Serangan Asam ke Aktivis Indonesia, Ancaman yang Makin Dekat dan Mengeras

Serangan dengan cairan asam terhadap aktivis di Indonesia membuat perhatian publik kembali tertuju pada risiko yang dihadapi para pembela lingkungan, pengkritik kebijakan, dan kelompok masyarakat sipil. Pola ancaman yang muncul tidak lagi berhenti pada intimidasi, tetapi bergerak ke kekerasan fisik yang meninggalkan luka serius dan rasa takut berkepanjangan.

Kasus-kasus itu juga menunjukkan bahwa serangan semacam ini dapat menjadi tanda ancaman yang makin dekat dan mengeras terhadap orang-orang yang bersuara kritis. Dari jalanan di Sumatra hingga pusat kota Jakarta, para aktivis kini harus menghadapi bahaya yang datang secara terang-terangan dan sulit diabaikan.

Serangan yang meninggalkan bekas fisik dan psikologis

Muhammad Rosidi, aktivis lingkungan berusia 43 tahun, masih menyimpan ingatan kuat saat dua pria berboncengan motor melemparkan cairan asam ke mobilnya di Sumatra pada Februari. Cairan itu langsung membakar tangan, kaki, dan area selangkangannya ketika ia sedang berkendara.

Rosidi meyakini serangan itu terkait dengan aktivitasnya melawan tambang timah ilegal dan penyelundupan di Bangka Belitung. Setelah kejadian itu, ia masih mengalami mimpi buruk dan infeksi berulang, meski tetap menegaskan tidak akan berhenti bersuara.

Ancaman serupa menjalar ke aktivis lain

Andrie Yunus dari KontraS juga menjadi korban serangan serupa saat dua pria di atas skuter menyiramkan asam kepadanya ketika ia mengendarai motor di Jakarta. Serangan tersebut membuatnya berisiko kehilangan penglihatan pada salah satu mata.

Amnesty International menggambarkan situasi ini sebagai lingkungan yang “rife with repression of dissent”, atau penuh penindasan terhadap suara kritis. Bagi para aktivis, kasus Andrie memperkuat kekhawatiran bahwa ancaman serupa bisa menimpa siapa saja yang terlalu vokal.

Tekanan bahkan merembet ke kalangan pengamat. Bhima Yudhistira Adhinegara, direktur eksekutif CELIOS, mengatakan ancaman terhadap dirinya meningkat setelah serangan terhadap Andrie, termasuk ancaman pembunuhan.

Bhima juga menerima pesan dari orang tak dikenal yang menyebut namanya ada dalam daftar yang sama dengan Andrie. Karena itu, ia dan timnya memperketat langkah keamanan dengan menambah CCTV, perlindungan tubuh, dan tidak bepergian sendirian.

Iklim kritik yang makin keras

Sejumlah aktivis dan pengamat menilai serangan-serangan ini tidak berdiri sendiri. Mereka melihatnya sebagai bagian dari iklim politik yang makin keras terhadap kritik, terutama dari kelompok masyarakat sipil, jurnalis, dan akademisi.

Andrie dikenal sering mengkritik meluasnya peran militer dalam pemerintahan. Ia diserang tak lama setelah merekam podcast yang membahas isu tersebut, sehingga memunculkan dugaan bahwa serangan itu juga terkait dengan sikap kritisnya.

Juru bicara Amnesty International Indonesia, Haeril Halim, mengatakan serangan terhadap aktivis sulit dipisahkan dari konteks yang lebih luas. Menurut dia, “growing attacks on activists” berkaitan dengan “hostility to criticism” dari pemerintah saat ini.

Data yang memperlihatkan skala tekanan

Amnesty International dalam laporan terbarunya menyebut hampir 300 pembela hak asasi manusia mengalami intimidasi atau kekerasan di Indonesia sepanjang 2025. Laporan itu juga mencatat, saat kerusuhan besar anti-pemerintah pada Agustus lalu, lebih dari 4.000 orang ditangkap, ratusan dipukul polisi, dan 10 warga sipil tewas.

Tekanan terhadap suara kritis juga menyasar media. Tempo menerima kepala babi busuk dan enam tikus yang telah dipenggal di kantornya pada Maret, yang dipandang sebagai peringatan agar berhenti mengajukan pertanyaan sulit.

Arif Maulana dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia menilai rangkaian serangan terhadap kelompok sipil kritis mencerminkan kemunduran demokrasi. Ia menyebut cara-cara yang digunakan kini sudah menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan nyawa orang.

Penyelidikan dan pesan intimidasi yang lebih luas

Kasus serangan terhadap Andrie memicu kemarahan publik internasional dan tuntutan penyelidikan independen. Kekhawatiran menguat karena kejahatan semacam ini kerap jarang mendapat hukuman tegas, sehingga memunculkan dugaan adanya upaya menutup-nutupi.

Empat perwira intelijen militer telah ditangkap, dan kepala badan intelijen itu mengundurkan diri tanpa penjelasan terbuka mengenai perannya dalam kasus tersebut. Aktivis menilai persidangan empat tentara itu di pengadilan militer, tanpa pengawasan publik, berisiko menghambat pencarian keadilan.

Kurnia Ramadhana dari Kantor Komunikasi Pemerintah mengatakan Presiden Prabowo berupaya menghapus impunitas, termasuk bagi pelaku dari unsur militer. Pemerintah juga membantah tuduhan penindasan dan menyebut kritik sebagai bentuk partisipasi publik yang penting bagi proses pemerintahan.

Meski begitu, penggunaan asam sebagai senjata memberi pesan intimidasi yang sangat kuat. Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan acid attack bukan hanya melukai korban, tetapi juga dimaksudkan untuk menakut-nakuti orang lain, karena “acid always leaves scars.”

Baca Juga

Back to top button