
PWM Jawa Tengah mendorong penguatan International Class Program (ICP) di sekolah Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya memperkuat mutu pendidikan dan daya saing global. Langkah ini dibahas dalam workshop bertema “Elevating ICP Excellence: Global Benchmarking, Digital Transformation, and Pedagogical Mastery” yang digelar di Aston Solo Hotel, Surakarta, dan diikuti lebih dari 200 peserta.
Peserta berasal dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta guru IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Forum ini menekankan bahwa ICP tidak boleh berhenti sebagai label kelas internasional, tetapi harus menjadi proses peningkatan kualitas yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan.
Target 35 sekolah ICP
Sekretaris Majelis Dikdasmen & PNF PWM Jawa Tengah, Rohmat Suprapto, menyebut pengembangan ICP sebagai program prioritas. Ia menegaskan target strategis PWM Jawa Tengah adalah memiliki minimal 35 sekolah ICP yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan.
Rohmat juga menempatkan ICP sebagai fondasi menuju International School of Muhammadiyah di masa depan. Karena itu, penguatan program ini didorong berjalan bersamaan dengan peningkatan sekolah menuju kategori unggul dan premium.
Menurut Rohmat, transformasi yang dibutuhkan tidak hanya menyentuh isi pembelajaran. Perubahan juga perlu terjadi pada tata kelola sekolah, penguatan sumber daya manusia, digitalisasi layanan pendidikan, dan pembentukan karakter siswa.
Tiga pilar pengembangan
PWM Jawa Tengah menempatkan pengembangan sekolah Muhammadiyah pada tiga pilar utama, yaitu keunggulan akademik, keterampilan masa depan, dan keunggulan karakter. Kerangka ini disiapkan agar sekolah lebih adaptif menghadapi tantangan pendidikan global.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Alpha Amirrachman, menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah harus dipahami sebagai strategi peningkatan mutu menyeluruh. Ia mengingatkan bahwa pendekatan itu tidak cukup jika hanya diwujudkan lewat istilah “kelas internasional” atau “bilingual”.
Alpha menjelaskan bahwa ICP menggabungkan kurikulum nasional, standar global, serta nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Dalam paparannya, ia menyebut tiga pilar utama ICP, yakni global benchmarking, digital transformation, dan pedagogical mastery.
Standar global sebagai alat ukur
Pada aspek global benchmarking, sekolah didorong memakai acuan internasional seperti Global Scale of English (GSE) dan Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Dua standar itu dipakai sebagai alat ukur objektif untuk melihat capaian pembelajaran.
Pendekatan ini dimaksudkan agar sekolah dapat memetakan kemampuan secara lebih jelas dan tidak hanya bergantung pada penilaian umum. Dengan begitu, kualitas guru dan lulusan bisa dilihat melalui data yang lebih terukur.
Transformasi digital juga mendapat perhatian besar dalam workshop tersebut. Pemanfaatan teknologi diposisikan untuk mendukung pembelajaran, asesmen, dan manajemen sekolah berbasis data agar proses pendidikan berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.
Pembelajaran yang berpusat pada siswa
Di sisi pedagogi, workshop menekankan pergeseran ke student-centered learning. Pendekatan active learning dan deep learning dipandang penting agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga memahami konsep secara lebih mendalam.
Dalam sesi materi untuk guru Bahasa Inggris, Tina Priyantin menyoroti perlunya pembelajaran yang mendorong pemahaman konseptual. Ia juga memperkenalkan penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI sebagai alat bantu asesmen modern, termasuk untuk placement test, progress monitoring, dan automated progression.
Untuk guru IPA dan Matematika, Hana Sofiyana membahas pentingnya menggabungkan pemahaman konseptual, berpikir kritis, dan teknologi. Ia juga menekankan asesmen berbasis teknologi sebagai cara untuk mengukur capaian belajar siswa secara lebih akurat dan berkelanjutan.
Pengelolaan sekolah berbasis data
Pada sesi untuk kepala sekolah, Iin Hermiyanto menekankan pentingnya strategic management dalam pengelolaan ICP. Ia membahas perbedaan ICP dengan kelas berbasis kurikulum internasional dan menyoroti perlunya data-driven school management.
Dalam sesi itu, GSE juga dibahas sebagai salah satu alat untuk mengukur kompetensi guru dan kualitas lulusan secara objektif. Selain itu, peserta mendapat perhatian pada strategi branding dan keberlanjutan program agar ICP tidak hanya kuat dalam promosi, tetapi juga kokoh dalam pelaksanaan.
Rencana tindak lanjut yang bertahap
Workshop ini ditutup dengan penyusunan action plan dan refleksi bersama. Peserta diminta merumuskan langkah konkret untuk mengembangkan ICP di sekolah masing-masing, mulai dari pemetaan kesiapan hingga penguatan kapasitas guru.
Roadmap pengembangan disusun melalui tiga tahap, yaitu readiness, capacity building, dan scaling. Alur ini dipakai agar pengembangan ICP berjalan terukur, bertahap, dan sesuai kebutuhan sekolah.
Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi Majelis Dikdasmen & PNF PWM Jawa Tengah dengan Pearson, CNL Books, dan Praxis Publishing Singapore. Melalui kerja sama itu, PWM Jawa Tengah memperkuat arah pengembangan ICP tanpa meninggalkan identitas nilai yang menjadi ciri pendidikan Muhammadiyah.
Source: suaraaisyiyah.id




