Ketegangan di Timur Tengah kembali menekan jalur energi paling vital di dunia setelah Iran menyatakan menutup Selat Hormuz. Klaim itu langsung dibantah militer Amerika Serikat, yang menyebut arus kapal masih berjalan di salah satu selat paling strategis bagi pengiriman minyak dan gas alam cair.
Selat Hormuz menjadi titik rawan karena sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melintas di sana. Jalur ini juga cukup dalam untuk kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia, sehingga setiap gangguan sekecil apa pun cepat memicu kekhawatiran di pasar energi global.
Sengketa penutupan selat
Iran mengatakan langkah itu merupakan respons atas serangan mematikan Israel di Lebanon selatan. Tehran menilai serangan tersebut melanggar kesepakatan yang dibuat dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Militer Iran juga menuduh Amerika Serikat tidak menjalankan klausul pertama dari nota kesepahaman 14 poin yang disebut mencakup “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon”. Juru bicara US Central Command Tim Hawkins menyatakan lalu lintas kapal “terus mengalir” dan pasukan AS memantau situasi agar kondisi itu tetap berlangsung.
Hawkins juga menegaskan Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Data pelacakan yang dipantau BBC Verify menunjukkan setidaknya lima tanker tetap melintas pada Sabtu, meski beberapa kapal lain tampak berbalik arah di area tersebut.
Tekanan diplomatik di tengah perang
Di saat situasi memanas, Wakil Presiden AS JD Vance berangkat ke Swiss untuk pembicaraan langsung dengan Iran pada Minggu. Ia mengatakan berharap ada kemajuan dalam isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon.
Vance juga menyebut situasi di perbatasan Israel dan Hezbollah mulai sedikit membaik. Menurut dia, tujuan utamanya adalah menjaga Israel dan Lebanon sama-sama aman dan stabil.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan negaranya akan menuntut pihak lain memenuhi komitmennya. Di sisi lain, Donald Trump menulis di media sosial pada Sabtu bahwa AS dapat mengenakan pungutan sendiri terhadap pengiriman di Selat Hormuz jika Washington dan Teheran tidak mencapai kesepakatan yang dinegosiasikan.
Kekerasan di Lebanon selatan terus berlanjut
Pernyataan Iran muncul setelah sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan, kurang dari 24 jam setelah gencatan senjata baru antara Israel dan Hezbollah diumumkan. Kementerian kesehatan Lebanon mengatakan 4.057 orang telah tewas sejak konflik Israel-Hezbollah kembali memanas pada 2 Maret.
Israel dan Hezbollah saling menuduh melanggar gencatan senjata Jumat. Pada Sabtu, militer Israel mengatakan telah menyerang “puluhan” target Hezbollah setelah kelompok yang didukung Iran itu disebut menembakkan lebih dari 50 proyektil ke pasukan Israel di kawasan itu.
Media negara Lebanon melaporkan serangan Israel menewaskan satu keluarga beranggotakan empat orang di kota Barich. Militer Israel juga mengatakan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan pada Sabtu.
Taruhannya bukan hanya Lebanon
Iran menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan AS-Iran yang lebih luas, tetapi kini justru mengaitkannya dengan serangan di Lebanon. Kesepakatan awal yang ditandatangani presiden AS dan Iran pada awal pekan itu bertujuan mengakhiri perang, termasuk di Lebanon, dengan efek segera.
Perjanjian itu juga memuat komitmen untuk melanjutkan pembicaraan demi mencapai kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Pakistan, yang selama perang berperan sebagai mediator, akan hadir pada awal pembicaraan di Swiss, dan sebelumnya juga menjadi tuan rumah putaran negosiasi AS-Iran di Islamabad pada April.
Di tengah semua itu, Israel sebelumnya menyatakan tidak berniat menarik pasukannya dari Lebanon dan menegaskan konflik dengan Hezbollah terpisah dari perang dengan Iran. Hezbollah menuduh serangan Israel di Lebanon merupakan upaya untuk menyabotase kesepakatan AS-Iran yang lebih luas.
