Sepasang sepatu yang hilang kembali menjadi pusat perhatian lewat Children of Heaven, sebuah kisah keluarga yang sejak lama dikenal karena memotret beban hidup dari sudut pandang anak-anak. Daya tarik utamanya bukan sekadar pada benda kecil yang memicu masalah, melainkan pada cara dua kakak-adik bertahan bersama ketika hidup terasa serba terbatas.
Film drama keluarga asal Iran ini pertama kali dirilis pada 1997 dan ditulis sekaligus disutradarai oleh Majid Majidi. Children of Heaven juga sempat diputar perdana di Festival Film Fajr Teheran sebelum meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk nominasi Academy Awards 1998 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Ikatan keluarga jadi pusat cerita
Kekuatan Children of Heaven terletak pada hubungan Ali dan Zahra yang saling menjaga di tengah kesulitan. Konflik tentang sepatu yang hilang dibuat terasa besar karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, tanggung jawab keluarga, dan rasa takut menambah beban orang tua.
Film ini menunjukkan bagaimana keterbatasan ekonomi bisa melahirkan ketegangan yang diam-diam menyentuh emosi. Ali dan Zahra saling berbagi beban, saling melindungi, dan menyimpan rahasia agar Karim dan Fatimah tidak semakin terbebani.
Versi Indonesia membawa kisah ke pinggiran Semarang
Kisah itu kini dihadirkan kembali dalam versi Indonesia dengan latar yang disesuaikan ke pinggiran Semarang. Adaptasi ini tetap mempertahankan inti ceritanya, yaitu hubungan kakak dan adik yang saling menguatkan di tengah tekanan hidup.
Dalam versi remake, Ali berusia 13 tahun dan Zahra berusia 9 tahun. Mereka tinggal bersama Karim dan Fatimah dalam kondisi serba terbatas, lalu masalah muncul ketika satu-satunya sepatu milik Zahra hilang setelah Ali tanpa sengaja meninggalkannya di sebuah toko kelontong.
Ketakutan membuat keduanya memilih satu solusi sederhana yang penuh risiko. Zahra memakai sepatu lama milik Ali ke sekolah pada pagi hari, sementara Ali menggunakannya pada sore hari, dan sejak itu mereka hidup dalam rasa waswas serta upaya menjaga rahasia kecil itu tetap aman.
Empati muncul lewat keputusan kecil
Adaptasi ini juga menambah lapisan emosi lewat pertemuan Zahra dengan Gendis. Zahra melihat Gendis memakai sepatu yang mirip dengan miliknya yang hilang, tetapi ia tidak memintanya kembali setelah mengetahui keluarga Gendis hidup dalam kondisi yang lebih sulit.
Momen itu memperkuat pesan bahwa kepedulian tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Film ini justru menyoroti pilihan-pilihan kecil yang lahir dari empati, rasa bersalah, dan solidaritas antaranak yang sama-sama hidup dalam keterbatasan.
Ali kemudian mencoba menebus kesalahannya dengan langkah yang lebih nyata. Saat sekolah mengadakan lomba lari dan menyediakan hadiah sepatu untuk juara ketiga, ia memutuskan ikut dan berlatih keras agar bisa membawa pulang hadiah itu untuk Zahra.
Pemain dan tim kreatifnya
Versi Indonesia ini dibintangi Jared Ali, Humaira Jahra, Andri Mashadi, Faradina Mufti, Slamet Rahardjo, Oki Rengga, Muhadkly Acho, Reza Nangin, Benedictus, Dodit Mulyanto, Lolox, Varen Arianda, dan Astagina Jyoti. Para pemain ini mengisi karakter-karakter yang membentuk dinamika keluarga dan lingkungan di sekitar Ali dan Zahra.
Hanung Bramantyo menangani proyek ini setelah dikenal lewat film seperti Ipar Adalah Maut, Miracle in Cell No. 7, dan Bumi Manusia. Naskahnya ditulis Oka Aurora bersama Hanan Novianti, sedangkan Manoj Punjabi bertindak sebagai produser lewat rekam jejak panjang di film-film box office Indonesia.
Film Children of Heaven versi Indonesia dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026. Dengan latar baru, pemain baru, dan pendekatan yang disesuaikan, kisah ini tetap membawa inti yang sama: kasih sayang yang tumbuh di tengah kekurangan.
