Seni Merayu Tuhan Tak Mau Sekadar Religi, Teuku Ryzki Sorot Ruang Refleksi Diri

Seni Merayu Tuhan tidak ingin berhenti sebagai film religi yang hanya menyampaikan pesan keagamaan. Teuku Ryzki menegaskan, film adaptasi buku karya Habib Jafar itu dirancang sebagai ruang refleksi diri yang bisa dirasakan penonton dari berbagai latar belakang.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026. Menjelang perilisan, tim produksi tampak mendorong pembacaan yang lebih luas agar cerita di layar tidak dibatasi oleh label tertentu.

Pesan yang Melampaui Label Religi

Dalam konferensi pers penutupan promosi, pemeran tokoh Hotib itu menyebut harapan tim bukan sekadar menghadirkan tontonan bernuansa spiritual. Menurutnya, makna Seni Merayu Tuhan jauh lebih luas daripada kategori yang mudah ditempelkan pada kisah bertema agama.

“Harapan kami, film ini tidak hanya dipandang sebagai film religi. Film ini memiliki makna yang lebih luas daripada itu,” ujar Teuku Ryzki pada Senin (15/7).

Pendekatan itu terlihat dari cara film membangun ceritanya. Alur tidak disusun seperti ceramah langsung, melainkan lewat dinamika hidup para tokoh yang menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan.

Refleksi Diri Lewat Cerita yang Hangat

Teuku Ryzki menjelaskan bahwa film ini ingin mengajak penonton melakukan refleksi diri dan menemukan kembali jati diri. Penyampaiannya dibuat hangat, seru, dan penuh humor agar penonton lebih mudah terhubung dengan kisah yang dibawa.

“Kami ingin mengajak penonton melakukan refleksi diri dan menemukan kembali jati diri melalui perjalanan yang hangat, seru, dan penuh humor. Mudah-mudahan setelah menonton, kita bisa lebih mengenal diri sendiri,” tambahnya.

Dengan pendekatan seperti itu, film ini tidak hanya mengejar pesan moral. Pengalaman menonton juga diarahkan agar terasa dekat secara emosional dan tidak menggurui.

Berangkat dari Kegelisahan Anak Muda

Produser Aristo mengatakan film ini lahir dari kegelisahan melihat generasi muda yang kehilangan ruang untuk mencari makna hidup. Ia menilai dialog dan pemahaman lebih penting daripada sekadar teguran kepada anak muda.

Alvi, pemeran karakter Hikmah, juga melihat kekuatan film ini pada kedekatannya dengan realitas anak muda saat ini. Menurutnya, karakter-karakter di dalam film merepresentasikan kebutuhan generasi muda untuk dirangkul dan dihormati dalam proses pencarian jati diri.

NamaPeranPandangan Utama
Teuku RyzkiPemeran HotibFilm ini bukan hanya religi, tetapi ruang refleksi diri yang hangat dan penuh humor.
AristoProduserFilm lahir dari kegelisahan soal anak muda yang butuh ruang mencari makna hidup.
AlviPemeran HikmahKarakter-karakternya dekat dengan realitas anak muda dan kebutuhan untuk dirangkul.

Dengan tema pencarian makna dan proses berdamai dengan diri sendiri, Seni Merayu Tuhan diproyeksikan relevan untuk penonton lintas latar belakang. Saat hadir di bioskop pada pertengahan Agustus mendatang, film ini membawa harapan agar penonton pulang bukan hanya dengan cerita, tetapi juga dengan pemahaman baru tentang diri sendiri.

Source: mediaindonesia.com
Terkait