Rachmat Gobel kembali dikenang lewat kritik kerasnya terhadap cara Indonesia melindungi pasar dalam negeri dari arus produk impor. Ia menilai ruang yang terlalu longgar membuat produk lokal harus bersaing dalam kondisi yang tidak seimbang.
Pandangan itu kembali menjadi perhatian setelah kepergiannya pada Jumat (10/7/2026), ketika publik menyoroti lagi gagasan-gagasan Gobel soal daya saing industri nasional. Salah satu pokok yang paling sering dibahas adalah alasan mengapa produk impor bisa tampil lebih murah di pasar Indonesia.
Biaya Produksi dan Regulasi Jadi Titik Lemah
Gobel menilai persoalan utama ada pada struktur biaya produksi di dalam negeri. Menurutnya, harmonisasi tarif dibutuhkan agar komponen yang dibuat di Indonesia tidak menjadi terlalu mahal dan pada akhirnya mendorong harga jual produk lokal naik.
Ia bahkan menyebut dalam kondisi tertentu, impor komponen bisa lebih masuk akal daripada memproduksinya di dalam negeri jika beban biayanya tidak rasional. Dalam tayangan YouTube BeritaSatu, Gobel mengatakan, “Misalnya kita bikin komponen dalam negeri, kita lebih baik impor komponen daripada kita bikin komponen dalam negeri. Harmonisasi tarif itu diperlukan.”
Selain biaya, Gobel juga menyoroti harmonisasi regulasi. Ia menilai kebijakan di Indonesia perlu saling mendukung agar industri nasional bisa tumbuh tanpa terus terbebani aturan yang saling bertabrakan.
Produk Lokal Diminta Lebih Dilindungi
Dalam pandangannya, dominasi produk Tiongkok di pasar domestik menjadi tantangan yang makin berat bagi industri nasional. Namun, ia percaya produk lokal masih bisa menang jika disokong inovasi, layanan purna jual yang kuat, dan jaringan pasar yang konsisten.
Gobel menegaskan bahwa produk lokal tidak hanya menjual barang, tetapi juga memikul tanggung jawab jangka panjang kepada konsumen Indonesia. Karena itu, after-sales service menurutnya bukan pelengkap, melainkan bagian dari tanggung jawab industri.
| Strategi yang Disorot Gobel | Fokus Utama |
|---|---|
| Inovasi produk | Membuat produk lokal lebih kompetitif |
| After-sales service | Menjaga kepercayaan konsumen jangka panjang |
| Jaringan pasar | Memastikan produk hadir secara konsisten di pasar |
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan pasar melalui penerapan SNI wajib. Menurut Gobel, produk dalam negeri harus tunduk pada standar tersebut, sementara produk impor tidak selalu menghadapi kewajiban yang sama.
Gobel menambahkan bahwa industri nasional juga harus menghadapi serbuan produk impor berkualitas rendah seperti KW Super, KW 2, dan KW 3. Ia meyakini pengawasan dan regulasi impor yang lebih ketat akan membuka peluang lebih besar bagi produk lokal untuk bersaing di negeri sendiri.
Defisit Perdagangan Memperkuat Kekhawatiran
Data Badan Pusat Statistik pada Mei 2026 menunjukkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit terdalam hingga US$1,61 miliar. Kerugian terbesar dalam perdagangan itu disebut berasal dari transaksi dengan Tiongkok.
Di tengah kondisi tersebut, Gobel pernah menegaskan perlunya memberi kemudahan sebesar mungkin kepada industri dalam negeri agar mereka mendapat kesempatan mengisi pasar nasional. Ia juga menyebut Indonesia “terlalu banyak bebasnya” saat membandingkan pengelolaan produk impor dengan praktik di luar negeri.
“Berikan kemudahan sebesar mungkin kepada para industri di dalam negeri, kesempatan untuk mengisi pasar dalam negeri. Saya perhatikan di luar negeri ya, Indonesia saja yang terlalu banyak bebasnya. Makanya saya waktu itu sangat ketat mengelola produk impor untuk memberikan kesempatan kepada produk dalam negeri,” pungkasnya.
Gagasan itu menjadi bagian penting dari warisan pemikiran Gobel di bidang ekonomi dan perdagangan. Saat industri lokal masih menghadapi tekanan dari barang impor, pesan utamanya tetap sama: pasar dalam negeri perlu dijaga agar produk Indonesia tidak kalah sebelum bertarung.
Source: www.viva.co.id






