
Daihatsu Rocky Hybrid mencatat minat awal yang cukup nyata di Indonesia, tetapi tantangan terbesarnya justru ada di kecepatan distribusi. Total pesanannya disebut sudah mencapai 750 unit, sementara unit yang sudah dikirim baru sekitar 400 unit.
Selisih itu berarti masih ada sekitar 350 pesanan yang belum terpenuhi. Kondisi ini membuat Rocky Hybrid terlihat laris di atas kertas, tetapi proses pengirimannya belum sepenuhnya mengejar permintaan.
Masih impor dari Jepang jadi penghambat utama
Salah satu alasan utama lambatnya distribusi adalah status Rocky Hybrid yang masih diimpor langsung dari Jepang. Karena belum dirakit secara lokal, Daihatsu tidak bisa mempercepat suplai sesuka hati.
Persiapan untuk merakitnya di dalam negeri juga disebut membutuhkan waktu lama. Akibatnya, pengiriman berjalan bertahap dan tidak secepat model baru lain yang biasanya langsung mencatat volume besar setelah meluncur.
Pesanan belum tembus 1.000 unit
Sejak tahun 2025, Rocky Hybrid sudah dipesan kurang dari 1.000 unit. Angka 750 unit menunjukkan model ini tetap punya peminat, meski belum melesat setinggi ekspektasi untuk mobil baru dengan teknologi hybrid.
Situasi ini terasa menarik karena Rocky Hybrid bermain di segmen SUV kompak yang persaingannya ketat. Namun, model ini punya pembeda penting karena belum banyak rival yang menawarkan varian hybrid di kelas yang sama.
Teknologi e-Smart jadi nilai jual
Rocky Hybrid memakai teknologi series hybrid dengan sistem e-Smart. Dalam skema ini, motor listrik menjadi penggerak roda, sedangkan mesin bensin 1.200 cc berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya.
Mobil ini juga menggunakan baterai berkapasitas 0,74 kWh. Kapasitas itu disebut lebih kecil daripada mobil listrik murni, tetapi masih lebih besar dibanding baterai pada mobil hybrid biasa.
Karakter teknologinya membuat Rocky Hybrid berbeda dari model HEV lain, termasuk dari sistem Toyota Hybrid System yang memakai paralel hybrid. Perbedaan ini menjadi salah satu daya tarik utama Rocky Hybrid di tengah pasar elektrifikasi yang makin ramai.
SUV kompak tetap jadi alasan menarik minat
Daihatsu melihat Rocky tetap diminati karena posisinya sebagai SUV kompak. Citra Rocky sebagai salah satu model entry level yang kuat di kelasnya juga ikut menjaga minat konsumen.
Di saat yang sama, pasar mobil ramah lingkungan kini semakin padat. Mobil listrik mulai mendominasi sorotan, sementara banyak merek lain juga menawarkan model elektrifikasi dalam bentuk MPV hingga hatchback.
Strategi Daihatsu masih condong ke hybrid
Daihatsu belum memberi rincian lanjutan soal perluasan teknologi e-Smart ke model lain. Rencana itu memang ada, tetapi belum ada kepastian apakah akan segera dijalankan atau masih menunggu waktu yang tepat.
Di tengah tren mobil listrik yang terus berkembang, Daihatsu tampaknya masih memilih fokus pada lini hybrid. Rocky Hybrid menjadi contoh paling jelas dari strategi itu, apalagi pengirimannya masih dilakukan secara bertahap.
Dengan total pesanan 750 unit dan pengiriman sekitar 400 unit, Rocky Hybrid tetap menunjukkan bahwa pasar SUV hybrid masih terbuka. Tantangan berikutnya ada pada percepatan distribusi dan menjaga minat konsumen tetap kuat sampai seluruh unit sampai ke tangan pembeli.
Source: ridertua.com




