RKAB Masih Abu-Abu, Multifinance Mulai Menarik Rem di Pembiayaan Alat Berat

Ketidakpastian penyesuaian rencana kerja dan anggaran biaya atau RKAB batu bara mulai menekan industri pembiayaan, terutama di segmen alat berat. Sejumlah perusahaan multifinance kini bergerak lebih hati-hati karena pelaku tambang cenderung menahan ekspansi dan menunda pembelian unit baru.

Situasi itu membuat permintaan pembiayaan alat berat melambat, meski aktivitas operasional tambang belum berhenti. Di tengah rem yang mulai diinjak itu, perusahaan pembiayaan masih melihat ada ruang di kebutuhan yang sifatnya mendesak, seperti sparepart, solar, dan modal kerja.

Permintaan mulai melandai

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno menilai pasar saat ini masih menunggu kepastian arah kebijakan. Ia mengatakan pengusaha tambang cenderung berhati-hati menambah armada karena alat yang sudah ada pun belum tentu terpakai sepenuhnya.

Menurut Suwandi, kondisi seperti ini membuat keputusan investasi baru ikut tertahan. Jika izin penambahan produksi belum jelas atau bahkan berisiko berkurang, maka permintaan atas pembiayaan alat berat juga ikut melemah.

Ia menambahkan, industri multifinance pada akhirnya lebih bergantung pada debitur lama agar pembayaran cicilan tetap lancar. Di sisi lain, perusahaan masih berharap ada penopang dari pembiayaan modal usaha dan modal kerja yang tetap dibutuhkan sektor tambang.

Tanda perlambatan sudah terlihat

Suwandi yang juga Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing atau CSUL menyebut perlambatan sudah tampak di kuartal I/2026. Perusahaannya membiayai 227 unit alat berat pada tahun lalu, sedangkan tahun ini baru 145 unit, termasuk truk dan unit pendukung tambang lainnya.

Data itu menunjukkan kehati-hatian terjadi di dua sisi sekaligus, yakni debitur dan pemberi pembiayaan. Saat ekspansi tambang tertahan, kebutuhan untuk menambah alat produksi ikut mengecil dan berdampak langsung pada volume pembiayaan.

Pemain multifinance memilih strategi selektif

Adira Finance menyebut belum pastinya penyesuaian RKAB batu bara membuat penyaluran pembiayaan alat berat berjalan lebih hati-hati. Namun, perusahaan menegaskan eksposurnya tidak hanya bergantung pada batu bara karena portofolionya juga mencakup konstruksi, pertanian, infrastruktur, dan sektor lain.

Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan kondisi itu mendorong ekspansi dilakukan lebih selektif. Perusahaan tetap menjaga pertumbuhan yang sehat dengan membuka peluang pada sektor lain yang masih membutuhkan alat berat.

Adira juga memperkuat prudent underwriting serta menjaga kualitas portofolio melalui monitoring dan collection yang disiplin. Pada Maret 2026, total pembiayaan alat berat Adira Finance tercatat Rp136 miliar dan masih tumbuh positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Diversifikasi jadi penyangga utama

BRI Finance mengambil langkah serupa dengan menyesuaikan strategi pembiayaan secara adaptif dan prudent. Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan perusahaan memperkuat manajemen risiko, meningkatkan selektivitas, dan memantau portofolio secara intensif, terutama di sektor yang sensitif terhadap harga komoditas.

Bagi BRI Finance, diversifikasi ke sektor produktif lain menjadi cara penting untuk menjaga keseimbangan portofolio. Pada kuartal I/2026, pembiayaan alat berat berkontribusi 17,80% terhadap total portofolio pembiayaan, sementara penyalurannya tumbuh 33,26% secara tahunan.

Aditia juga mengatakan hingga saat ini belum ada arahan regulator yang berdampak langsung pada penyaluran pembiayaan alat berat. Karena itu, aktivitas pembiayaan masih berjalan normal dengan dukungan kebutuhan operasional dan kontrak yang sudah berjalan.

Risiko dijaga, ekspansi tetap jalan

Clipan Finance Indonesia juga mencermati perkembangan regulasi dan proses penyesuaian RKAB sebagai bagian dari manajemen risiko. Direktur Utama Clipan Finance Indonesia Harjanto Tjitohardjojo mengatakan perusahaan menerapkan evaluasi kredit yang lebih ketat tanpa menghentikan penyaluran pembiayaan secara keseluruhan.

Porsi pembiayaan ke sektor pertambangan batu bara disebut masih terukur dan terkendali. Pada saat yang sama, Clipan Finance memperluas penyaluran ke perkebunan, konstruksi, dan infrastruktur agar risiko tidak menumpuk di satu sektor.

Pola ini memperlihatkan bahwa multifinance masih melihat peluang di alat berat, tetapi dengan komposisi yang lebih seimbang. Penyebaran pembiayaan ke berbagai wilayah juga dipakai untuk menjaga pertumbuhan portofolio tetap positif.

Kekosongan kepastian menahan proyek baru

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bakhtiar menilai ketidakpastian RKAB batu bara memberi dampak cukup besar pada penyaluran pembiayaan multifinance. Menurut dia, pelaku tambang menunda ekspansi dan pembelian alat berat karena tidak berani berspekulasi dengan kondisi keuangan yang belum jelas.

Bisman menekankan, ketiadaan kepastian produksi membuat banyak proyek tertunda dan permintaan pembiayaan ikut melemah. Dalam situasi seperti itu, industri pembiayaan didorong memperluas portofolio ke sektor lain seperti konstruksi, logistik, dan energi terbarukan.

Ia juga menyarankan skema pembiayaan dibuat lebih fleksibel untuk mengakomodasi risiko sektor tambang yang besar unsur ketidakpastiannya. Di tengah kondisi yang serba menunggu ini, strategi seleksi kredit yang disiplin, diversifikasi sektor, dan kebutuhan operasional yang tetap berjalan menjadi penopang utama pembiayaan alat berat di industri multifinance.

Source: finansial.bisnis.com

Terkait