Putin Kini Lebih Banyak Meminta ke Xi Jinping, Rusia Makin Tergantung pada Beijing

Hubungan Vladimir Putin dan Xi Jinping kini terlihat semakin timpang. Jika dulu Putin pernah dipandang sebagai panutan, posisi Rusia sekarang justru makin lemah di hadapan Beijing.

Empat tahun perang di Ukraina dan tekanan ekonomi dari Barat membuat Moskow semakin bergantung pada Tiongkok. Di banyak isu strategis, Putin datang dengan kebutuhan yang besar, sementara Xi bisa memilih kapan memberi dan kapan menahan.

Proyek Gas Besar yang Tak Mulus

Salah satu tanda paling jelas muncul saat kunjungan ke-14 Putin ke Tiongkok pada Mei lalu. Moskow datang dengan harapan besar untuk mengamankan proyek pipa gas alam Power of Siberia 2, tetapi hasilnya jauh dari yang diinginkan.

Pejabat Tiongkok disebut hanya bersedia melanjutkan kesepakatan jika Rusia menjual gas dengan harga sangat rendah, setara tarif domestik di Rusia. Artinya, Beijing meminta Kremlin ikut menanggung beban proyek tersebut.

Putin memang pulang dengan 42 perjanjian, tetapi kesepakatan pipa gas yang paling dibutuhkan Moskow tidak ikut masuk daftar. Joerg Wuttke, eksekutif bisnis veteran di Tiongkok, menggambarkan situasi itu dengan kalimat tajam, “Xi menerima Putin seperti seorang kaisar menerima tamu di istananya, lalu menyuruhnya pulang.”

Ketergantungan Rusia Semakin Dalam

Perubahan posisi Rusia terlihat dari angka perdagangan. Pada 2013, Tiongkok menyumbang 10% dari total perdagangan Rusia, tetapi kini porsinya melonjak hingga hampir 40%.

Rusia juga bergantung pada Tiongkok untuk sepertiga pendapatan ekspornya. Sebaliknya, Rusia hanya menyumbang kurang dari 4% dari total perdagangan Tiongkok, sehingga hubungan kedua negara berjalan sangat timpang.

Indikator2013Kondisi Kini
Porsi Tiongkok dalam perdagangan Rusia10%Hampir 40%
Ketergantungan Rusia pada TiongkokTidak disebutSepertiga pendapatan ekspor
Porsi Rusia dalam perdagangan TiongkokTidak disebutKurang dari 4%

Ketimpangan itu juga meluas ke sektor keuangan. Moskow akhirnya menyetujui penggunaan yuan sebagai mata uang utama untuk bank pembangunan regional di bawah Shanghai Cooperation Organization (SCO), keputusan yang selama lebih dari satu dekade ditolak Rusia demi menjaga pengaruhnya di Asia Tengah.

Beijing Menekan Tanpa Merusak Etiket

Sejumlah ahli memperingatkan bahwa Tiongkok tidak boleh terlalu menekan Rusia. Sejarah 1960-an menunjukkan bahwa sikap dominan Uni Soviet terhadap Tiongkok justru menghancurkan aliansi mereka pada masa itu.

Karena itu, Xi tampaknya memilih pendekatan yang lebih halus. Ia tetap memperlakukan Putin dengan hormat di depan publik, sambil menekan secara lebih agresif di balik layar.

Mediaindonesia.com mencatat strategi ini terlihat efektif karena Putin masih mendapat panggung politik, meski ruang geraknya makin menyempit. Beijing tampak tidak ingin mengulang kesalahan lama, tetapi tetap memanfaatkan kelemahan Rusia semaksimal mungkin.

Retakan di Isu Korea Utara

Hubungan kedua negara juga mulai menegang di isu lain, terutama terkait Korea Utara. Beijing merasa tidak nyaman dengan pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia di Ukraina.

Tiongkok khawatir transfer teknologi militer Rusia ke Pyongyang akan mendorong Korea Selatan dan Jepang makin dekat dengan Amerika Serikat. Situasi itu justru bisa merusak strategi regional Beijing sendiri.

Bahkan, Tiongkok sempat meminta Putin agar tidak langsung mengunjungi Pyongyang setelah dari Beijing. Langkah itu dimaksudkan untuk menghindari narasi poros otoriter yang ingin dijauhkan Xi Jinping dari sorotan publik.

Masa Depan yang Semakin Tidak Seimbang

Para analis menilai Tiongkok sedang memainkan strategi jangka panjang dengan menunggu ekonomi Rusia terus melemah. Dalam skenario itu, Moskow pada akhirnya bisa lebih mudah menerima syarat yang sepenuhnya menguntungkan Beijing.

Alexander Gabuev dari Carnegie Russia Eurasia Center menyebut Tiongkok berpeluang mengubah Rusia menjadi semacam Laos raksasa atau Pakistan raksasa. Gambaran itu merujuk pada negara yang sangat bergantung, terkoneksi erat, dan melihat Tiongkok sebagai model modernitas sekaligus sumber utama kelangsungan hidup ekonomi.

Dengan tekanan perang, ketergantungan dagang, dan retakan di sejumlah isu regional, posisi Rusia dalam kemitraan ini tampak makin jauh dari seimbang. Sementara itu, Xi tetap berada di kursi pengendali yang lebih nyaman untuk menentukan kapan harus memberi dan kapan menahan.

Ringkasan Ketimpangan Rusia-Tiongkok

IsuPosisi RusiaPosisi Tiongkok
PerdaganganMakin bergantungMitra jauh lebih dominan
Proyek gasMembutuhkan kesepakatanMenekan harga sangat rendah
Politik regionalRuang gerak menyempitMenjaga etiket sambil menekan
Korea UtaraMemicu kekhawatiran BeijingMenghindari dampak strategis

Dalam keadaan seperti ini, hubungan Putin dan Xi bukan lagi sekadar kemitraan setara. Beijing semakin sering berada di posisi yang meminta, sementara Moskow harus mencari cara agar tetap terlihat punya daya tawar.

Source: mediaindonesia.com
Terkait