Panen durian dua kali dalam setahun ternyata bukan semata soal keberuntungan. Di Dusun Tambangan, Wonosobo, Jawa Tengah, Wantoro menunjukkan bahwa hasil itu lahir dari perawatan yang disiplin, terukur, dan disesuaikan dengan fase tumbuh pohon.
Ia merawat sekitar 16 pohon durian dewasa agar tetap produktif. Kuncinya ada pada tiga hal yang dijaga konsisten: air, pupuk, dan ketepatan membaca kebutuhan pohon pada waktu yang berbeda.
Air Harus Masuk ke Akar, Bukan Menggenang
Penyiraman menjadi fondasi utama dalam budidaya durian. Pohon durian dewasa memang membutuhkan air dalam jumlah banyak, tetapi tidak perlu disiram terlalu sering.
Tujuan penyiraman adalah memastikan air meresap sampai ke zona perakaran yang dalam. Karena itu, tanah perlu tetap basah tanpa menjadi lembek atau tergenang.
Genangan justru berisiko merusak akar karena durian sensitif terhadap kondisi terlalu basah. Saat musim kemarau, satu pohon dewasa umumnya membutuhkan sekitar 5 sampai 15 galon berukuran 19 liter dalam sekali penyiraman.
Frekuensi penyiraman juga disesuaikan dengan kondisi tanah. Jika tanah belum terlalu kering, penyiraman biasanya cukup dilakukan dua kali seminggu.
Pupuk Organik dan NPK Diberi Bertahap
Selain air, unsur hara juga menentukan produktivitas pohon durian. Wantoro menggunakan pupuk kandang matang atau kompos sebagai pupuk dasar untuk menjaga kesuburan tanah.
Dosis minimal yang diberikan adalah sekitar 20 kilogram per pohon setiap tahun. Pemberiannya dilakukan satu sampai dua kali setahun, terutama pada awal musim penghujan.
Di luar pupuk dasar, ia juga memberi pupuk NPK seimbang sebanyak 2 hingga 5 kilogram per pohon per tahun. Namun, dosis itu tidak diberikan sekaligus agar penyerapan nutrisi lebih efektif.
Pemupukan NPK dibagi menjadi tiga sampai empat kali aplikasi. Waktunya mengikuti fase penting pohon, mulai setelah panen, menjelang pembungaan, setelah bunga berubah menjadi buah, hingga masa pembesaran buah.
Stres Air Dipakai Saat Pohon Mulai Berbunga
Ada perlakuan khusus saat pohon memasuki fase pembungaan. Pada tahap ini, penyiraman dihentikan sementara untuk memberi stres air ringan yang dapat merangsang munculnya bunga.
Setelah bunga mulai terlihat, penyiraman kembali dilakukan secara bertahap. Langkah ini menunjukkan bahwa kebutuhan air durian tidak sama di setiap fase pertumbuhan.
Ketepatan membaca tanda-tanda pohon menjadi sangat penting. Jika salah waktu, perlakuan yang diberikan bisa kurang efektif untuk mendorong produksi buah.
Cuaca Tetap Bisa Mengubah Hasil Panen
Meski perawatan sudah dilakukan dengan disiplin, faktor cuaca tetap memengaruhi hasil akhir. Wantoro menyebut hujan deras dan angin kencang bisa menurunkan kualitas buah durian.
Buah yang terlalu sering bergerak karena angin dapat menghasilkan isi yang kurang baik. Dampaknya bisa terlihat pada ukuran buah yang lebih kecil atau rasa yang tidak terlalu manis.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa panen maksimal bukan hanya soal teknik budidaya, tetapi juga kemampuan menyesuaikan perawatan dengan kondisi alam. Dalam praktiknya, penyiraman dan pemupukan yang tepat membantu menekan risiko gagal panen dan menjaga pohon tetap produktif dari waktu ke waktu.
