Perluasan QRIS Antarnegara ke Cina membuka babak baru bagi pembayaran digital Indonesia. Jalur transaksi lintas negara itu bukan hanya memudahkan wisatawan, tetapi juga berpotensi memperbesar arus belanja dua arah yang selama ini masih terhambat biaya konversi dan kerumitan pembayaran.
Bank Indonesia memperluas kerja sama dan interkoneksi QRIS Antarnegara ke pasar Cina per 30 April 2026. Langkah ini memperkuat posisi pembayaran digital Indonesia di tengah arus wisata dan mobilitas yang makin aktif antara Indonesia dan Cina.
Biaya pembayaran bisa lebih ringkas
Salah satu dampak paling nyata dari konektivitas ini adalah berkurangnya biaya konversi ganda. Skema Local Currency Transaction memungkinkan rupiah dan yuan dipertemukan secara langsung tanpa harus melewati mata uang ketiga.
Dengan mekanisme itu, pembayaran menjadi lebih sederhana dan risiko fluktuasi nilai tukar ikut menurun. Bagi pelaku usaha, terutama yang berhadapan langsung dengan pembeli lintas negara, efisiensi ini bisa terasa lebih cepat di transaksi harian.
UMKM dan sektor wisata jadi yang paling dekat merasakan
Manfaat QRIS Antarnegara diperkirakan paling cepat dirasakan oleh pelaku ritel, pariwisata, dan UMKM. Saat pembayaran cukup dilakukan dengan memindai kode QR, proses belanja menjadi lebih praktis bagi turis asing maupun warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi QRIS dari turis asing yang masuk ke Indonesia tumbuh 222% secara tahunan dengan nominal mencapai Rp713,59 miliar. Angka itu memberi sinyal bahwa pasar pembayaran lintas negara memang sudah punya ruang tumbuh yang besar.
Arus wisata dua arah ikut mendorong kebutuhan
Statistik BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara dari Cina ke Indonesia menembus 1,5 juta kunjungan per tahun. Di sisi lain, Cina juga menjadi destinasi penting bagi warga Indonesia untuk dagang, hiburan, pendidikan, dan wisata.
Pola perjalanan seperti ini membuat kebutuhan transaksi cashless semakin relevan. Wisatawan dari kedua negara cenderung terbiasa memakai pembayaran digital, sehingga QRIS Antarnegara hadir di momen yang tepat untuk menjawab kebiasaan itu.
Bank sentral masih punya pekerjaan teknis dan edukasi
Di balik kemudahan yang ditawarkan, kerja sama ini tetap bergantung pada kesiapan teknis dan pengawasan yang ketat. Bank Indonesia menjalankan peran sebagai penghubung kebijakan, mulai dari negosiasi, penyelarasan standar sistem, hingga penjagaan keamanan siber.
Visi Regional Payment Connectivity yang sebelumnya memperkuat konektivitas pembayaran di kawasan Asean kini bergerak lebih jauh ke Asia Timur. Namun, perluasan itu tetap menuntut diplomasi yang konsisten dan sistem yang andal agar layanan benar-benar siap dipakai publik.
Edukasi pengguna masih jadi tantangan utama
Tantangan berikutnya datang dari sisi pemahaman pengguna. Edukasi kepada pekerja migran, turis, dan pelaku UMKM masih dibutuhkan agar masyarakat yakin pada keandalan dan keamanan sistem pembayaran lintas negara ini.
Di Cina sendiri, karakter penggunaan pembayaran digital juga tidak seragam di semua tempat. Meski dikenal cashless, masih ada warung kecil di sejumlah wilayah yang terbiasa menerima QR code domestik personal, sehingga adaptasi ke QR code komersial internasional tetap memerlukan penyesuaian.
PR di dalam negeri belum selesai
Indonesia juga masih menghadapi pekerjaan rumah serupa dalam perluasan QRIS di dalam negeri. Sejumlah kedai dan toko, terutama di daerah wisata unggulan, belum seluruhnya teraktivasi sehingga onboarding merchant tetap perlu diperluas.
Jika edukasi, keamanan, dan keandalan sistem bisa dijaga, manfaat QRIS Antarnegara tidak hanya berhenti di pusat kota. Peluang terbesar justru ada pada pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal dan paling sering bersentuhan dengan wisatawan.
Pembukaan konektivitas ke Cina menunjukkan bahwa pembayaran digital kini bergerak dari sekadar inovasi teknis menjadi infrastruktur ekonomi yang memengaruhi arus belanja, wisata, dan aktivitas harian. Tantangan berikutnya adalah memastikan koneksi itu benar-benar mudah dipakai, aman, dan berkelanjutan.
Source: finansial.bisnis.com






