Reaksi dingin salah satu putri Ruben Onsu di Bandara Soekarno-Hatta meninggalkan luka emosional yang dalam bagi sang ayah. Ruben mengaku momen singkat itu membuat hatinya hancur, patah, dan remuk.
Peristiwa tersebut mencuri perhatian setelah cuplikan reaksi putrinya ramai dibicarakan di media sosial. Ruben kemudian memberikan tanggapan lewat podcast Kacamata Nanda, yang dikutip beritasatu.com.
Momen yang mengguncang Ruben
Ruben Onsu tak menutupi beratnya perasaan saat melihat reaksi anaknya di bandara sebelum berangkat umrah. Ia menyebut pengalaman itu sangat menyakitkan dan sulit dilupakan.
“Saya cuma melihat reaksi anak saya di bandara itu (Soetta), buat saya hancur, patah, dan remuk,” kata Ruben Onsu dikutip dari podcast Kacamata Nanda.
Meski tersakiti, Ruben tetap bersyukur karena setelah itu ia bisa pergi ke tempat Allah. Ia menilai perjalanan itu memberinya ruang untuk mencurahkan perasaan di rumah Allah Swt.
Pertemuan yang dianggap bukan kebetulan
Ruben juga memandang pertemuannya dengan kedua putrinya setelah lama tak bertemu bukan sebagai kejadian biasa. Menurutnya, momen itu sudah menjadi bagian dari takdir yang harus dijalani.
“Jadi, pertemuan itu gue percaya memang sudah ada takdirnya karena memang kita harus bertemu di situasi itu untuk semakin terbuka lagi,” lanjutnya.
Dalam penjelasannya, Ruben turut menyinggung tindakan Sarwendah yang ikut ramai diperbincangkan di media sosial. Ia menilai sikap tersebut tidak muncul begitu saja.
Menurut Ruben, ada dorongan dari orang-orang di belakangnya yang membuat situasi berkembang seperti itu. Ia menegaskan pandangannya dengan menyebut bahwa dirinya berbicara secara fair.
Menilai ada pihak yang memprovokasi
Ruben mengatakan Sarwendah tetap memiliki sisi baik. Namun, ia meyakini perilaku yang dipersoalkan itu tidak akan terjadi tanpa adanya pihak lain yang memprovokasi.
“Dia tidak akan seperti itu, jika tidak ada yang ngompori di belakangnya, jika tidak ada dalangnya di belakang. Saya bicara fair di sini, jangan dipikir dia (Sarwendah) tidak ada sisi baiknya, ada. Makanya, saya bilang tidak akan mungkin dia berlaku seperti itu kalau tidak ada yang ngomporin,” ujarnya.
Ia kemudian menutup pernyataannya dengan pesan tentang pentingnya kasih dalam keluarga. Ruben menilai tidak seharusnya ada tindakan yang mempermalukan seorang ayah di depan keluarga maupun orang terdekat.
“Seharusnya orang-orang itu punya kasih, bukan mempermalukan ayahnya, atau mempermalukan ayahnya keponakan lu,” tutupnya.
Source: www.beritasatu.com






