Remaja Makin Terjerat Rokok Murah Dan Iklan, Alarm Kesehatan Nasional Makin Keras

Alarm kesehatan nasional kembali menguat karena perokok usia muda terus bertambah, sementara rokok murah dan iklan masih mudah ditemui di sekitar kehidupan anak dan remaja. Sejumlah data survei menunjukkan kelompok usia muda kini menjadi sasaran paling rentan, baik terhadap rokok konvensional maupun rokok elektrik.

Koalisi Indonesian Youth Council for Tactical Changes atau IYCTC menilai situasi ini bukan sekadar soal kebiasaan merokok, melainkan tanda lingkungan yang masih memberi ruang besar bagi industri tembakau. Dari Riset Kesehatan Indonesia 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia tercatat lebih dari 70,2 juta jiwa dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-3 dunia untuk jumlah konsumen tembakau tertinggi setelah China dan India.

Remaja jadi target paling rentan

Lazuardi Hakiman Hanif dari IYCTC menyebut remaja yang terpapar iklan rokok memiliki peluang 1,67 kali lebih besar menjadi perokok aktif. Ia menyampaikan kekhawatiran itu dalam acara CFD Koalisi SOS, di tengah temuan bahwa banyak anak muda terus terdorong masuk ke kebiasaan merokok sejak dini.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dilakukan Kemenkes juga memperlihatkan sekitar 7,4% dari 70 juta perokok aktif berada di kelompok usia 10-18 tahun. Angka itu menegaskan bahwa persoalan rokok tidak lagi hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga remaja yang masih berada pada fase tumbuh kembang.

Iklan dan lingkungan ikut memperkuat risiko

IYCTC melalui program Dewan Perwakilan Remaja atau DPRemaja menemukan paparan yang luas di sejumlah wilayah Jakarta. Di Cilincing, Matraman, dan Tanah Abang, ada 86.541 anak yang setiap hari terpaksa terpapar asap rokok dan dikepung 254 titik iklan.

Temuan itu menunjukkan ancaman rokok tidak hanya hadir lewat produk yang dijual murah, tetapi juga lewat promosi yang terus muncul di sekitar ruang hidup anak dan remaja. Lazuardi menyoroti iklan bertema petualangan yang kerap melekat pada produk tembakau dan vape, karena narasi seperti itu dapat membuat rokok tampak menarik bagi generasi muda.

Kelompok usia sekolah paling dominan

Kondisi tersebut sejalan dengan tren nasional yang memperlihatkan perokok muda terus bertambah. Data Global Youth Tobacco Survey 2019 mencatat prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13-15 tahun naik dari 18,3% pada 2016 menjadi 19,2% pada 2019.

SKI 2023 juga menunjukkan kelompok usia 15-19 tahun menjadi kelompok perokok terbanyak dengan porsi 56,5%, disusul usia 10-14 tahun sebesar 18,4%. Pola ini memperkuat gambaran bahwa usia sekolah masih menjadi sasaran paling rentan dalam konsumsi tembakau.

Rokok elektrik ikut memperluas persoalan

Ancaman bagi remaja tidak berhenti pada rokok konvensional. Data Global Adult Tobacco Survey 2021 menunjukkan prevalensi pengguna rokok elektrik naik tajam dari 0,3% pada 2019 menjadi 3% pada 2021 di kalangan remaja.

Ketua PKJS UI Aryana Satrya menilai momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi pengingat penting agar generasi usia produktif tidak terus dijadikan sasaran pemasaran industri rokok. Ia menekankan bahwa di tengah peluang bonus demografi, kesehatan dan produktivitas anak muda semestinya dijaga, bukan dikorbankan demi keuntungan industri tembakau.

Risiko bagi bonus demografi

Kekhawatiran itu sejalan dengan pandangan bahwa tingginya konsumsi rokok pada usia muda dapat mengganggu kualitas generasi penerus. Jika paparan iklan, harga murah, dan kemasan promosi terus dibiarkan, risiko adiksi nikotin pada remaja akan semakin besar.

Karena itu, pencegahan di ruang publik, sekolah, dan lingkungan sekitar anak menjadi semakin penting. Data yang tersedia menunjukkan alarm kesehatan terkait perokok usia muda bukan lagi sinyal awal, melainkan persoalan yang sudah berlangsung luas dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait