Ancaman senjata nuklir di luar angkasa kini tidak lagi hanya dibahas sebagai skenario teoretis. Sebuah usulan baru dari fisikawan nuklir MIT, Areg Danagoulian, menawarkan cara mendeteksi senjata semacam itu dari orbit dengan satelit kecil berukuran seperti kotak sepatu.
Gagasan ini muncul untuk menutup celah lama dalam Perjanjian Luar Angkasa yang melarang penempatan senjata nuklir di orbit, tetapi belum memiliki mekanisme verifikasi yang kuat. Usulan tersebut dipublikasikan di jurnal Nature pada Rabu (8/7/2026).
Celah Pengawasan yang Lama Dikhawatirkan
Sejak 1967, Outer Space Treaty melarang penempatan senjata nuklir di orbit Bumi. Perjanjian itu telah diratifikasi 118 negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia.
Masalah utamanya ada pada verifikasi. Belum ada sistem yang benar-benar bisa memastikan apakah sebuah satelit membawa senjata nuklir atau tidak, sehingga ruang untuk pelanggaran tetap terbuka.
Mengapa Ledakan di Orbit Begitu Berbahaya
Danagoulian menilai ledakan nuklir di orbit tidak akan berdampak pada satu target saja. Radiasi berenergi tinggi dapat merusak ribuan satelit sekaligus, mulai dari konstelasi internet, satelit komunikasi, satelit pengamatan Bumi, hingga misi luar angkasa lainnya.
Ia juga menyebut ledakan seperti itu berpotensi membuat orbit Bumi rendah dan orbit Bumi sangat rendah tidak dapat dihuni dalam waktu lama. “Kami pada dasarnya tidak hanya akan kehilangan satelit dalam orbit tersebut, kita akan kehilangan orbit tersebut selama beberapa tahun,” ujarnya.
Bayangan Starfish Prime Masih Relevan
Risiko itu punya preseden sejarah. Pada 1962, Amerika Serikat menguji bom hidrogen berkekuatan 1,4 megaton dalam operasi Starfish Prime pada ketinggian sekitar 400 kilometer di atas Samudra Pasifik.
Ledakan tersebut menghancurkan sekitar sepertiga satelit yang saat itu mengorbit Bumi. Dengan jumlah satelit sekarang yang jauh lebih banyak, dampaknya diperkirakan bisa jauh lebih luas.
Bagaimana Satelit Kecil Ini Mendeteksi Ancaman
Danagoulian mengusulkan konstelasi satelit kecil 9U CubeSat yang ukurannya kira-kira sebesar kotak sepatu besar. Alih-alih mencari bom secara langsung, satelit itu akan menangkap jejak radiasi khas yang muncul dari interaksi uranium di dalam senjata nuklir dengan proton berenergi tinggi di Sabuk Van Allen.
Senjata termonuklir mengandung uranium dalam jumlah besar, sehingga menghasilkan tanda radiasi yang khas. Fenomena yang dimanfaatkan disebut spalasi neutron yang diinduksi proton, yaitu saat tumbukan proton melepaskan neutron dari inti atom uranium.
| Komponen | Fungsi | Keterangan |
|---|---|---|
| Scintillator neutron | Mendeteksi neutron dan proton dari berbagai arah | Sensor utama |
| Detektor berlian | Menyaring gangguan dari proton dan elektron | Hanya merespons neutron |
Satelit inspeksi akan membawa dua sensor yang bekerja bersama. Jika detektor berlian eksternal terpicu, partikel itu bisa diabaikan karena kemungkinan besar adalah proton, bukan neutron.
Begitu neutron teridentifikasi, sistem dapat memproyeksikan arah asalnya dan memperkirakan dari mana sinyal itu datang. Dengan begitu, keberadaan senjata nuklir bisa dipastikan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Harus Dekat dengan Target agar Efektif
Dalam simulasi Danagoulian, satelit inspeksi perlu berada sekitar 4 kilometer dari satelit yang dicurigai. Jika posisi itu dipertahankan sekitar satu minggu, sensor disebut cukup untuk mengumpulkan data guna memastikan ada atau tidaknya senjata termonuklir.
Bila beberapa satelit inspeksi digunakan bersamaan, proses identifikasi bisa dipercepat menjadi hanya beberapa jam dalam satu lintasan. Namun, pakar astrodinamika Georgia Tech, Thomas González Roberts, menilai manuver sedekat itu membawa risiko tabrakan jika tidak ada koordinasi yang baik antarpengelola satelit.
Sabuk Van Allen Jadi Sumber Risiko dan Sinyal
Lokasi yang berbahaya bagi satelit justru menjadi bagian penting dari metode ini. Danagoulian menyebut Sabuk Van Allen sebagai tempat yang buruk untuk menempatkan satelit, tetapi justru cocok untuk mendeteksi senjata nuklir.
Ia menjelaskan bahwa radiasi di kawasan itu terperangkap oleh medan magnet Bumi, sehingga ledakan nuklir berpotensi menghancurkan satelit di orbit yang lebih rendah. Di saat yang sama, proton berenergi tinggi di sana menyediakan sinyal yang bisa ditangkap untuk mendeteksi keberadaan senjata nuklir.
Masih Perlu Verifikasi dan Mekanisme Pengamanan
Roberts menilai pendekatan ini menarik, tetapi penerapannya tetap menuntut manuver yang sangat dekat ke target. Karena itu, ia menyebut teknologi seperti ini lebih cocok dipakai sebagai bagian dari mekanisme verifikasi resmi dalam perjanjian internasional.
Jika senjata nuklir berhasil terdeteksi, pilihan untuk menjinakkannya masih sangat terbatas. Danagoulian mengatakan salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah mengganggu komunikasi satelit dari Bumi agar perangkat itu tidak bisa diaktifkan dari jarak jauh.
Sampai sekarang, belum ada teknologi yang mampu menjinakkan senjata nuklir di luar angkasa secara aman. Selain metode berbasis neutron ini, para peneliti sebelumnya juga pernah mengusulkan satelit pendeteksi sinar-X, tetapi pendekatan itu dinilai lebih rumit dan lebih mahal.
Ilmuwan politik Secure World Foundation, Victoria Samson, menilai mekanisme verifikasi semacam ini sangat penting untuk memastikan kepatuhan pada perjanjian internasional. “Sangat penting untuk memiliki mekanisme verifikasi. Hal ini bukan hanya masalah, ‘Kami meminta Anda untuk tidak melakukan ini,’ itu seperti, ‘Kami dapat mengetahui apakah Anda memiliki sesuatu di atas sana,’.” ujarnya.
Jika berhasil dikembangkan, sistem ini bisa menjadi terobosan besar dalam pengawasan ruang angkasa. Bagi negara-negara penandatangan Perjanjian Luar Angkasa, teknologi ini berpotensi mengubah larangan di atas kertas menjadi aturan yang bisa diperiksa dari orbit.
