Erling Haaland punya kebutuhan energi yang jauh di atas rata-rata pemain sepak bola. Di balik stamina dan konsistensinya, penyerang Timnas Norwegia itu dilaporkan rutin mengonsumsi sekitar 6.000 kalori per hari.
Angka tersebut membuat pola makannya terlihat sangat berbeda dari kebiasaan makan orang dewasa pada umumnya. CNBC Indonesia dan Forbes mencatat pedoman asupan harian orang dewasa berada di kisaran 1.600 hingga 3.000 kalori, sehingga kebutuhan Haaland memang berada di kelas yang berbeda.
Kebutuhan Energi Atlet Elite
Dengan tinggi 196 cm dan torehan 62 gol dalam 54 penampilan untuk Norwegia, Haaland memang berada di level fisik yang tidak biasa. Ia juga pernah mencetak tujuh gol hanya dalam empat pertandingan di Piala Dunia FIFA 2026, yang memperlihatkan besarnya beban tubuh yang harus ia tanggung di lapangan.
Untuk membakar 6.000 kalori, rata-rata orang harus berlari sekitar 6 sampai 7,5 jam atau lompat tali selama 5 sampai 6 jam. Itulah sebabnya kebutuhan makan sebesar itu hanya masuk akal bagi atlet dengan tuntutan fisik ekstrem seperti Haaland.
Menu Harian yang Mengandalkan Makanan Utuh
Pemain Manchester City itu diketahui menerapkan konsep ancestral diet atau diet leluhur. Pola makan ini menghindari makanan modern pasca-Revolusi Industri, termasuk ultra-olahan, gula rafinasi, minyak biji industri, dan suplemen kimia.
Di sisi lain, pola tersebut menekankan whole foods yang alami dan bersumber lokal. Haaland juga menjalankan filosofi nose-to-tail eating, yakni mengonsumsi seluruh bagian hewan untuk memaksimalkan variasi nutrisi.
| Menu Harian yang Disebutkan | Contoh Makanan | Catatan |
|---|---|---|
| Protein hewani | Jantung dan hati sapi | Bagian hewan yang kaya nutrisi |
| Sumber energi lain | Madu murni dan ikan kakap | Mendukung asupan kalori harian |
| Pelengkap makanan | Asparagus dan nasi goreng telur | Menambah variasi menu harian |
Dalam film dokumenter Haaland: The Big Decision, menu hariannya disebut mencakup jantung dan hati sapi, madu murni, ikan kakap, asparagus, serta nasi goreng telur. Susunan ini menunjukkan sumber energi Haaland banyak bertumpu pada bahan makanan sederhana, utuh, dan padat nutrisi.
Manfaat dan Risiko Jika Ditiru
Secara ilmiah, makanan utuh dan segar memang lebih baik dibanding makanan ultra-olahan. Sejumlah penelitian yang dirujuk CNBC Indonesia menyebut makanan ultra-olahan berkaitan dengan risiko kanker kolorektal, gangguan hormon, peradangan, hingga kematian dini.
Jeroan yang menjadi bagian dari pola makan Haaland juga punya sisi positif. Jantung, hati, ginjal, hingga sumsum tulang kaya zat besi, protein, asam alfa-lipoat, serta mineral penting seperti magnesium, seng, dan selenium.
| Sisi Positif | Sisi Risiko | Penjelasan |
|---|---|---|
| Kaya zat besi, protein, dan mineral | Tinggi kolesterol dan lemak jenuh | Bisa meningkatkan risiko kardiovaskular |
| Memuat vitamin A, D, E, dan K | Kelebihan zat besi dan vitamin A | Berisiko menimbulkan gangguan kesehatan tertentu |
| Lebih ekonomis dibanding potongan premium | Purin tinggi | Dapat memicu serangan asam urat |
| Potensi fatty liver dan kanker kandung kemih | Sejumlah penelitian awal mengaitkannya dengan risiko ini |
Di sisi lain, pola makan berbasis jeroan juga menyimpan risiko bila ditiru sembarangan. Kadar lemak jenuh yang tinggi dapat memicu penyakit kardiovaskular, sementara konsumsi berlebih bisa menyebabkan kelebihan zat besi, keracunan vitamin A, dan serangan asam urat.
Risiko itu menjadi semakin relevan bagi kelompok tertentu, termasuk wanita hamil, karena kelebihan vitamin A dapat memicu cacat lahir pada janin. Selain itu, diet leluhur yang terlalu kaku juga kerap melupakan bahwa manusia purba memiliki harapan hidup lebih pendek dan sering mengalami kekurangan nutrisi.
Pola makan Haaland pada akhirnya menunjukkan bahwa kebutuhan atlet elite tidak bisa disamakan dengan kebutuhan tubuh kebanyakan orang. Yang bekerja untuk mesin gol seperti dia belum tentu cocok untuk orang dengan aktivitas harian yang jauh lebih ringan.
Source: www.cnbcindonesia.com






