Enam Malam Serangan AS-Iran Membara, Selat Hormuz Kian Menjadi Taruhan

Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan baru ketika serangan antara Amerika Serikat dan Iran berlanjut hingga malam keenam berturut-turut. Jalur perairan strategis itu dilaporkan diblokade Teheran, sementara operasi militer dan ancaman balasan terus mempersempit ruang perundingan.

Perselisihan kini tidak hanya menyangkut serangan di sejumlah wilayah, tetapi juga tuntutan keamanan Iran atas kawasan selat tersebut. Di tengah situasi itu, Washington menyatakan jalur diplomasi masih terbuka, meski disertai peringatan akan tindakan militer lanjutan.

Selat Hormuz Jadi Pusat Perebutan Pengaruh

Komando Pusat AS atau Centcom menyebut gelombang serangan terbaru ditujukan untuk “memperlemah kemampuan militer Iran lebih lanjut.” AS juga menyatakan telah melakukan serangan selama enam jam di sejumlah lokasi di Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran melaporkan rudal AS menghantam area di dekat Pulau Qeshm di Teluk. Lokasi itu berada dekat Selat Hormuz, wilayah yang kini menjadi titik utama perselisihan antara kedua negara.

Laporan tersebut turut menyebut Bandar Abbas dan Bushehr sebagai wilayah yang terkena serangan. Bushehr dikenal sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

PihakTindakan atau PernyataanLokasi/Keterangan
Amerika SerikatMenyatakan serangan selama enam jamSejumlah lokasi di Selat Hormuz
Media pemerintah IranMelaporkan serangan rudal ASDekat Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Bushehr
IranMengklaim menyerang pangkalan militer ASYordania, Kuwait, dan Bahrain

Di sisi lain, Teheran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Klaim balasan itu muncul ketika Washington mendesak Iran kembali ke meja perundingan.

Media Indonesia melaporkan baku tembak sepanjang malam telah memperkeruh kesepakatan awal yang sebelumnya diarahkan untuk mengakhiri perang. Eskalasi tersebut membuat penguasaan dan pengaturan di Selat Hormuz menjadi isu yang semakin menentukan.

Tuntutan Keamanan Iran dan Tekanan Washington

Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Teheran tidak melihat alasan untuk mematuhi perjanjian yang dinilai tidak menguntungkan negaranya. Ia menegaskan keamanan nasional Iran bergantung pada pemeliharaan wilayah yang disebutnya sebagai “pengaturan Iran” di Selat Hormuz.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa selat tersebut bukan semata lokasi operasi militer bagi Iran. Kawasan ini juga ditempatkan sebagai bagian dari tuntutan keamanan yang dibawa Teheran ke dalam pembicaraan dengan AS.

Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump masih membuka kemungkinan diplomasi meski operasi militer berlanjut. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump akan meminta pertanggungjawaban Iran apabila negara itu mengingkari janji kepada AS.

“Namun, pada saat yang sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi,” kata Leavitt kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa Iran masih menyatakan keinginan untuk membuat kesepakatan dengan AS.

Menurut Leavitt, komunikasi dengan Iran tetap berlangsung di tengah eskalasi. Namun, ia menegaskan Trump tidak akan membiarkan kapal-kapal ditembaki di selat tanpa konsekuensi.

Kabar Tahanan Tambah Ketidakpastian

Ketidakpastian juga muncul dari informasi mengenai tahanan AS, Dena Karari. Pada Rabu, Trump memuji Iran melalui Truth Social atas kabar pembebasan Karari, yang menurutnya ditahan secara sewenang-wenang sejak Desember 2024.

Trump menulis bahwa Amerika Serikat menghargai “isyarat niat baik” tersebut. Pengacara Karari, Jared Genser, juga mengonfirmasi kliennya sedang dalam perjalanan kembali ke AS.

Namun, pihak yudisial Iran membantah kabar itu pada Kamis. Mereka menyatakan tidak ada tahanan AS yang dibebaskan atau ditukar dari penjara Iran.

Perbedaan keterangan mengenai tahanan itu menegaskan rapuhnya komunikasi di tengah serangan yang masih berlangsung. Prospek perundingan pun tetap dibayangi sengketa Selat Hormuz serta tuntutan keamanan yang saling berseberangan.

Source: mediaindonesia.com
Terkait