Di Perang Dunia I, masalah terbesar pesawat tempur bukan hanya menemukan lawan, tetapi juga memastikan senapan depan tidak menghancurkan baling-baling sendiri. Dari luar tampak sederhana, tetapi di udara persoalannya sangat rumit.
Senjata yang paling efektif untuk menyerang target di depan pesawat justru berada di posisi paling berbahaya. Senapan di belakang tidak bisa diarahkan ke depan, sementara senjata yang lebih ringan kurang akurat dan tidak mampu membawa amunisi yang lebih berat.
Solusi yang paling menentukan
Upaya awal sempat memakai pelapis baja pada baling-baling. Cara itu bisa mencegah bilah kayu terpotong, tetapi peluru yang mengenai pelat tersebut tetap terbuang percuma.
Terobosan yang akhirnya mengubah cara pesawat tempur bertarung adalah sinkronisasi tembakan. Mekanisme ini mengatur waktu keluarnya peluru agar selalu lewat di sela-sela putaran baling-baling.
Gagasan itu sudah lama dibahas, tetapi Fokker synchronization gear menjadi sistem pertama yang benar-benar dipasang pada Fokker Eindecker milik German Air Service pada akhir 1915. Sistem tersebut harus diaktifkan secara manual oleh pilot sebelum menembak.
Saat poros baling-baling berputar, cam wheel ikut bergerak dan terhubung ke senapan. Hubungan itu mengatur jeda tembakan sehingga peluru tidak mengenai propeller.
Perkembangan berikutnya
Versi serupa kemudian digunakan di Inggris dan Prancis pada 1916. Meski begitu, sistem awal ini tidak selalu andal karena keausan bisa membuat senapan berhenti bekerja atau mengganggu ketepatan waktu tembakan.
Jika sinkronisasi meleset, peluru tetap bisa menghantam baling-baling. Karena itu, pengembangan berlanjut sampai muncul Constantinesco Fire Control Gear atau CC Gear.
CC Gear memakai sistem hidraulik. Sebuah cam yang tersinkron dengan bilah baling-baling menggerakkan plunger dan cylinder, lalu menghasilkan gerakan gelombang yang terhubung ke motor pemicu.
Mekanisme itu membuat senjata hanya menembak di antara bilah-bilah propeller. Dengan cara ini, pesawat tempur bisa menembakkan senjata ke depan tanpa harus mengorbankan baling-balingnya sendiri.







