasan lalu lintas yang sebelumnya sempat tertunda setelah kesepakatan. Seiring pengiriman kembali bergerak, harga minyak global pun anjlok.

Perdebatan soal jalur aman belum selesai

IMO pada Selasa juga mengumumkan operasi evakuasi skala besar untuk membantu ribuan pelaut di ratusan kapal keluar dari kawasan itu. Organisasi tersebut menyebut ada dua rute yang tersedia, yakni melalui perairan Iran di bagian utara Selat Hormuz dan melalui perairan Oman di selatan.

Perdebatan soal jalur aman tetap bertahan di antara para pihak. Amerika Serikat cenderung mendukung rute yang dekat garis pantai Oman, sementara Iran menegaskan kapal harus meminta izin sebelum transit dan menggunakan jalur yang lebih dekat ke pantainya.

Otoritas Persia Strait Gulf Authority milik Iran mengatakan pada Kamis bahwa setiap lintasan di luar kerangka yang ditetapkan PGSA tidak akan mendapat jaminan keselamatan. Otoritas itu juga menyebut kapal di jalur tersebut tidak berhak atas perlindungan asuransi atau tanggung jawab terkait lainnya.

Washington menolak ide biaya lintas

Iran juga belum menutup kemungkinan meminta biaya lintas kapal setelah batas waktu 60 hari dalam nota kesepahaman berakhir. Pemerintah Trump dan sekutu AS di kawasan menyebut ide itu tak dapat diterima dan melanggar hukum internasional.

Oman mengatakan pihaknya berencana mengelola selat itu bersama Iran, tetapi tidak berniat menarik tol. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pemerintah AS akan menilai Iran dari tindakan, bukan dari retorika maksimalisnya.

Rubio menambahkan AS akan bereaksi jika kapal benar-benar bergerak normal melalui selat itu. Ia juga menegaskan bahwa jika ancaman terhadap kapal benar-benar terjadi dan kapal tidak bisa bergerak, maka itu akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan.

Terbaru