Rupiah yang kembali melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat pasar mulai menimbang kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate. Namun, ruang pengetatan bank sentral kini dinilai semakin terbatas karena BI harus menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menopang pemulihan ekonomi.
Ekonom Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai BI masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan jika tekanan rupiah berlanjut. Meski begitu, langkah tersebut disebut tidak bisa dilakukan agresif karena berisiko menekan sektor riil dan mengganggu fungsi intermediasi perbankan.
Tekanan rupiah belum otomatis harus dijawab dengan bunga lebih tinggi
Menurut Trioksa, kenaikan BI-Rate baru layak dipertimbangkan jika pelemahan rupiah terus berlanjut dan mulai memunculkan tekanan lanjutan. Tekanan itu bisa berupa inflasi yang perlu diintervensi, arus modal keluar, hingga gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan.
Ia menilai BI perlu lebih dulu membaca sumber tekanan rupiah. Jika pelemahan terutama dipicu faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan sentimen global, maka kenaikan suku bunga acuan tidak otomatis menjadi jawaban yang paling efektif.
| Faktor yang Perlu Dicermati BI | Implikasi |
|---|---|
| Penguatan dolar AS | Tekanan rupiah datang dari eksternal |
| Sentimen global | Kenaikan bunga belum tentu efektif |
| Fundamental domestik | Instrumen moneter bisa lebih relevan |
Trioksa menegaskan bahwa pengetatan moneter akan lebih kuat dampaknya jika sumber tekanan memang berasal dari sisi moneter domestik. Karena itu, BI perlu membedakan apakah pelemahan rupiah hanya bersifat sementara akibat pasar global atau sudah mencerminkan persoalan yang lebih dalam.
Bauran kebijakan masih jadi pilihan utama
Sebelum memilih opsi menaikkan BI-Rate, BI disebut masih bisa mengoptimalkan bauran kebijakan. Langkah itu mencakup intervensi di pasar valuta asing, optimalisasi instrumen likuiditas, dan koordinasi dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Tekanan terhadap rupiah kembali mencuat di tengah dinamika pasar global dan penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan BI setelah sebelumnya bank sentral sudah menyesuaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Dampak ke bank dan kredit bisa terasa cepat
Jika BI akhirnya kembali menaikkan BI-Rate, efeknya diperkirakan cepat terasa di industri perbankan. Biaya dana berpotensi naik, suku bunga kredit akan menyesuaikan bertahap, dan margin bunga bank bisa tertekan dalam jangka pendek.
| Dampak Kenaikan BI-Rate | Efek Utama |
|---|---|
| Biaya dana perbankan | Meningkat |
| Suku bunga kredit | Naik bertahap |
| Margin bunga | Tertekan dalam jangka pendek |
| Permintaan kredit | Berpotensi melambat |
Trioksa menyebut segmen yang paling sensitif terhadap bunga, seperti UMKM, konsumsi, dan korporasi, bisa lebih dulu merasakan penurunan permintaan kredit. Karena itu, kebijakan pengetatan moneter perlu dilakukan terukur agar tidak mengganggu pertumbuhan kredit yang masih menjadi salah satu penopang pemulihan ekonomi.
Ia juga menilai transmisi kenaikan suku bunga acuan akan memengaruhi strategi penyaluran kredit bank. Dalam pandangannya, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan momentum intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
