
Ribuan buruh dari berbagai daerah industri di Jawa Timur mengepung depan Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Nomor 110, Surabaya, pada Jumat (1/5). Aksi May Day ini langsung mengarah ke isu yang paling sensitif bagi pekerja, yakni upah murah, pajak pesangon, dan outsourcing.
Massa datang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Tuban, Probolinggo, Jombang, Jember, Banyuwangi, hingga Lumajang. Mereka mulai berkumpul sekitar pukul 15.03 WIB dengan mengenakan seragam serikat masing-masing dan membawa poster bernada protes.
Sorotan pada upah dan pesangon
Poster-poster yang dibawa buruh memperlihatkan arah utama tuntutan mereka. Di antaranya bertuliskan “THR (Tunjangan Hari Raya) itu Hak Buruh, Bukan Hakmu”, “Stop Pajak Pesangon, Rakyat Butuh Makan, Bukan Potongan”, dan “Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah”.
Sejumlah poster satir juga muncul dalam aksi tersebut. Tulisan seperti “Upah Kini Seperti Nyawamu, Murah!” dan “Buruh Bayar PPh Pakai Keringat, Penguasa Makan Nikmat” memperkuat nada kritik terhadap kebijakan ketenagakerjaan.
Wakil Sekretaris DPW FSPMI Provinsi Jawa Timur, Nuruddin Hidayat, mengatakan massa lebih dulu melakukan long march dari BG Junction Mall, Jalan Bubutan. Ia menyebut May Day sebagai agenda tahunan untuk menagih komitmen pemerintah agar tidak berhenti pada janji.
21 tuntutan buruh Jawa Timur
Dalam peringatan May Day 2026, buruh Jawa Timur membawa 21 tuntutan yang mencakup level nasional dan daerah. Di tingkat nasional, mereka menyoroti penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, dan perlindungan pekerja digital.
Di tingkat daerah, tuntutan mereka menekan pemerintah agar lebih konkret menjalankan komitmen yang sudah disuarakan. Poin yang didorong antara lain penyediaan rumah murah, pengawasan praktik outsourcing, penegakan UMK, dan pembentukan satgas pencegahan PHK.
Aksi di Surabaya ini menjadi bagian dari gelombang peringatan Hari Buruh yang memadukan simbol protes dengan tekanan politik. Melalui spanduk, poster, dan orasi, para buruh menuntut agar kebijakan yang dijanjikan benar-benar berpihak pada pekerja.
Kerumunan besar di depan kantor gubernur juga menunjukkan kuatnya konsolidasi serikat buruh di Jawa Timur. Kehadiran massa dari banyak daerah industri memperlihatkan bahwa isu upah murah dan pajak pesangon tidak hanya menjadi keluhan lokal, tetapi juga persoalan yang dirasakan luas oleh pekerja.
Di tengah aksi, pesan utama buruh tetap mengarah pada perlindungan pendapatan dan kepastian kerja. Mereka ingin pemerintah daerah dan pusat merespons tuntutan itu dengan langkah yang lebih nyata, bukan sekadar janji yang berulang setiap peringatan Hari Buruh.
Source: www.jawapos.com




