Samsung tetap memimpin pasar ponsel dunia pada kuartal I-2026, tetapi keunggulannya atas Apple sangat tipis. Di saat dua merek teratas masih bertarung ketat, pasar smartphone global justru menyusut 4,1 persen dan menunjukkan tekanan yang makin terasa di industri.
Laporan terbaru IDC mencatat pengiriman ponsel pintar global hanya mencapai 289,7 juta unit, turun dari 302 juta unit pada kuartal I-2025. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan di puncak pasar tidak otomatis membuat industri secara keseluruhan ikut membaik.
Samsung dan Apple saling kejar di posisi teratas
Samsung membukukan pengiriman 62,8 juta unit dengan pangsa pasar 21,7 persen. Angka itu naik dari 20,1 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya dan cukup untuk mempertahankan posisi nomor satu di dunia.
Apple membuntuti sangat dekat dengan 61,6 juta unit dan pangsa pasar 21,1 persen. Selisih tipis ini menunjukkan persaingan dua raksasa teknologi masih berlangsung ketat, meski Samsung disebut mendapat dorongan kuat dari permintaan Galaxy S26 Ultra.
Kinerja Samsung juga tercatat tumbuh 3,6 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, Apple naik 3,3 persen berkat performa iPhone 17 series, terutama di China.
Peta lima besar vendor smartphone dunia
Di bawah dua nama besar itu, Xiaomi tetap menempati peringkat ketiga dengan 33,8 juta unit dan pangsa 11,7 persen. Oppo menyusul di posisi keempat dengan 30,7 juta unit dan pangsa 10,6 persen, lalu Vivo berada di urutan kelima lewat 21,2 juta unit dan pangsa 7,3 persen.
Namun, hanya Samsung dan Apple yang mencatat pertumbuhan positif di antara lima besar. Tiga vendor lain justru mengalami penurunan pengiriman secara tahunan, dengan Xiaomi membukukan penurunan paling dalam sebesar 19,1 persen.
| Vendor | Pengiriman Q1-2026 | Pangsa pasar Q1-2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| Samsung | 62,8 juta unit | 21,7 persen | 3,6 persen |
| Apple | 61,6 juta unit | 21,1 persen | 3,3 persen |
| Xiaomi | 33,8 juta unit | 11,7 persen | -19,1 persen |
| Oppo | 30,7 juta unit | 10,6 persen | -9,9 persen |
| Vivo | 21,2 juta unit | 7,3 persen | -6,8 persen |
IDC menjelaskan bahwa Xiaomi memangkas pengiriman model lama untuk menghindari kenaikan harga. Langkah itu menahan volume, meski bisa menjaga strategi produk di tengah tekanan biaya.
Vendor lain juga tertekan
Oppo turun 9,9 persen dari 34,1 juta unit menjadi 30,7 juta unit. IDC menilai performa Oppo di China membantu meredam pelemahan yang lebih besar, sementara integrasi dengan Realme juga ikut menopang pasar domestik.
Vivo mencatat penurunan 6,8 persen dibanding 22,7 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. Kinerja di China dan stabilitas di India disebut menjadi faktor penting yang menjaga Vivo tetap bertahan di lima besar dunia.
Di luar lima besar, IDC mencatat Honor, Lenovo atau Motorola, dan Huawei justru membukukan pertumbuhan positif. Honor bahkan menjadi vendor dengan pertumbuhan tertinggi di antara 10 besar, yakni 24 persen secara tahunan.
Pasar global melemah karena biaya dan memori
IDC menyebut krisis memori dan kenaikan harga smartphone sebagai faktor utama yang menekan pasar. Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan keterbatasan pasokan memori memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga komponen naik dan mendorong biaya bahan baku ikut terkerek.
Popal juga menyoroti dampak harga di pasar negara berkembang. Ia menyebut harga di sejumlah wilayah bisa naik hingga 40-50 persen, sehingga permintaan di pasar yang sensitif terhadap harga ikut melemah.
Research Director Mobile Phones IDC, Anthony Scarsella, menambahkan bahwa kenaikan harga memori memperburuk kondisi industri. Ia menilai pasar negara maju seperti Amerika Serikat lebih tahan karena ditopang perangkat premium, program trade-in, dan skema pembiayaan.
Sebaliknya, pasar berkembang yang sangat bergantung pada ponsel di bawah 200 dollar AS atau sekitar Rp 3,4 juta menghadapi tekanan lebih berat. Keterbatasan pilihan akibat biaya produksi yang naik membuat segmen bawah semakin sulit bergerak.
IDC melihat industri smartphone mulai bergeser ke arah average selling price atau ASP yang lebih tinggi. Tren itu muncul saat produsen menghadapi biaya komponen yang naik dan makin fokus pada portofolio produk bernilai lebih besar, sementara pasar smartphone global masih menghadapi tekanan permintaan yang belum mereda.
Source: tekno.kompas.com






