Pemerintah mempercepat perluasan akses pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus lewat kombinasi yang jarang disorot sekaligus, yaitu revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan kompetensi guru. Tiga langkah ini diposisikan bukan hanya untuk menambah fasilitas, tetapi juga agar layanan pendidikan inklusif lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Fokus itu terlihat saat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meninjau SLB di Jawa Tengah. Di Kendal dan Weleri, pemerintah menunjukkan bahwa akses belajar anak berkebutuhan khusus kini didorong dari dua sisi sekaligus, yaitu ruang kelas yang lebih layak dan media belajar yang lebih adaptif.
Revitalisasi sekolah untuk menambah daya tampung dan layanan
SLB M Surya Bangsa Kabupaten Kendal menerima bantuan pembangunan dua ruang kelas baru, satu perpustakaan, dan satu ruang keterampilan. Fasilitas itu disiapkan untuk mendukung layanan bagi 111 peserta didik yang belajar di sekolah tersebut.
Di lokasi lain, pemerintah juga membangun Unit Sekolah Baru di SLB Muhammadiyah Weleri. Kehadiran fasilitas baru ini ditujukan untuk memperluas akses pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jawa Tengah sekaligus menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
| Satuan Pendidikan | Bantuan/Fasilitas | Catatan |
|---|---|---|
| SLB M Surya Bangsa Kabupaten Kendal | 2 ruang kelas baru, 1 perpustakaan, 1 ruang keterampilan | Untuk 111 peserta didik |
| SLB Muhammadiyah Weleri | Unit Sekolah Baru | Memperluas akses pendidikan di Jawa Tengah |
Papan Interaktif Digital mulai masuk ke ruang kelas SLB
Revitalisasi fisik itu berjalan bersamaan dengan dorongan digitalisasi pembelajaran. Pemerintah terus mendistribusikan Interactive Flat Panel atau Papan Interaktif Digital ke berbagai satuan pendidikan, termasuk SLB, agar proses belajar mengajar lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.
Saat membuka Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran bagi guru SLB di Jawa Tengah, Fajar menyebut distribusi perangkat digital akan terus diperluas pada tahun ini. Ia mengatakan tambahan unit IFP akan dikirim ke masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan jumlah siswa atau rombongan belajar.
Fajar menegaskan bahwa perangkat itu tidak sekadar dibagikan sebagai alat bantu kelas. Menurutnya, Papan Interaktif Digital memberi makna yang lebih dalam karena membantu anak berkebutuhan khusus mengakses media belajar yang lebih luas.
“Itu bukan semata-mata proyek bagi-bagi IFP, tetapi sebenarnya punya makna yang lebih dalam untuk membantu akses anak-anak berkebutuhan khusus terhadap media belajar,” ujarnya.
Ia juga mengatakan teknologi tersebut membuat guru bisa menghadirkan materi yang lebih variatif sesuai karakteristik peserta didik. “Kehadiran PID ini justru menjembatani mereka untuk bisa mengakses media-media ajar yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” ucapnya.
Guru menjadi penentu utama pendidikan inklusif
Dalam pandangan Fajar, pendidikan inklusif menuntut guru memahami karakter dan kebutuhan belajar setiap anak. Ia menegaskan bahwa yang perlu menyesuaikan pembelajaran adalah guru, bukan peserta didik.
“Dalam pendidikan inklusif itu bukan anaknya yang diminta menyesuaikan kepada guru, tetapi bagaimana guru menyesuaikan dengan kemampuan anak dalam mencerna satu pembelajaran,” tegasnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menilai peningkatan kompetensi guru menjadi fondasi penting agar transformasi pendidikan inklusif berbasis teknologi berjalan efektif. Ia menyebut bimbingan teknis itu dirancang supaya digitalisasi pendidikan tetap inklusif, adaptif, dan berdampak nyata bagi peserta didik penyandang disabilitas.
Selama empat hari pelatihan, guru SLB dibekali pemanfaatan Papan Interaktif Digital, pembuatan video pembelajaran, pengembangan permainan edukatif, dan penggunaan platform Rumah Pendidikan sebagai ruang berbagi praktik baik antarguru. Peserta juga didorong menghasilkan produk pembelajaran inovatif yang bisa langsung diterapkan di sekolah masing-masing.
Peserta bimtek diminta menularkan ilmu ke sekolah lain
Setelah pelatihan selesai, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan di komunitas belajar mereka. Mereka diminta membagikan ilmu dan pengalaman yang didapat agar kompetensi guru dalam pembelajaran digital yang inklusif bisa menyebar lebih cepat.
Menjelang akhir kunjungan, Fajar mengingatkan bahwa para peserta memiliki tanggung jawab moral untuk menyalurkan pengetahuan itu ke rekan sejawat. “Peserta yang hadir adalah perwakilan yang dipilih untuk mendapatkan kesempatan mengikuti Bimtek ini. Oleh karena itu Bapak Ibu punya tanggung jawab moral yang besar untuk menularkan atau mengimbaskan apa yang sudah didapatkan kepada kolega-kolega yang lain,” ujarnya.
Dengan revitalisasi sekolah, pemanfaatan teknologi digital, dan peningkatan kapasitas guru, pemerintah menempatkan tiga pilar itu sebagai dasar penguatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Targetnya jelas, lebih banyak peserta didik penyandang disabilitas bisa memperoleh kesempatan belajar yang setara, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Source: www.sultranet.com






