Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan jejak yang jauh melampaui kursi politik. Sosok yang selama ini dikenal sebagai pengusaha dan penghubung Indonesia-Jepang itu wafat pada Jumat dini hari di Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta Selatan, pada pukul 03.20 WIB.
Kabar duka itu mengejutkan banyak pihak karena Rachmat bukan hanya anggota DPR Fraksi Partai Nasdem, tetapi juga figur yang lama membangun relasi bisnis, pendidikan, dan kebudayaan antara dua negara. Informasi wafatnya disampaikan keluarga melalui akun Instagram resmi @rachmatgobel_rg.
Dididik Di Lingkungan Industri Sejak Kecil
Rachmat Gobel lahir di Gorontalo pada 3 September 1962 sebagai anak kelima sekaligus putra pertama dari pasangan Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Ayahnya dikenal sebagai pendiri Gobel Group, cikal bakal PT Panasonic Gobel Indonesia.
Sejak kecil, ia sudah dibiasakan bekerja di lantai pabrik ketika liburan sekolah. Pengalaman itu membentuk pemahamannya atas proses produksi dan manajemen secara langsung, bukan dari jarak jauh.
| Fakta Utama | Rincian | Keterangan |
|---|---|---|
| Tempat lahir | Gorontalo | 3 September 1962 |
| Orang tua | Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel | Ayahnya pendiri Gobel Group |
| Keluarga | Istri, 2 anak, dan cucu | Retno Damayanti, Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani, Mohammad Arif Gobel |
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Jakarta pada 1981, Rachmat melanjutkan studi perdagangan internasional di Chuo University, Tokyo. Pilihan itu membuatnya akrab dengan bahasa dan budaya Jepang sejak muda.
Ia juga menjalani magang selama 2 tahun di kantor pusat Matsushita di Osaka. Dari sana, ia menyerap etos kerja Jepang yang disiplin dan presisi, dua karakter yang kemudian melekat pada perjalanan profesionalnya.
Nama Besarnya Tumbuh Dari Relasi Indonesia Dan Jepang
Peran Rachmat Gobel dalam hubungan kedua negara tidak berhenti pada bisnis keluarga. Ia aktif di Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ), wadah yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang di berbagai bidang.
Karena itu, ia kerap disebut sebagai “diplomat” Indonesia-Jepang. Julukan tersebut muncul dari kemampuannya menghubungkan dua negara lewat jejaring bisnis, pendidikan, dan kebudayaan tanpa memegang jabatan resmi kedutaan.
Dedikasinya juga diakui Chuo University dan Takushoku University melalui gelar doktor kehormatan. Pengakuan itu mempertegas kedekatannya dengan Jepang dan kontribusinya yang dibangun bertahun-tahun.
Sepulang ke Indonesia pada 1989, ia masuk PT National Gobel sebagai asisten presiden direktur. Kariernya kemudian naik menjadi anggota dewan direksi pada 1991, lalu wakil presiden direktur sekaligus direktur PT National Panasonic Gobel pada 1993.
Dari Dunia Industri Ke Panggung Politik Nasional
Pengaruh Rachmat kemudian meluas ke dunia usaha nasional saat ia dipercaya memimpin Kadin Indonesia bidang industri logam, mesin, kimia, dan elektronika pada 2002. Posisi itu menempatkannya di salah satu sektor yang paling dekat dengan pengalaman industrinya.
Tahun 2014, Presiden Joko Widodo menariknya masuk Kabinet Kerja sebagai menteri perdagangan. Jabatan itu dijalani selama sekitar setahun sebelum reshuffle kabinet menyerahkannya kepada Thomas Trikasih Lembong.
Langkah politiknya berlanjut melalui Partai Nasdem. Pada Pemilu 2019, ia maju dari daerah pemilihan Gorontalo dan meraih 146.067 suara untuk melaju ke Senayan.
| Karier Publik | Jabatan | Keterangan |
|---|---|---|
| Kadin Indonesia | Bidang industri logam, mesin, kimia, dan elektronika | Mulai 2002 |
| Kabinet Kerja | Menteri Perdagangan | Diangkat pada 2014, bertahan setahun |
| DPR | Wakil Ketua DPR | Periode 2019–2024 |
| DPR | Anggota DPR dari Gorontalo | Terpilih lagi untuk periode 2024–2029 |
Tak lama setelah dilantik, ia dipercaya menjadi wakil ketua DPR periode 2019–2024 mendampingi Puan Maharani. Di Gorontalo, ia juga menerima gelar kehormatan Ti Bulilango Hunggia, yang berarti “Pemberi Cahaya Negeri”.
Rachmat kembali terpilih sebagai anggota DPR untuk periode 2024–2029 dari dapil Gorontalo. Namun, perjalanan panjang di industri, diplomasi sosial, dan politik itu kini terhenti setelah kabar wafatnya menyebar pada Jumat dini hari.
Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Jalan Supomo Nomor 55A, Jakarta Selatan, sebelum rencananya diberangkatkan untuk dimakamkan di Gorontalo. Kepergiannya meninggalkan warisan yang kuat sebagai pengusaha, tokoh relasi Indonesia-Jepang, dan figur politik nasional.
Source: www.beritasatu.com






