Selat Hormuz Kembali Memanas, 3 Hari yang Mengubah Konflik AS-Iran

Author: Cung Media

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan dalam konflik Amerika Serikat dan Iran setelah blokade laut diberlakukan lagi dan serangan balasan meluas ke pangkalan-pangkalan militer di kawasan Teluk. Dalam tiga hari, upaya gencatan senjata yang sempat diusahakan mediator runtuh, sementara jalur energi dunia ikut terseret ke pusaran konflik.

Risiko terbesar kini menimpa kapal dagang internasional yang melintas di kawasan itu. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump menambah tekanan dengan sanksi kargo baru sebesar 20 persen untuk seluruh muatan yang menuju dan dari Iran.

Blokade dan serangan balasan yang makin meluas

Menurut suara.com, blokade laut terhadap Iran diberlakukan kembali oleh militer Amerika Serikat di pelabuhan-pelabuhan Iran mulai Selasa pukul 16.00 waktu setempat. Keputusan itu muncul setelah eskalasi serangan drone dan rudal, lalu disusul gagalnya upaya damai yang sedang diupayakan mediator.

Kekhawatiran juga meningkat karena kapal-kapal dagang berada di jalur yang sama dengan area pertempuran. Jalur itu sempat dibahas dalam proposal yang disusun Oman pada 11 Juli untuk mengatur lalu lintas Selat Hormuz dan membagi pelayaran ke dalam dua rute.

Tanggal Peristiwa Utama Dampak
11 Juli Oman menyusun draf proposal pengaturan lalu lintas Selat Hormuz Jalur pelayaran direncanakan dibagi menjadi dua rute
12 Juli Seorang warga India dilaporkan hilang setelah serangan di Selat Hormuz Awak kapal komersial terjebak di zona pertempuran
13 Juli Serangan malam ketiga terjadi dan AS membombardir wilayah Iran meluas Konflik meningkat dan korban sipil kembali dilaporkan

Klaim saling bertabrakan di jalur pelayaran strategis

Ketegangan memuncak saat Korps Pengawal Revolusi Islam Iran atau IRGC melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal penyeberang. Iran menuduh kapal itu melintas lewat rute ilegal dan langsung menyatakan Selat Hormuz ditutup.

Amerika Serikat merespons dengan serangan balasan putaran ketiga dalam sepekan. Washington berdalih pasukan IRGC telah menyerang sebuah kapal kontainer yang sedang transit, lalu Komando Sentral AS atau CENTCOM mengklaim gempuran udara menghancurkan 140 target militer Iran.

Teheran membalas dengan menghujani pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh kawasan Teluk. Pemerintah negara-negara Teluk juga melaporkan aktivitas pertahanan udara untuk menangkal serangan mendadak yang terus meluas keesokan harinya.

Korban sipil ikut dilaporkan

Dalam pertempuran yang makin tak terkendali, otoritas India menyebut salah satu warganya hilang setelah serangan di Selat Hormuz pada 12 Juli. Korban itu merupakan awak kapal komersial yang terjebak di area konflik.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran, termasuk stasiun pompa air yang menewaskan satu warga. Di sisi lain, klaim soal status jalur pelayaran saling bertolak belakang karena Presiden Donald Trump dan CENTCOM bersikeras jalur strategis itu tetap dibuka.

Trump memperkeras tekanan ekonomi

Escalasi mencapai puncaknya pada 13 Juli waktu setempat saat Amerika Serikat kembali membombardir wilayah Iran secara meluas setelah ancaman keras dikeluarkan Gedung Putih. Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS akan memukul Iran dengan sangat keras.

Ancaman itu diwujudkan melalui serangan udara ke Bandar Abbas, serta pulau Kish, Qeshm, dan Abu Musa. Bersamaan dengan itu, kebijakan blokade laut diperkeras dengan sanksi ekonomi baru berupa pungutan tambahan 20 persen untuk seluruh kargo.

Iran membalas lagi dengan rudal jarak jauh yang menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab. Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi serangan di Selat Hormuz itu menewaskan seorang anggota awak kapal, sementara Iran juga meluncurkan beberapa gelombang serangan udara susulan ke Bahrain.

Rangkaian serangan selama tiga hari ini menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rapuh dalam hubungan AS-Iran. Dengan jalur minyak dunia berada di pusat konflik, setiap eskalasi baru berpotensi memperburuk krisis keamanan energi global.

Source: www.suara.com
Terbaru