Sasya Tranggono Membaca Jakarta dengan Hening, Pameran Ini Mengarah ke 500 Tahun Kota

Pameran tunggal Sasya Tranggono di Laflo Menteng menghadirkan Jakarta dari sudut yang lebih hening dan kontemplatif. Lewat karya-karya abstrak terbaru, kota ini dibaca bukan sekadar sebagai ruang beton, melainkan sebagai tempat yang menyimpan ingatan, budaya, dan harapan.

Lewat tajuk “Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono”, pameran ini menjadi respons visual atas kota yang terus berubah. Sekitar 12 lukisan yang ditampilkan merekam wajah Jakarta lewat simbol-simbol yang akrab bagi warga, dari bangunan bersejarah hingga penanda kota yang ikonik.

Jakarta hadir dalam bahasa visual yang lebih bebas

Berbeda dari eksplorasi Sasya sebelumnya yang identik dengan kupu-kupu, bunga, dan wayang, kali ini ia memilih pendekatan kontemporer. Warna, emosi, dan bentuk abstrak dipadukan dengan penanda kota seperti Gelora Bung Karno, GPIB Immanuel, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Istana Negara, Tugu Selamat Datang Jakarta, hingga Generasi Bintang.

Sasya menyebut Jakarta sebagai hasil perjalanan panjang yang dibentuk banyak lapisan. Ia mengatakan, “Jakarta tidak hanya dibangun oleh beton dan jalan raya. Jakarta dibangun oleh kenangan, budaya, dan karya-karya yang menjaga jiwanya tetap hidup.”

Karya yang tidak berhenti di dinding galeri

Di antara 12 lukisan yang dipamerkan, Generasi Bintang mendapat perhatian khusus. Jika karya itu terjual, hasilnya akan didonasikan untuk membantu anak-anak di Nusa Tenggara Timur.

Sasya menegaskan bahwa karya itu dipersembahkan untuk tujuan yang lebih luas. Ia ingin menghadirkan generasi baru yang takut Tuhan, cinta bangsa, dan hormat kepada orang tua.

Jejak personal dalam membaca kota kelahiran

Pameran ini juga menunjukkan hubungan pribadi Sasya dengan Jakarta, kota tempat ia lahir. Baginya, Jakarta menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan karier seni yang kemudian berkembang hingga berbagai kota di dunia.

Proses pengerjaan pameran ini juga berlangsung relatif cepat. Jika pameran tunggal biasanya memakan waktu 1 hingga 2 tahun, Sasya hanya membutuhkan sekitar 2,5 bulan untuk menuntaskan 12 lukisan tersebut.

Sebelum mulai melukis, ia lebih dulu mengunjungi Kota Tua Jakarta. Dari kunjungan itu, ia mencari benang merah visual dan akhirnya memilih bangunan sebagai pijakan utama untuk memaknai Jakarta lewat karya-karyanya.

Pendekatan abstrak yang tetap berakar pada kota

Kurator Jim Supangat menilai karya-karya Sasya lahir dari perjalanan artistik yang dibangun lewat pengalaman personal, bukan jalur akademis seni rupa. Menurut Jim, proses itu justru membuat Sasya leluasa menjelajahi warna, ruang, garis, dan bidang dengan bahasa ekspresinya sendiri.

Jim juga menyoroti kemunculan bentuk-bentuk geometrik dalam karya yang terinspirasi oleh perkembangan arsitektur metropolitan Jakarta. Unsur itu terlihat pada lukisan seperti Patung Selamat Datang, Gelora Bung Karno, dan Stasiun Kota Jakarta.

Dalam pandangan Jim, karya Sasya tidak meninggalkan narasi dan representasi meski bergerak ke wilayah formalisme. Konteks Jakarta tetap hadir sebagai bagian penting dari bahasa visual yang dibangun.

Seni sebagai ruang dialog menjelang usia 500 tahun Jakarta

Pembukaan pameran ini dihadiri pejabat dan pelaku budaya yang menekankan pentingnya seni dalam menyambut usia 500 tahun Jakarta. Kepala Unit Pengelolaan Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, menyebut 500 tahun sebagai perjalanan panjang kota yang tumbuh dari pelabuhan kecil menjadi pusat peradaban, perdagangan, budaya, dan keberagaman.

Sri menilai karya abstrak Sasya membuka ruang tafsir yang luas. Ia mengatakan seni memberi kebebasan bagi masyarakat untuk memandang Jakarta sebagai ruang fisik sekaligus ruang gagasan, kenangan, dan harapan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta melihat seni dan budaya sebagai bagian penting dari pembentukan identitas kota global yang tetap berakar pada sejarah lokal. Dukungan terhadap kegiatan seperti pameran ini dinilai penting untuk menjaga memori kolektif sekaligus mendorong kreativitas baru.

Rangkaian awal menuju 500 tahun Jakarta

Ketua panitia pameran, Leonardo A. Putong, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal rangkaian seni dan budaya menuju 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027. Ia menegaskan kolaborasi antara seniman, pelaku budaya, dan industri kreatif bisa memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.

Pameran ini dirancang sebagai ruang temu antara seniman, budayawan, kolektor, akademisi, media, dan masyarakat untuk membicarakan masa depan Jakarta. Melalui karya-karya abstrak Sasya Tranggono, publik diajak melihat ibu kota dengan cara yang lebih dekat dan lebih mendalam, sambil memikirkan arah kota ini sebagai ruang peradaban yang terus bergerak.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait