
Sejarah Piala Dunia memang tidak pernah menjamin hasil, tetapi arahnya kali ini terlihat sangat sempit. Dari 48 tim yang akan tampil, hanya lima negara yang masih bertahan setelah pola-pola historis utama diterapkan: Argentina, Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol.
Penyempitan itu muncul dari catatan turnamen yang masih relatif kecil. Piala Dunia pria baru menggelar 22 edisi karena dua turnamen hilang akibat Perang Dunia II, sehingga jejak lama masih sangat kuat untuk membaca peluang juara.
Dominasi lama masih menguasai daftar kandidat
Pola paling keras datang dari sejarah para juara itu sendiri. Hanya delapan negara yang pernah menjuarai Piala Dunia, dan dari kelompok itu hanya Italia yang tidak lolos ke 2026.
Uruguay memang juga pernah meraih dua gelar awal, tetapi peluang mereka kali ini dinilai jauh lebih kecil. Enam juara lain, yaitu Brasil, Jerman, Inggris, Argentina, Prancis, dan Spanyol, semuanya masih berada di tujuh besar bursa taruhan juara.
Namun daftar lima tim ini tidak dibentuk hanya oleh status mantan juara. Sejumlah filter sejarah lain ikut memangkas hampir seluruh kandidat di luar kelompok elit.
Tim di luar Eropa dan Amerika Selatan hampir habis
Tidak ada tim dari luar Eropa dan Amerika Selatan yang pernah menjuarai Piala Dunia. Aturan sejarah itu langsung menyingkirkan 26 tim, termasuk tiga tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, serta Maroko.
Catatan yang sama juga berlaku ketika melihat para finalis. Dari 13 negara yang pernah tampil di final, 10 berasal dari Eropa dan tiga dari Amerika Selatan.
Di semifinal, pengecualian bahkan lebih langka lagi. Hanya tiga kali tim dari luar dua benua itu mencapai empat besar, yakni Amerika Serikat pada 1930, Korea Selatan sebagai tuan rumah bersama pada 2002, dan Maroko pada turnamen terakhir.
Maroko memang menunjukkan perkembangan besar dalam beberapa level usia. Tim itu menjuarai Piala Dunia U-20 2025, meraih perunggu di Olimpiade 2024, dan mencapai perempat final dalam dua Piala Dunia U-17 terakhir setelah laju bersejarah pada 2022.
Elo Rating mempersempit peluang kejutan
Filter lain datang dari Elo Rating. Tidak ada juara Piala Dunia yang masuk turnamen dengan peringkat di luar 17 besar, dan data ini sangat keras terhadap tim yang berharap tampil sebagai kejutan.
Uruguay pada 1950 menjadi juara dengan Elo terendah dalam sejarah turnamen, yakni peringkat 17. Bahkan angka itu dipandang sebagai pengecualian besar, bukan pola yang mudah diulang.
Jika batasnya dipersempit ke 15 besar, Uruguay tetap menjadi satu-satunya juara di luar kelompok itu. Sebanyak 15 dari 22 juara justru masuk empat besar Elo saat turnamen dimulai.
Dengan ukuran tersebut, beberapa tim besar juga gugur. Meksiko, Maroko, Kanada, dan Amerika Serikat berada di luar batas itu, sehingga tersingkir bahkan sebelum filter sejarah sebelumnya bekerja.
Jejak Ballon d’Or dan pelatih ikut menentukan
Untuk tim Eropa, ada pola lain yang masih bertahan. Tidak ada tim Eropa yang menjuarai Piala Dunia tanpa memiliki beberapa pemenang Ballon d’Or, sehingga Belgia, Kroasia, Norwegia, Swiss, dan Turki tersingkir dari kelompok akhir.
Logikanya sederhana, karena negara yang menghasilkan pemain terbaik dunia biasanya juga memiliki tim nasional yang kuat. Pola ini memang tidak sempurna jika diterapkan ke seluruh sejarah, karena Ballon d’Or baru ada sejak 1956 dan awalnya hanya diberikan kepada pemain Eropa sampai 1995.
Satu filter lain juga menghapus banyak kandidat. Tidak ada tim yang pernah menjuarai Piala Dunia dengan pelatih kelahiran luar negeri, sehingga Brasil, Kolombia, Ekuador, Inggris, Portugal, dan Uruguay tersingkir dari daftar akhir.
Mengapa lima nama ini bertahan
Setelah semua penyaringan itu, hanya Argentina, Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol yang tersisa. Daftar ini tidak mengejutkan, karena dua di antaranya menjadi favorit teratas di bursa taruhan, satu adalah juara bertahan, dan satu lagi punya tradisi juara lintas era.
Jerman menonjol karena empat gelar mereka hadir dalam rentang yang sangat jauh, masing-masing setidaknya terpaut 16 tahun. Itu menunjukkan kemampuan mereka untuk tetap relevan di berbagai generasi.
Belanda adalah satu-satunya tim di daftar ini yang belum pernah juara. Namun mereka punya sejarah besar, pernah kalah di final pada 1974, 1978, dan 2010, dan masih masuk delapan favorit teratas menuju turnamen.
Argentina membawa status juara bertahan, sementara Prancis dan Spanyol datang sebagai dua tim yang paling kuat dalam bursa taruhan. Jika pola sejarah tetap berjalan, salah satu dari lima negara ini menjadi kandidat paling masuk akal untuk mengangkat trofi pada 2026.
Source: www.nytimes.com




