Rumor restrukturisasi besar di lingkungan BBK Electronics memunculkan skenario yang dapat mengubah peta bisnis OnePlus dan Realme. OnePlus disebut berpotensi mundur dari Amerika Serikat serta Eropa, sedangkan Realme dikabarkan justru akan meninggalkan pasar Cina.
Jika rencana itu benar dijalankan, konsumen di sejumlah pasar utama akan menghadapi ketidakpastian mengenai kelanjutan kehadiran dua merek tersebut. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari OPPO maupun OnePlus mengenai kabar restrukturisasi itu.
OnePlus Berpotensi Mengakhiri Ekspansi Global
GSMArena, yang mengutip jurnalis Bloomberg Mark Gurman, melaporkan OnePlus dapat menarik diri dari Amerika Serikat dan Eropa paling lambat pekan ini. Langkah tersebut disebut sebagai tahap awal dari penataan ulang bisnis yang lebih luas di bawah BBK Electronics.
Dalam skenario jangka panjang, operasional OnePlus di hampir seluruh pasar internasional dikabarkan akan ditutup secara bertahap. Merek ini disebut akan kembali memusatkan perhatian pada pasar Cina jika rencana tersebut terealisasi.
Pada 2027, OnePlus diperkirakan tidak lagi beroperasi di luar Cina, termasuk di India. Arah itu menjadi perhatian karena India selama ini merupakan salah satu pasar penting OnePlus di tengah kompetisi ponsel pintar yang ketat.
Potensi keluarnya OnePlus dari India juga terasa kontras dengan aktivitas produk yang masih berjalan. Perusahaan baru meluncurkan seri N6 di negara tersebut dan mulai memberi sinyal mengenai model baru.
Tekanan Bisnis di Balik Rumor Restrukturisasi
Penurunan pengapalan menjadi salah satu konteks yang mengiringi kabar ini. TheNextWeb melaporkan pengapalan global OnePlus sepanjang 2025 turun lebih dari 20%, dari sekitar 17 juta unit menjadi kisaran 13 juta hingga 14 juta unit.
Data TechInsights turut menunjukkan kinerja gabungan OPPO dan OnePlus belum mengikuti pertumbuhan industri secara keseluruhan. Pada kuartal II/2025, pengapalan keduanya turun secara tahunan saat pasar ponsel global justru bertumbuh.
| Periode | Data Pengapalan | Konteks Pasar |
|---|---|---|
| Sepanjang 2025 | OnePlus turun dari sekitar 17 juta menjadi 13–14 juta unit | Penurunan global lebih dari 20% |
| Kuartal II/2025 | OPPO dan OnePlus turun 2% secara tahunan | Pasar ponsel global tumbuh 4% |
Ekspansi internasional disebut belum cukup untuk menutup tekanan dari turunnya pangsa pasar domestik di Cina. Kondisi itu dinilai ikut menggerus keuntungan dari pasar luar negeri, terutama ketika persaingan makin ketat.
Tantangan juga disebut menekan lini kelas menengah OnePlus, termasuk Nord 5. Strategi menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga agresif menjadi lebih sulit dipertahankan ketika biaya komponen terus meningkat.
Harga komponen memori LPDDR dilaporkan melonjak hingga 250% karena produsen mengalihkan kapasitas produksi ke cip pusat data AI. Kenaikan ini membuat produsen ponsel kelas menengah semakin sulit menjaga struktur biaya tanpa memangkas margin.
Realme Disebut Mengambil Arah Berlawanan
Di tengah rumor OnePlus kembali berfokus ke Cina, Realme justru dikabarkan akan menarik diri dari pasar domestiknya. Realme berada dalam naungan korporasi yang sama dengan OPPO, sehingga langkah ini disebut dapat menjadi bagian dari pembagian fokus pasar baru.
Belum ada keterangan mengenai negara atau kawasan yang akan menjadi prioritas Realme setelah kemungkinan keluar dari Cina. Informasi serupa dari dua sumber terpisah dengan rekam jejak akurat disebut membuat rumor ini semakin diperhatikan oleh industri.
Margin yang sangat tipis sepanjang 2025 disebut mendorong pertimbangan keputusan korporasi yang lebih radikal. Pasar kini menunggu pernyataan resmi mengenai arah bisnis OnePlus, OPPO, dan Realme di pasar global.







