Selat Hormuz Memanas, Pupuk Mandiri Jadi Benteng Kedaulatan Pangan Indonesia

Ketegangan di Selat Hormuz kembali menimbulkan perhatian besar di pasar global karena jalur itu memegang peran penting dalam arus energi dan bahan baku pupuk dunia. Di tengah risiko gangguan pasokan internasional, Indonesia dinilai berada pada posisi yang lebih aman karena memiliki kapasitas produksi pupuk domestik yang kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada impor.

Kondisi tersebut menjadi relevan bagi sektor pertanian nasional karena pupuk merupakan input utama dalam menjaga produktivitas panen. Saat banyak negara khawatir terhadap potensi kelangkaan pupuk akibat gejolak geopolitik, Indonesia memilih memperkuat kemandirian produksi sebagai fondasi kedaulatan pangan.

Selat Hormuz dan tekanan terhadap pasar pupuk

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur logistik strategis yang menopang arus energi global dan pasokan bahan baku industri. Dalam konteks pupuk, sekitar 30 persen pasokan urea dunia disebut melewati jalur yang kini rentan terhadap ketegangan geopolitik.

Gangguan di kawasan itu berpotensi mendorong kenaikan biaya distribusi, memperlambat pengiriman, dan menekan harga pupuk di pasar internasional. Dampak seperti ini biasanya lebih cepat dirasakan oleh negara yang masih mengandalkan impor bahan baku atau produk pupuk jadi.

Ketika rantai pasok global goyah, harga dan kepastian suplai bisa terdampak secara beruntun. Situasi itu membuat negara dengan basis produksi dalam negeri yang kuat memiliki posisi tawar yang lebih baik.

Indonesia bertumpu pada produksi dalam negeri

Indonesia memiliki penyangga penting berupa pasokan gas alam domestik yang menjadi bahan baku utama produksi pupuk. Struktur ini membuat industri pupuk nasional tidak terlalu terpapar risiko dari disrupsi rantai pasok luar negeri.

Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menyampaikan dalam forum IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta pada Rabu, 15 April, bahwa stok pupuk nasional saat ini berada dalam kondisi sangat sehat. Ia menegaskan risiko gangguan di Selat Hormuz tidak berdampak signifikan terhadap Indonesia karena kapasitas produksi dalam negeri masih kuat.

“Risiko gangguan di Selat Hormuz yang memengaruhi pasokan urea dunia tidak berdampak signifikan terhadap Indonesia. Kapasitas produksi kami kuat dan didukung pasokan gas dalam negeri. Prioritas utama kami adalah memastikan kebutuhan pupuk nasional terpenuhi terlebih dahulu,” ujar Yehezkiel.

Data produksi juga menunjukkan ruang aman bagi kebutuhan petani. Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik berada di kisaran 6,3 juta ton.

Selisih itu memberi bantalan pasokan yang penting ketika pasar global bergerak tidak menentu. Dengan kapasitas yang melampaui kebutuhan dalam negeri, Indonesia memiliki peluang lebih besar menjaga stabilitas pasokan pada masa yang penuh tekanan.

Kedaulatan pangan dibangun dari hulu

Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan pupuk dalam satu musim tanam. Kepastian pasokan jangka panjang, efisiensi produksi, dan keberlanjutan industri juga menentukan seberapa kuat sistem pangan nasional menghadapi guncangan eksternal.

Karena itu, Pupuk Indonesia mulai memperluas fokus dari sekadar menjaga volume produksi ke arah transformasi industri yang lebih tahan krisis. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan green ammonia dan blue ammonia untuk memperkuat ketahanan bahan baku sekaligus menekan emisi.

Perusahaan juga memanfaatkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk mengurangi emisi dari proses produksi. Pendekatan ini ditujukan agar produksi pupuk tetap berjalan stabil tanpa mengabaikan tekanan untuk menurunkan jejak lingkungan.

Di sisi lain, Pupuk Indonesia turut mendorong pemberdayaan kelompok tani dan pemanfaatan lahan tidur. Langkah ini mendukung penguatan ekosistem pertanian dari tingkat hulu agar pasokan pangan tidak terlalu rapuh terhadap keterbatasan lahan dan perubahan iklim.

Selat Hormuz memang berada jauh dari Indonesia, tetapi dampaknya tetap bisa terasa melalui harga energi, biaya logistik, dan gejolak pasar pupuk dunia. Selama kapasitas produksi domestik tetap kuat dan pasokan bahan baku dalam negeri terjaga, Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan kedaulatan pangan di tengah situasi global yang belum stabil.

Source: www.suara.com
Terkait