Selisih Harga Tipis, Chery Tiggo Cross Hybrid Justru Tembus 30,3 Km/L

Selisih harga Chery Tiggo Cross CSH Hybrid dan versi bensin konvensional tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan lonjakan efisiensi yang ditawarkan. Varian hybrid mencatat konsumsi kombinasi hingga 30,3 km per liter, jauh di atas Tiggo Cross ICE yang berada di 17,8 km per liter.

Perbandingan ini membuat Tiggo Cross CSH Hybrid menarik bukan hanya untuk pencari SUV kompak modern, tetapi juga bagi konsumen yang mulai menghitung biaya operasional harian. Di kelas yang sama, angka konsumsi BBM seperti ini memberi alasan kuat untuk menoleh ke opsi elektrifikasi.

Harga dan posisi dua varian

Chery memasarkan Tiggo Cross bermesin bensin mulai Rp264,5 juta untuk varian Comfort dan Rp294,5 juta untuk varian Premium. Sementara itu, Tiggo Cross CSH Hybrid dijual mulai Rp329,8 juta on the road Jakarta.

Jika yang dibandingkan adalah varian tertinggi ICE dengan hybrid, selisihnya memang tidak terlalu jauh. Tambahan harga itu datang bersama teknologi hybrid, karakter berkendara yang lebih halus, dan efisiensi bahan bakar yang meningkat tajam.

VarianHargaKonsumsi KombinasiKonsumsi Tol
Tiggo Cross ICE ComfortRp264,5 juta17,8 km/l16,6 km/l
Tiggo Cross ICE PremiumRp294,5 juta17,8 km/l16,6 km/l
Tiggo Cross CSH HybridRp329,8 juta30,3 km/l20,4 km/l

Efisiensi yang paling mencolok

Dalam penggunaan perkotaan, Tiggo Cross ICE mencatat konsumsi sekitar 12,8 km per liter. Pada pemakaian kombinasi, angkanya naik menjadi 17,8 km per liter, sedangkan di tol dengan kecepatan rata-rata sekitar 90 km per jam berada di 16,6 km per liter.

Angka itu masih tergolong wajar untuk SUV kompak bermesin bensin 1.5 liter dengan transmisi otomatis CVT. Namun, Tiggo Cross CSH Hybrid melompat jauh dengan konsumsi 27,7 km per liter di dalam kota dan 30,3 km per liter pada rute kombinasi.

Di jalan tol dengan kecepatan rata-rata sekitar 90 km per jam, varian hybrid masih mampu mencatat 20,4 km per liter. Keunggulan itu menunjukkan bahwa efisiensi hybrid tidak hanya muncul saat macet di kota, tetapi juga tetap terasa di jalan bebas hambatan.

Tenaga hybrid jauh lebih besar

Tiggo Cross ICE memakai mesin bensin empat silinder 1.498 cc berkode SQRG4G15. Mesin ini menghasilkan tenaga sekitar 114 dk dan torsi 138 Nm, lalu disalurkan ke roda depan melalui transmisi otomatis CVT.

Berbeda dengan itu, Tiggo Cross CSH Hybrid tetap mengandalkan mesin bensin 1.5 liter, tetapi dipadukan dengan motor listrik berkekuatan 150 kW atau setara sekitar 201 dk. Torsi puncaknya mencapai 310 Nm, jauh lebih besar dibanding versi konvensional.

Perbedaan ini penting karena pembeli hybrid kerap mencari lebih dari sekadar irit. Motor listrik memberi torsi maksimal sejak putaran awal, sehingga akselerasi terasa lebih spontan saat mulai berjalan atau ketika membutuhkan dorongan tambahan.

Bukan cuma cocok untuk macet kota

Karakter seperti itu biasanya terasa menguntungkan di lalu lintas stop and go. Saat dipakai menyalip atau masuk ke jalan tol, respons tenaga juga cenderung lebih sigap.

Efisiensi tinggi pada Tiggo Cross CSH Hybrid datang dari sistem yang memungkinkan mobil memanfaatkan tenaga listrik pada kecepatan rendah atau kondisi tertentu. Mesin bensin kemudian bekerja otomatis saat dibutuhkan.

Skema tersebut membantu menekan konsumsi BBM karena mesin tidak terus menjadi sumber tenaga utama. Selain itu, perpindahan tenaga dibuat lebih halus sehingga pengalaman berkendara terasa lebih nyaman pada situasi tertentu.

Mana yang lebih cocok dipilih

Bagi pembeli yang fokus pada harga awal serendah mungkin, Tiggo Cross ICE tetap menawarkan nilai yang menarik di kelas SUV kompak. Mobil ini tetap membawa dimensi ringkas, fitur modern, dan banderol yang kompetitif.

Namun, pembeli yang menghitung biaya operasional jangka panjang akan memandang varian hybrid dengan cara berbeda. Selisih harga awal dibayar dengan efisiensi BBM yang jauh lebih baik, tenaga yang lebih besar, dan karakter berkendara yang lebih canggih.

Pada akhirnya, perbandingan Tiggo Cross CSH Hybrid dan Tiggo Cross ICE bukan sekadar soal mesin bensin atau hybrid. Konsumen perlu menimbang apakah harga beli yang lebih rendah lebih penting, atau penghematan BBM dan performa yang naik signifikan dalam satu paket SUV kompak.

Terkait