Rupiah akhirnya kembali meninggalkan level Rp18 ribu per dolar AS setelah sempat nyaris menembus Rp18.200. Penguatan ini muncul di tengah perubahan sentimen yang cepat, dipicu keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 basis poin ke 5,5 persen.
Pasar yang sebelumnya menekan rupiah kini mulai membaca sinyal kebijakan moneter dengan lebih tegas. Di saat yang sama, kebijakan fiskal pemerintah dan dugaan intervensi juga ikut memperkuat arah pemulihan nilai tukar.
BI memberi sinyal lebih keras
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai keputusan Bank Indonesia menjadi faktor utama yang memperbaiki sentimen terhadap rupiah. Menurut dia, sinyal bahwa bank sentral memberi ruang lebih besar untuk menaikkan suku bunga lagi ikut membantu pasar membaca arah kebijakan yang lebih tegas.
Lukman juga menyebut rapat mingguan BI memperkuat kesan bahwa otoritas moneter punya kelonggaran untuk kembali mengetatkan kebijakan bila diperlukan. Bagi pelaku pasar, hal itu meningkatkan keyakinan bahwa BI siap menjaga stabilitas nilai tukar.
Fiskal dan intervensi ikut menopang
Selain faktor moneter, pasar merespons kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik Rp3.950 per liter.
Lukman menilai kenaikan harga Pertamax memberi sentimen positif karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara. Dari sudut pandang pasar, langkah itu membantu memperkuat persepsi bahwa beban fiskal bisa lebih ringan.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra melihat penguatan rupiah tidak hanya disokong oleh suku bunga BI. Ia menduga ada intervensi dari otoritas karena rupiah dan IHSG sama-sama menguat pada saat yang berdekatan.
Ariston menilai intervensi itu bertujuan mendukung efektivitas kenaikan suku bunga acuan yang diumumkan secara mendadak awal pekan ini. Dengan begitu, kebijakan moneter dan langkah penjagaan pasar saling menguatkan.
Kepercayaan pasar ikut berubah
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau investor yang masih memegang dolar AS untuk mempertimbangkan melepas kepemilikannya. Ia menilai kepercayaan terhadap pemerintah ikut menguat dan berdampak pada pasar keuangan.
Menurut Dasco, sentimen positif itu turut menopang penguatan rupiah. Ia menyampaikan pandangan tersebut di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, sambil menyoroti bahwa pasar kini merespons kombinasi kebijakan dan kepercayaan yang lebih baik.
Sebelum berbalik arah, rupiah memang sempat berada di bawah tekanan berat. Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Senin siang, rupiah berada di Rp18.196 per dolar AS atau melemah 0,89 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pada perdagangan Rabu, rupiah ditutup di level Rp17.944 per dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63 persen. Namun pada Kamis sore, rupiah sempat kembali tertekan ke Rp17.988 per dolar AS, menunjukkan bahwa arah pasar masih bergerak dinamis.
Dengan kombinasi sinyal BI, kebijakan fiskal, dan respons pasar yang membaik, rupiah untuk sementara berhasil keluar dari tekanan psikologis Rp18 ribu. Meski begitu, pergerakannya masih sangat bergantung pada seberapa kuat pasar membaca langkah lanjutan otoritas moneter dan respons investor ke depan.
Source: www.cnnindonesia.com






