Pangan bukan lagi sekadar soal kenyang. Apa yang dikonsumsi setiap hari ikut menentukan kecukupan energi, daya tahan tubuh, fungsi organ, hingga risiko penyakit kronis.
Karena itu, riset pangan makin penting untuk menjawab kebutuhan gizi masyarakat secara lebih tepat dan relevan, terutama saat makanan juga dikaitkan dengan kesehatan mental dan pengelolaan berat badan.
Pangan yang diteliti, dampaknya bisa sangat luas
Asupan gizi seimbang membantu tubuh bekerja optimal dan mendukung pencegahan berbagai penyakit. Nutrisi yang baik dapat menurunkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan kanker, sekaligus menjaga kondisi fisik tetap stabil.
Di titik ini, penelitian pangan menjadi kunci untuk memahami bagaimana bahan pangan dari darat dan laut bisa dimanfaatkan berdasarkan potensi serta kearifan lokal. Pendekatan itu juga membuka ruang inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
IRN membuka ruang untuk topik yang lebih beragam
Program Indofood Riset Nugraha atau IRN 2026–2027 menerima proposal penelitian dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan air. Cakupannya tidak berhenti pada bahan baku, tetapi juga menyentuh cara produksi, pengolahan, sampai penerimaan di masyarakat.
Ruang riset yang dibuka program ini mencakup Agro-Teknologi atau budidaya, Teknologi Proses atau Pengolahan, Gizi dan Kesehatan Masyarakat, serta Sosial Budaya, Ekonomi, dan Pemasaran. Dengan begitu, penelitian pangan bisa didekati dari banyak sisi, bukan hanya dari laboratorium.
Pangan fungsional jadi arah yang semakin diperhatikan
Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, Ketua Tim Pakar sekaligus Guru Besar IPB, menegaskan bahwa pangan kini dipahami lebih dari sekadar pemenuh gizi dan energi. Menurut dia, pangan juga berperan sebagai penopang kesehatan melalui pangan fungsional yang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan riset yang tidak hanya menilai kandungan makanan, tetapi juga manfaatnya bagi tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, arah ini memberi peluang bagi ide-ide berbasis bahan lokal yang punya nilai kesehatan lebih jelas.
Mahasiswa lintas disiplin ikut diberi peluang
IRN juga terbuka untuk mahasiswa dari semua program studi, bukan hanya dari Teknologi Pangan. Selama topik penelitian sesuai tema dan bidang cakupan yang ditetapkan, proposal dari lintas disiplin tetap dapat diajukan.
Kesempatan ini penting karena persoalan pangan sering bersinggungan dengan banyak bidang ilmu. Potensi lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari bisa menjadi titik awal untuk lahirnya gagasan ilmiah yang lebih aplikatif.
Riset pangan dan kaitannya dengan daya tahan tubuh
Asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup berperan dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh. Nutrisi yang memadai membantu tubuh tidak mudah terserang infeksi, sementara komposisi makanan juga ikut memengaruhi produksi neurotransmitter di otak.
Artinya, dampak pangan tidak hanya terasa pada kesehatan fisik. Suasana hati dan fungsi kognitif juga ikut dipengaruhi, sehingga makanan perlu dipandang sebagai bagian dari sistem kesehatan yang lebih luas.
Kesempatan bagi calon peneliti muda
Proposal yang kuat dalam program ini dinilai dari relevansi, kejelasan kontribusi, dan kesesuaian topik dengan pangan fungsional. Latar belakang penelitian juga perlu mampu menunjukkan urgensi masalah secara meyakinkan.
Suaimi Suriady, Ketua Program IRN dan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, menyebut program ini bukan hanya dukungan dana penelitian. IRN juga diposisikan sebagai wadah pembelajaran, kolaborasi, dan pengembangan kapasitas bagi ribuan mahasiswa Indonesia.
Pengajuan proposal dibuka mulai 29 Mei hingga 31 Agustus 2026, lalu akan diseleksi oleh Tim Pakar IRN yang terdiri dari akademisi dan praktisi lintas disiplin ilmu. Program ini sekaligus mendorong mahasiswa agar lebih peka dan eksploratif dalam mengangkat kearifan lokal menjadi inovasi pangan fungsional berbasis ilmiah.
Source: lifestyle.bisnis.com






