Selisih Rp 150 Juta Jetour T1 PHEV Vs ICE, Dibayar Jarak 1.200 Km dan Kabin Lebih Mewah

Selisih harga Jetour T1 versi plug-in hybrid dan bensin murni ternyata tidak hanya dibayar dengan teknologi elektrifikasi. Di atas kertas, T1 i-DM memang lebih mahal Rp 150 juta, tetapi selisih itu datang bersama klaim jarak tempuh gabungan hingga 1.200 km dan sejumlah fitur kabin yang lebih mewah.

Di pasar Indonesia, Jetour T1 hadir dalam dua karakter yang berbeda sejak awal. Versi ICE mengandalkan mesin bensin turbo, sementara T1 i-DM membawa sistem PHEV dengan mode berkendara pure EV dan kombinasi mesin bensin serta motor listrik.

Beda paling besar ada di powertrain

Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch. Ranggy Radiansyah, menyebut pembeda utama kedua varian memang terletak pada powertrain. Pada i-DM, teknologi PHEV memungkinkan mobil bergerak sebagai kendaraan listrik murni atau memakai kombinasi mesin bensin dan motor listrik.

Jetour T1 i-DM memakai mesin 1.500 cc, transmisi hybrid DHT, dan baterai LFP. Mesin bensinnya menghasilkan 136 PS pada 5.200 rpm dengan torsi 220 Nm di 2.500 rpm, sedangkan motor listriknya menyumbang 204 PS dan 310 Nm.

Dalam kondisi tangki penuh dan baterai terisi, T1 i-DM diklaim mampu menempuh hingga 1.200 km. Untuk mode pure EV, mobil ini disebut bisa berjalan sampai 100 km.

Sementara itu, Jetour T1 varian ICE mengusung mesin turbo TGDI 1.500 cc. Tenaganya mencapai 170 PS pada 5.500 rpm dengan torsi 270 Nm pada rentang 2.000-3.500 rpm.

Jika hanya melihat angka mesin bensinnya, varian ICE memang punya output lebih tinggi daripada mesin pembakaran pada i-DM. Namun pada versi PHEV, keberadaan motor listrik membuat karakter berkendaranya berbeda sekaligus lebih efisien.

Identitas eksterior dibuat berbeda

Jetour juga memberi pembeda visual agar kedua varian mudah dikenali. Ranggy mengatakan ukuran velg keduanya berbeda, begitu juga desain velgnya.

Bagian depan T1 i-DM memakai grille dengan LED strip. Adapun T1 ICE menggunakan logo Jetour seperti pada T2, sehingga tampilannya langsung menunjukkan karakter yang berbeda.

Varian ICE juga tidak memiliki identitas PHEV dan tulisan i-DM. Selain itu, versi bensin tidak dibekali port charger seperti yang ada pada T1 i-DM.

Kabin dan fitur ikut dipisahkan

Masuk ke kabin, perbedaan tidak berhenti pada sistem penggerak. Jetour T1 ICE memiliki paddle shift, sedangkan versi i-DM tidak dibekali fitur tersebut.

Sebaliknya, T1 i-DM mendapat layar head unit yang lebih besar dan panoramic sunroof. Pada versi ICE, layar head unit disebut lebih kecil dan tidak ada panoramic sunroof.

Perbedaan ini membuat T1 i-DM terasa lebih lengkap bagi pembeli yang mencari nuansa kabin modern. Di sisi lain, T1 ICE tetap menawarkan paket yang lebih sederhana namun tetap fokus pada fungsi dasar dan harga yang lebih rendah.

Harga menjadi penentu utama pilihan

Di atas kertas, selisih harga kedua model cukup besar. Jetour T1 i-DM dibanderol Rp 558 juta, sedangkan Jetour T1 ICE dijual Rp 408 juta.

Jetour juga memberi harga spesial untuk 500 konsumen pertama. Dalam program itu, T1 i-DM dipasarkan Rp 538 juta dan T1 ICE ditawarkan Rp 388 juta.

Selisih Rp 150 juta itu membuat posisi keduanya jelas sejak awal. T1 ICE tampil sebagai opsi yang lebih terjangkau, sedangkan T1 i-DM menawarkan teknologi PHEV, jarak tempuh gabungan yang jauh, mode pure EV hingga 100 km, dan fitur kabin yang lebih mewah.

Bagi calon pembeli, pilihan akhirnya bergantung pada prioritas masing-masing. Mereka yang mengejar harga awal lebih rendah dan mesin bensin turbo konvensional cenderung akan melihat T1 ICE, sementara pembeli yang mengincar efisiensi, elektrifikasi, dan paket fitur yang lebih lengkap akan lebih tertarik pada T1 i-DM.

Source: oto.detik.com
Exit mobile version