Puluhan tenaga kesehatan dan petugas penanganan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo menghentikan pekerjaan mereka setelah gaji dan insentif selama dua bulan belum juga dibayar. Aksi ini terjadi di tengah upaya negara itu menahan wabah yang masih meluas dan menambah tekanan pada layanan kesehatan di lapangan.
Mogok kerja berlangsung di Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri, yang menjadi salah satu pusat penanganan wabah. Para peserta aksi terdiri atas ahli epidemiologi, petugas pelacakan kasus, sopir ambulans, hingga petugas pemakaman.
Protes di depan rumah sakit
Dalam aksi tersebut, para tenaga kesehatan menutup akses rumah sakit, memblokade jalan menuju fasilitas kesehatan, dan membakar ban. Bahati Claude, salah satu petugas kesehatan di Rumah Sakit Umum Rwampara, mengatakan mereka sebenarnya tidak ingin berhenti bekerja meski pembayaran belum diterima.
“Kami tidak tahu bagaimana mungkin kami belum dibayar selama dua bulan. Kami tidak ingin berhenti bekerja,” kata Bahati kepada AP.
| Lokasi | Peserta Aksi | Bentuk Protes |
|---|---|---|
| Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri | Ahli epidemiologi, petugas pelacakan kasus, sopir ambulans, petugas pemakaman | Menutup akses rumah sakit, memblokade jalan, membakar ban |
Wabah masih bergerak di beberapa provinsi
Situasi ini terjadi saat Republik Demokratik Kongo masih berupaya menekan penyebaran virus ebola jenis Bundibugyo sejak Mei 2026. Jenis virus ini belum memiliki pengobatan maupun vaksin yang disetujui, sehingga respons kesehatan sangat bergantung pada kesiapan tenaga di lapangan.
Pekan lalu, Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba mengatakan wabah telah meluas ke dua provinsi tambahan. Ia juga menyebut pemerintah sedang memverifikasi daftar tenaga kesehatan dan petugas penanganan yang terlibat setelah ditemukan sejumlah nama yang tidak berkaitan dengan operasi penanganan ebola masuk ke daftar penerima gaji.
“Kita harus memastikan bahwa pembayaran ini sampai kepada orang yang tepat,” ujar Kamba. “Kami telah menghadapi beberapa tantangan, terutama perubahan pada daftar yang telah menyebabkan keluhan dari orang-orang yang mengatakan mereka tidak dibayar meskipun mereka bekerja. Kami memiliki cara untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tekanan di tengah angka kasus tinggi
Berdasarkan data otoritas kesehatan Kongo, wabah ebola di negara itu telah mencatat 1.926 kasus positif terkonfirmasi dengan 702 kematian. Angka tersebut menunjukkan beban besar yang masih harus ditangani, sementara sebagian petugas justru memilih mogok karena hak mereka belum diterima.
Rumah Sakit Umum Rwampara berbeda dengan pusat perawatan kasus ebola lain di Provinsi Ituri yang baru memulai uji klinis dua kandidat terapi ebola pada awal bulan ini. Di tengah kebutuhan respons yang cepat, persoalan administrasi gaji ikut mengganggu jalannya penanganan wabah.
Source: www.beritasatu.com






