Rawamangun Jadi Ruang Baca Identitas Lewat Foto, 14 Karya Menyapa Lintas Waktu

Author: Cung Media

Pameran fotografi di Rawamangun menempatkan foto bukan sekadar sebagai pajangan visual, tetapi sebagai cara membaca identitas manusia yang terus bergerak. Lewat tema “Identitas dalam Perspektif Fotografi Lintas Waktu”, pengunjung diajak melihat bagaimana diri, komunitas, budaya, dan perubahan sosial saling bertaut dari satu generasi ke generasi lain.

Komunitas Mozarts73 menggelar pameran itu di Rasaharsa Coffee, Jakarta Timur, dengan menghadirkan karya dari 14 fotografer. Selama sebulan, ruang ini berubah menjadi arena pertemuan antara arsip visual, pengalaman personal, dan pembacaan baru atas perubahan zaman.

Foto sebagai Jejak yang Terus Berubah

Di pameran ini, identitas dibaca sebagai sesuatu yang lahir dari pengalaman, lingkungan, sejarah, dan perkembangan masyarakat. Setiap foto diposisikan sebagai penanda waktu yang menyimpan memori visual sekaligus membuka tafsir baru tentang pergeseran identitas.

Pendekatan itu membuat karya-karya yang ditampilkan tidak berhenti pada keindahan gambar. Pengunjung juga diajak menelusuri relasi antara manusia dan perubahan sosial yang membentuk cara mereka memandang diri sendiri maupun lingkungannya.

Digelar Sebulan di Jakarta Timur

Pameran berlangsung mulai 21 Juni hingga 12 Juli 2026 dan dibuka setiap hari, Senin sampai Minggu, pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Jadwal yang panjang memberi waktu bagi publik untuk datang tanpa terbatas pada hari tertentu.

Lokasi di Rawamangun juga membuat pameran ini relatif mudah dijangkau oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Suasana ruang pamer di Rasaharsa Coffee ikut mendukung interaksi yang lebih dekat antara karya, fotografer, dan publik.

Dibuka oleh Komunitas Fotografi dan Perwakilan Lembaga

Pembukaan pameran dipimpin oleh Jimmy Bens Silaen selaku Ketua Komunitas Mozarts73. Peresmian juga dilakukan oleh Ir. Priadi Soefjanto, Direktur LSP LPK Inscinema, dengan kehadiran komunitas 101class fotografi serta sejumlah komunitas fotografi lainnya.

Pertemuan lintas komunitas itu menambah lapisan makna pada pembukaan pameran. Acara ini tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga ruang temu bagi para pegiat fotografi untuk berbagi pandangan.

14 Fotografer dengan Sudut Pandang Beragam

Sebanyak 14 fotografer berkontribusi dalam pameran ini, yakni Agam Akbar Pahala, Amran Malik, Antonius Efendi, Dedih Nur Fajar Paksi, Dr. Riski Taufik, Ferdiansyah, Syantika Marwah, Mega Rusiandi, Priyo Widdy, Roy Rafael, Saut Mangihut Marpaung, Teuku Iqbal Prianda, dan Vanka Alcione.

Keberagaman nama peserta memberi gambaran bahwa pameran ini memang dibangun dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal itu sejalan dengan tema lintas waktu yang menyoroti identitas sebagai sesuatu yang tidak tunggal dan terus bergerak.

Diskusi Fotografi dan Hunting Model Bertema Vintage Retro

Rangkaian kegiatan pameran tidak berhenti pada display karya. Selama berlangsung, acara juga diisi diskusi fotografi dan hunting model dengan tema vintage retro.

Dalam diskusi itu, pembahasan mencakup spektrum fotografi dari pemula hingga komersial. Disorot pula bahwa fotografer perlu memiliki keterampilan yang baik dan akan memiliki nilai lebih bila didukung sertifikasi kompetensi.

Sertifikasi kompetensi dipahami sebagai pengakuan resmi atas keahlian, pengetahuan, dan sikap kerja seseorang. Dalam konteks acara ini, sertifikasi tersebut disebut dikeluarkan oleh BNSP.

Hunting model menjadi penutup rangkaian pembukaan pameran pada hari Minggu. Para fotografer dari berbagai komunitas memotret model dengan pendekatan visual bergaya vintage retro sesuai tema kegiatan.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru