
Selama puluhan tahun, quantum computing hidup dalam satu janji yang sama: selalu sepuluh tahun lagi. Kini, janji itu mulai bergeser menjadi persoalan infrastruktur, karena mesin kuantum tidak lagi dibicarakan hanya sebagai eksperimen laboratorium, tetapi sebagai sistem yang bisa diukur, diuji, dan dihubungkan ke pusat data.
Perubahan ini penting karena fokus industri ikut berubah. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah komputer kuantum bisa dibuat, melainkan kapan teknologi ini mulai relevan untuk pengembangan perangkat lunak, operasi pusat data, dan anggaran komputasi.
Dari hype panjang ke sinyal kematangan
Akar perhatian besar terhadap komputasi kuantum sudah muncul sejak 1994, ketika matematikawan Peter Shor menunjukkan bahwa komputer kuantum dapat memfaktorkan bilangan besar cukup cepat untuk mengancam enkripsi yang melindungi sebagian besar internet. Temuan itu memicu gelombang riset modern dan membentuk ekspektasi tinggi terhadap teknologi ini.
Namun, membangun mesin yang benar-benar berguna jauh lebih sulit. Komputer kuantum membutuhkan ribuan hingga jutaan qubit, sementara tingkat kesalahan masih sulit ditekan dan koreksi kesalahan memerlukan overhead yang sangat besar.
Lembaga akademik dan konsultan berulang kali menempatkan teknologi ini jauh dari komersialisasi. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine mencatat quantum computing masuk daftar teknologi baru Gartner 11 kali antara 2000 dan 2017, dan selalu diposisikan lebih dari 10 tahun dari komersialisasi.
Pada 2018, National Academies menyimpulkan masih ada masalah teknis dan finansial yang signifikan untuk membangun komputer kuantum besar yang tahan gangguan. Boston Consulting Group pada tahun yang sama juga menilai dampak penuh quantum computing kemungkinan masih lebih dari satu dekade lagi, meski gangguan yang lebih dekat mulai terasa.
Tiga titik balik yang mengubah arah industri
Persepsi mulai berubah ketika capaian teknis tidak lagi dibaca semata sebagai pencapaian fisika. Pada Oktober 2019, Google melaporkan prosesor Sycamore menyelesaikan tugas dalam sekitar 200 detik, sementara estimasi perusahaan menyebut superkomputer klasik akan membutuhkan sekitar 10.000 tahun.
Google menyebut capaian itu quantum supremacy, meski IBM menilai klaim tersebut terlalu dibesar-besarkan. Perdebatan itu justru menegaskan besarnya minat komersial pada bidang ini dan menunjukkan kendali yang jauh lebih baik atas 53 qubit yang bekerja bersama.
Lompatan berikutnya datang pada Desember 2024, ketika Google memperkenalkan Willow, chip 105-qubit yang diklaim mampu menurunkan kesalahan secara eksponensial saat diskalakan. Chip itu juga menyelesaikan komputasi benchmark dalam kurang dari lima menit, sementara superkomputer disebut akan memerlukan 10 septillion tahun.
Yang paling penting dari Willow bukan hanya benchmark tersebut. Capaian “di bawah ambang batas” dalam koreksi kesalahan menjadi sinyal besar, karena target itu sudah dikejar sejak 1990-an dan untuk pertama kalinya mesin kuantum dikatakan berhasil mencapainya.
Pada Februari 2025, Microsoft meluncurkan Majorana 1 dengan arsitektur Topological Core. Perusahaan itu mengatakan chip tersebut bisa mengarah ke komputer kuantum yang menyelesaikan masalah skala industri dalam hitungan tahun, bukan dekade.
Komputasi kuantum mulai masuk pusat data
Pergeseran paling nyata justru terjadi saat teknologi ini mulai ditempatkan di lingkungan komputasi nyata. IBM membawa komputer kuantum pertama ke cloud pada 4 Mei 2016, memakai prosesor lima qubit yang bisa diakses siapa saja lewat internet.
Dari sana, ekosistem pengembang terbentuk. Satu dekade kemudian, cloud IBM memiliki 240.000 pengguna dan jaringan 300 mitra ekosistem, sementara peta jalannya meluas hingga awal 2030-an.
IBM menargetkan komputer kuantum fault-tolerant pertamanya, Starling, hadir pada 2029 dengan 200 qubit dan 100 juta gate. Pada 2033, perusahaan itu membayangkan sistem 2.000 qubit bernama Blue Jay yang mampu menjalankan satu miliar gate.
Pada konferensi pengembang kuantum di November 2025, IBM juga memaparkan progres menuju quantum advantage pada akhir 2026 dan quantum computing tahan gangguan pada 2029. Bersama RIKEN, IBM meresmikan IBM Quantum System Two pertama di luar Amerika Serikat, yang ditempatkan berdampingan dengan superkomputer Fugaku milik RIKEN.
Keduanya menjalankan masalah kimia kuantum dalam alur tertutup, dengan data mengalir bolak-balik tanpa putus. Langkah ini menandai perubahan penting karena komputer kuantum tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari arsitektur komputasi yang lebih luas.
Dari fisika ke infrastruktur komputasi
NVIDIA ikut memperkuat arah baru itu lewat Ising, keluarga model AI kuantum sumber terbuka yang ditujukan untuk beban kerja seperti kalibrasi dan decoding. Tujuannya adalah membantu mengotomatisasi penyetelan prosesor kuantum dan mempercepat koreksi kesalahan waktu nyata.
Pendekatan ini bergantung pada GPU untuk menangani hambatan klasik yang selama ini membatasi perangkat keras kuantum. Model tersebut terhubung ke platform CUDA-Q dan interkoneksi perangkat keras NVQLink untuk menghubungkan prosesor kuantum dengan sistem GPU.
McKinsey pada 2020 memperkirakan akan ada 5.000 komputer kuantum operasional pada 2030. Namun, hardware dan software untuk menangani masalah paling kompleks mungkin baru siap pada 2035 atau lebih lama.
Perbedaan terbesarnya kini ada pada konteks penggunaan. Mesin yang muncul pada 2026 tidak lagi diperlakukan sebagai prototipe laboratorium yang menunggu terobosan fisika, melainkan sebagai prosesor yang dipasang di pusat data dan bekerja bersama CPU serta GPU yang sudah menopang komputasi modern.





